BANYUMASEKSPRES.ID, Stres sering dianggap hanya berkaitan dengan kondisi psikologis. Padahal, tekanan mental yang berlangsung terus-menerus juga dapat memengaruhi kondisi tubuh.
Hal ini tentunya termasuk memicu atau memperburuk keluhan nyeri otot dan gangguan muskuloskeletal.
Hubungan antara kesehatan mental dan fisik tersebut kembali terlihat dalam sebuah penelitian terhadap masyarakat dewasa di Malaysia.
Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara tingkat stres dengan jumlah keluhan pada sistem otot dan rangka.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memperhatikan kondisi fisik, tetapi juga perlu memperhatikan kesejahteraan mental.
Keluhan seperti nyeri leher, bahu, hingga punggung umum dialami orang dewasa. Jika berlangsung berulang atau dalam waktu lama, rasa sakit tersebut mengganggu aktivitas, konsentrasi, produktivitas, dan kualitas hidup.
Tingkat Kecemasan dan Depresi Masih Cukup Tinggi
Penelitian yang melibatkan 391 orang dewasa di Malaysia menemukan bahwa kecemasan menjadi gangguan psikologis yang paling banyak dilaporkan responden.
Prevalensinya mencapai sekitar 45 persen. Sementara itu, sebanyak 36,3 persen responden mengalami depresi dan 22,5 persen mengalami stres.
Walaupun sebagian besar peserta penelitian masih berada dalam kategori normal, angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental tetap menjadi perhatian.
Kondisi tersebut penting diperhatikan karena gangguan psikologis tidak selalu hanya terlihat melalui perubahan suasana hati.
Dalam sejumlah kondisi, tekanan mental dapat muncul bersamaan dengan keluhan fisik, seperti tubuh terasa tegang, mudah lelah, gangguan tidur, hingga munculnya rasa sakit pada bagian tubuh tertentu.
Hampir Separuh Responden Mengalami Nyeri Muskuloskeletal
Dari aspek kesehatan fisik, sebanyak 44,3 persen responden mengaku mengalami setidaknya satu keluhan muskuloskeletal dalam tujuh hari sebelum penelitian dilakukan.
Bagian tubuh yang mengalami keluhan adalah leher, bahu, dan punggung bawah. Nyeri leher dilaporkan oleh sekitar 18,2 persen responden, sedangkan keluhan bahu dan punggung bawah masing-masing mencapai 17,1 persen.
Nyeri pada bagian tubuh tersebut dapat berkaitan dengan berbagai kebiasaan sehari-hari. Selain itu, hindari kebiasaan ini dipagi hari yang bisa ganggu fungsi ginjal.
Aktivitas yang mengharuskan seseorang duduk dalam waktu lama, bekerja di depan komputer, menggunakan perangkat digital, dan kurang bergerak.
Hal ini juga bisa berkaitan dengan mempertahankan posisi tubuh tertentu dapat meningkatkan beban pada otot dan persendian.
Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor psikologis juga perlu diperhitungkan ketika membahas keluhan muskuloskeletal.
Semakin Tinggi Stres, Keluhan Fisik Bisa Bertambah
Temuan penting penelitian tersebut adalah adanya hubungan antara tingkat stres dan keluhan muskuloskeletal.
Setelah peneliti memperhitungkan sejumlah karakteristik responden, termasuk usia, etnis, status pernikahan, dan tingkat pendidikan.
Hal ini ditemukan kecenderungan bahwa tingkat stres yang lebih tinggi berkaitan dengan jumlah keluhan muskuloskeletal yang lebih banyak.
Hal ini menunjukkan bahwa stres tidak hanya menjadi persoalan emosional. Kondisi tersebut dapat berjalan beriringan dengan gangguan fisik yang dirasakan tubuh.
Salah satu penjelasannya berkaitan dengan perubahan kebiasaan ketika seseorang mengalami tekanan.
Orang yang mengalami stres dapat menjadi kurang aktif secara fisik, memiliki pola tidur yang buruk, lebih sering duduk, atau tidak memperhatikan postur tubuh saat bekerja.
Kebiasaan tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan pada otot dan memperbesar kemungkinan munculnya rasa tidak nyaman di leher, bahu, maupun punggung.
Nyeri Berkepanjangan Juga Bisa Memengaruhi Kondisi Mental
Hubungan antara stres dan nyeri tidak selalu berjalan satu arah. Keluhan fisik yang berlangsung lama juga dapat memengaruhi kondisi psikologis.
Seseorang yang terus-menerus merasakan sakit dapat mengalami kesulitan beraktivitas, tidur tidak nyenyak, hingga merasa frustrasi karena aktivitas sehari-hari menjadi terbatas.
Apabila kondisi tersebut berlangsung lama, tekanan psikologis pun dapat meningkat. Situasi ini akhirnya membentuk semacam siklus.
Stres dapat memperburuk kebiasaan yang memicu nyeri, sedangkan nyeri berkepanjangan dapat menambah beban mental.
Karena itu, menangani salah satu aspek tanpa memperhatikan aspek lainnya berpotensi membuat masalah terus berulang.
Cara Mengurangi Risiko Stres dan Nyeri Otot
Menjaga keseimbangan antara kesehatan mental dan fisik dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Seseorang yang bekerja sambil duduk dapat menyempatkan diri berdiri dan melakukan peregangan secara berkala.
Aktivitas fisik rutin sesuai kemampuan, tidur yang cukup, menjaga postur ketika bekerja, serta mengatur waktu istirahat juga penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh.
Di sisi lain, pengelolaan stres perlu menjadi bagian dari rutinitas. Melakukan aktivitas yang menyenangkan, mengatur beban pekerjaan, dan melakukan teknik relaksasi.
Serta tidak lupa menjaga hubungan sosial dapat membantu seseorang menghadapi tekanan sehari-hari.
Jika nyeri terus berlangsung, semakin berat, atau mengganggu aktivitas, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.
Pada akhirnya, kesehatan mental dan kesehatan fisik merupakan dua aspek yang saling berhubungan. Memperhatikan keduanya menjadi langkah penting menjaga produktivitas sekaligus kualitas hidup. (*/nds)