Iklan

UMKM BISA Ekspor Cetak Transaksi 4,49 Triliun pada Semester I 2026

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Program UMKM BISA Ekspor menunjukkan perkembangan positif sepanjang semester I 2026.

Program yang digagas untuk mendorong UMKM Indonesia menembus pasar ekspor tersebut berhasil mencatat transaksi sebesar US$251 juta atau sekitar Rp4,49 triliun selama Januari hingga Juni 2026.

Capaian tersebut menjadi kabar positif bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang ingin memperluas pasar hingga ke luar negeri.

Menariknya, sekitar 60-70 persen pelaku UMKM yang mendapat fasilitasi melalui program tersebut merupakan usaha yang sebelumnya belum pernah melakukan ekspor.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan nilai transaksi yang berhasil difasilitasi sepanjang enam bulan pertama 2026 sudah mencapai sekitar 84 persen dari target tahunan.

Pemerintah sebelumnya menetapkan target transaksi UMKM BISA Ekspor 2026 sebesar US$300 juta atau sekitar Rp5,36 triliun.

“Tahun ini Januari-Juni itu malah (transaksi) sudah 251 juta dolar AS. Itu UMKM yang 60-70 persen belum pernah ekspor. Kita fasilitasi dan tidak pernah ketemu, ya cuma online saja,” kata Budi dilansir, Kamis (13/8/2026).

Besarnya porsi pelaku usaha yang baru pertama kali masuk pasar ekspor menunjukkan masih terbukanya peluang bagi UMKM untuk ekspor produk lokal.

Fasilitasi pemerintah menjadi salah satu jembatan bagi pelaku usaha yang sebelumnya belum memiliki pengalaman maupun jaringan pembeli di luar negeri.

Melalui program UMKM BISA Ekspor, pelaku usaha mendapatkan akses menuju jaringan 46 perwakilan perdagangan Indonesia di 33 negara.

Jaringan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli di negara tujuan.

Pelaku UMKM juga dapat mempresentasikan produk mereka kepada Atase Perdagangan maupun Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Setelah itu, pelaku usaha berpotensi dipertemukan dengan calon buyer atau pembeli dari pasar internasional sesuai dengan produk yang ditawarkan.

Fasilitas tersebut menjadi penting karena salah satu tantangan bisnis UMKM yang ingin melakukan ekspor adalah menemukan pasar dan calon pembeli yang tepat.

Dengan adanya jaringan perdagangan Indonesia di berbagai negara, pelaku usaha bisa mendapatkan informasi mengenai kebutuhan pasar sekaligus karakter konsumen di negara tujuan.

Capaian semester I 2026 juga menunjukkan peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan transaksi yang difasilitasi sepanjang 2025.

Pada tahun lalu, program tersebut mencatat transaksi sebesar US$134,87 juta atau sekitar Rp2,41 triliun dari 1.217 pelaku usaha.

Dengan demikian, nilai transaksi yang dicatat sepanjang enam bulan pertama 2026 sudah jauh melampaui capaian program selama 2025.

Kondisi ini menunjukkan semakin banyak produk UMKM yang memiliki peluang untuk masuk dan berkembang di pasar internasional.

Budi juga melihat perkembangan perdagangan elektronik atau e-commerce sebagai peluang baru bagi UMKM untuk memperkenalkan produk ke pasar global.

Transaksi yang awalnya dilakukan dalam skala kecil melalui platform digital dapat berkembang menjadi hubungan bisnis yang lebih besar dan berujung pada kegiatan ekspor.

Menurutnya, pemanfaatan platform digital dapat membantu UMKM memperluas jangkauan pemasaran tanpa harus langsung memiliki jaringan bisnis yang besar di luar negeri.

Produk lokal dapat diperkenalkan kepada calon konsumen maupun mitra bisnis dari berbagai negara secara lebih mudah.

Selain memanfaatkan platform digital, pelaku usaha juga dapat menggunakan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia untuk memahami karakteristik pasar negara tujuan.

Informasi tersebut penting agar produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan dan permintaan konsumen.

Pemerintah berharap semakin banyak pelaku UMKM naik kelas dan berani memanfaatkan berbagai fasilitas perdagangan yang tersedia.

Dengan begitu, produk-produk lokal tidak hanya mengandalkan pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di pasar internasional.

Program UMKM BISA Ekspor sekaligus menjadi salah satu upaya pemerintah meningkatkan kontribusi UMKM terhadap perdagangan luar negeri.

Jika target transaksi US$300 juta pada 2026 dapat tercapai, semakin banyak pelaku usaha Indonesia yang berpotensi mendapatkan akses ke pasar ekspor.

Budi berharap fasilitas yang diberikan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku usaha.

Perluasan pasar bagi produk UMKM dinilai tidak hanya memberikan peluang peningkatan omzet bagi pengusaha, tetapi juga dapat mendukung pertumbuhan nilai ekspor Indonesia.

Dengan capaian US$251 juta pada semester I 2026, program UMKM BISA Ekspor kini tinggal mengejar sekitar US$49 juta untuk mencapai target transaksi US$300 juta sepanjang tahun.

Capaian tersebut menjadi sinyal bahwa peluang ekspor produk UMKM Indonesia semakin terbuka, termasuk bagi pelaku usaha yang sebelumnya belum pernah menjual produknya ke pasar luar negeri. (*/stch/dda)

Iklan