BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II 2026 diproyeksikan mengalami perlambatan dibandingkan paruh pertama tahun ini.
Meski demikian, laju pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan masih mampu bertahan di atas 5 persen.
Senior Economist DBS Group Research, Radhika Rao, mengatakan perlambatan tersebut terutama disebabkan sejumlah faktor pendorong yang menopang perekonomian pada semester I 2026 bersifat sementara dan tidak akan kembali dengan kekuatan yang sama pada paruh kedua tahun ini.
Momentum Lebaran, stimulus pemerintah, serta tingginya realisasi belanja pemerintah pada awal 2026 menjadi beberapa faktor yang sebelumnya memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi.
Ketika efek tersebut mulai mereda, pertumbuhan ekonomi diperkirakan ikut mengalami normalisasi.
“Pada semester kedua tahun ini, kami melihat pertumbuhan masih bertahan di atas lima persen, tapi beberapa faktor sementara tersebut tidak akan terulang kembali. Itulah mengapa kami memperkirakan laju pertumbuhan yang sedikit lebih lambat,” kata Radhika dalam media briefing di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Sebagai pembanding, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tercatat sebesar 5,45 persen.
Capaian tersebut menjadi salah satu dasar bagi DBS untuk melakukan revisi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.
Meski memperkirakan pertumbuhan pada semester II akan melambat, DBS justru menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk keseluruhan 2026 menjadi 5,3 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di bawah 5,3 persen.
Revisi tersebut menunjukkan bahwa kinerja ekonomi pada paruh pertama tahun ini dinilai lebih kuat dari perkiraan awal.
Radhika menjelaskan, terdapat sejumlah faktor domestik yang masih menjadi penopang perekonomian Indonesia.
Salah satunya adalah belanja pemerintah yang masih tinggi. Selain belanja pemerintah, konsumsi masyarakat juga dinilai tetap terjaga.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat DBS lebih optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini.
Konsumsi rumah tangga menjadi salah satu komponen penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menurut Radhika, daya beli masyarakat masih relatif terjaga. Salah satu faktor yang ikut mendukung kondisi tersebut adalah harga BBM subsidi yang tidak mengalami kenaikan.
Kondisi harga energi tersebut membantu menjaga tekanan terhadap pengeluaran masyarakat.
Dengan demikian, konsumsi domestik masih memiliki ruang untuk menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua 2026.
Selain konsumsi, belanja pemerintah juga menjadi faktor penting. DBS mencatat percepatan belanja pemerintah pada beberapa bulan pertama tahun ini turut memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi.
Namun, efek stimulus dan percepatan belanja tersebut tidak dapat diasumsikan terus memberikan dorongan sebesar pada semester pertama.
Karena itu, pertumbuhan ekonomi pada semester II diperkirakan akan sedikit lebih rendah dibandingkan paruh pertama.
Pandangan tersebut sejalan dengan kajian DBS sebelumnya yang memperkirakan stimulus fiskal akan berkurang pada semester II, sehingga konsumsi dan belanja pemerintah perlu tetap menjadi penopang momentum ekonomi.
Meskipun ada potensi perlambatan pada semester II 2026, DBS tetap menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun menjadi 5,3 persen.
Kenaikan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa perlambatan yang diperkirakan terjadi pada paruh kedua tahun ini tidak dipandang sebagai penurunan tajam.
Ekonomi Indonesia masih dinilai memiliki fondasi domestik yang cukup kuat.
Permintaan dalam negeri menjadi salah satu faktor yang diharapkan mampu menjaga pertumbuhan.
Konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah menjadi dua komponen yang mendapat perhatian dalam proyeksi tersebut.
Laman DBS Group Research juga mencatat proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen untuk 2026.
Dengan demikian, meski momentum temporer dari Lebaran dan stimulus mulai berkurang, perekonomian Indonesia masih diharapkan mampu mempertahankan pertumbuhan di atas level 5 persen.
Di balik optimisme terhadap perekonomian domestik, terdapat sejumlah risiko yang dapat memengaruhi kinerja ekonomi Indonesia.
Radhika menyoroti ketidakpastian geopolitik dan perkembangan harga minyak global.
Kedua faktor tersebut sulit diprediksi dan dapat memengaruhi biaya energi serta kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan biaya impor energi Indonesia.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian, terutama apabila berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
DBS dalam analisis sebelumnya juga telah menyoroti harga energi dan kondisi fiskal sebagai tantangan yang perlu diperhatikan dalam menjaga momentum pertumbuhan Indonesia.
Karena itu, faktor domestik menjadi semakin penting. Ketika kondisi eksternal penuh ketidakpastian, pemerintah dan pembuat kebijakan dinilai memiliki ruang untuk menjaga permintaan dalam negeri.
Untuk 2027, Radhika memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,2-5,3 persen.
Proyeksi tersebut masih mengandalkan kekuatan permintaan domestik. Menurut Radhika, kondisi global seperti geopolitik dan harga minyak masih sulit dipastikan sehingga faktor dalam negeri menjadi salah satu tumpuan utama.
“Secara global, kita tidak terlalu yakin apa yang akan terjadi dengan geopolitik dan harga minyak. Namun ketika melihat faktor domestik, menurut saya di situlah pemerintah atau pembuat kebijakan dapat memberikan pengaruh,” ujarnya.
Ia menilai permintaan domestik berpotensi kembali menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027.
Proyeksi DBS tersebut sedikit berbeda dengan sejumlah proyeksi lain yang lebih optimistis terhadap pertumbuhan Indonesia.
Bank Indonesia, misalnya, sebelumnya menyampaikan proyeksi pertumbuhan 2027 dalam rentang 5,2-6 persen.
Bagi Indonesia, menjaga konsumsi dan investasi domestik akan menjadi penting ketika stimulus sementara mulai berkurang.
Kepastian kebijakan, daya beli masyarakat, serta kemampuan pemerintah menjaga belanja tetap produktif menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi keberlanjutan pertumbuhan.
Dengan proyeksi 5,3 persen pada 2026 dan 5,2-5,3 persen pada 2027, DBS melihat ekonomi Indonesia tetap memiliki prospek pertumbuhan yang relatif stabil.
Tantangannya adalah menjaga momentum tersebut ketika dukungan dari faktor temporer seperti Lebaran dan stimulus mulai memudar, sekaligus menghadapi ketidakpastian ekonomi global. (*/stch/dda)