Iklan

Umat Buddha Banyumas Peringati Asalha Puja di Wihara Setiya Dana

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Umat Buddha memperingati Hari Raya Asalha Puja di Wihara Setiya Dana, Desa Selanegara, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, Minggu (6/9).

Peringatan tersebut berlangsung khidmat dan diikuti umat Buddha dari sejumlah daerah.

Asalha Puja merupakan salah satu hari suci dalam tradisi umat Buddha.

Peringatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang peristiwa penting dalam sejarah ajaran Buddha, yakni ketika Sang Buddha Gautama membabarkan Dhamma kepada para pengikutnya sekitar 2.570 tahun lalu.

Kegiatan di Wihara Setiya Dana tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang sejarah penyebaran Dhamma, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat untuk kembali menghayati nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Hermawan Setya Atmoko, mengatakan rangkaian peringatan Asalha Puja diawali dengan menyalakan lilin dan dupa di altar.

Kedua perlengkapan tersebut memiliki makna simbolis dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan umat Buddha.

“Lilin merupakan perlambang cahaya, sedangkan dupa menjadi simbol pemujaan,” kata Hermawan di lokasi.

Prosesi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang diikuti umat secara tertib dan penuh penghormatan.

Setelah prosesi awal, umat mengikuti kegiatan keagamaan sebagai bentuk penghayatan terhadap ajaran Dhamma.

Suasana khidmat terlihat sepanjang pelaksanaan peringatan. Umat mengikuti setiap tahapan kegiatan dengan penuh perhatian.

Menurut Hermawan, peringatan Asalha Puja tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial tahunan.

Lebih dari itu, peringatan menjadi kesempatan bagi umat Buddha untuk kembali mengingat dan menghayati inti ajaran Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha.

Nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, peringatan hari suci tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat perilaku kebajikan.

“Peringatan Asalha Puja bukan sekadar kegiatan seremonial,” ujar Hermawan.

Ia menjelaskan, ajaran Buddha menekankan pentingnya kebajikan dan perbuatan baik.

Karena itu, peringatan hari suci dapat menjadi pengingat bagi umat untuk terus memperkuat sikap dan perilaku positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain memperingati Asalha Puja, umat Buddha di Wihara Setiya Dana juga melaksanakan Pattidana.

Pattidana menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan doa kepada para leluhur.

Doa tersebut ditujukan kepada arwah leluhur dari keluarga masing-masing maupun leluhur Nusantara.

“Pattidana itu memberikan doa kepada para leluhur atau arwah leluhur. Peringatan ini dihadiri oleh anggota Sangha yaitu Bhikkhu Sangha,” sambung Hermawan.

Pelaksanaan Pattidana menjadi salah satu rangkaian yang memberikan ruang bagi umat untuk mengenang leluhur dan mengungkapkan rasa bakti. Kegiatan tersebut juga diikuti dengan suasana penuh penghormatan.

Kehadiran anggota Sangha turut memberikan makna tersendiri bagi umat yang mengikuti rangkaian kegiatan di Wihara Setiya Dana.

Peringatan Asalha Puja dan Pattidana di Wihara Setiya Dana tidak hanya diikuti umat Buddha yang berasal dari Kabupaten Banyumas.

Umat Buddha dari sejumlah daerah lain turut hadir, di antaranya dari Kebumen, Cilacap, dan Wonosobo.

Mereka datang untuk mengikuti rangkaian peringatan sekaligus mendoakan para leluhur.

Kehadiran umat dari berbagai daerah menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan tersebut menjadi ruang pertemuan dan kebersamaan umat Buddha.

Mereka bersama-sama mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat.

Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap ajaran Sang Buddha, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarsesama umat.

Hermawan menekankan bahwa ajaran Buddha merupakan ajaran kebajikan yang mendorong umat untuk banyak berbuat baik.

Pelaksanaan kegiatan keagamaan juga dapat disesuaikan dengan kondisi dan kearifan lokal selama nilai-nilai utama ajaran tetap terjaga.

Menurutnya, keberadaan tradisi setempat dapat berjalan berdampingan dengan praktik keagamaan.

“Ajaran Budha ajaran kebajikan, banyak berbuat baik, melakukan ritual di zaman Budha maupun disesuaikan dengan kearifan lokal, tidak menghilangkan tradisi setempat,” tandas Hermawan.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan umat Buddha di daerah juga memiliki hubungan dengan lingkungan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Tradisi yang berkembang dapat tetap dijaga sepanjang tidak menghilangkan nilai-nilai yang menjadi dasar ajaran.

Peringatan Hari Raya Asalha Puja dan Pattidana di Wihara Setiya Dana berlangsung dalam suasana khidmat.

Umat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sebagai bentuk penghormatan terhadap ajaran Sang Buddha.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi umat untuk memperkuat penghayatan keagamaan serta menerapkan nilai kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan adanya peringatan Asalha Puja, umat Buddha diharapkan dapat terus mengingat makna penting pembabaran Dhamma sekaligus menjadikan ajaran kebajikan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sementara melalui Pattidana, umat juga mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan rasa bakti kepada para leluhur.

Kedua rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari kehidupan keagamaan umat Buddha di Wihara Setiya Dana dan berlangsung dengan penuh penghormatan. (fij/stch/dda)

Iklan