Iklan

Harga BBM Terbaru Agustus 2026: Pertamax Rp15.950, Pertamax Turbo Turun Rp1.000 per Liter

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kembali mengalami penyesuaian pada awal Agustus 2026.

PT Pertamina Patra Niaga resmi menurunkan harga sejumlah produk BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax yang kini dijual Rp15.950 per liter.

Penurunan harga tersebut dipastikan berkaitan langsung dengan melemahnya harga minyak mentah dunia dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa mekanisme penetapan harga BBM nonsubsidi memang mengikuti perkembangan harga minyak di pasar internasional atau Indonesian Crude Price (ICP).

Karena itu, ketika harga minyak dunia mengalami penurunan, harga BBM nonsubsidi di dalam negeri juga ikut disesuaikan.

“Menyangkut dengan BBM yang nonsubsidi itu harganya memang mengikuti harga pasar dunia atau ICP,” kata Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Menurut Bahlil, penurunan harga BBM nonsubsidi merupakan konsekuensi dari turunnya harga minyak mentah global.

Dalam perdagangan internasional, harga minyak Brent tercatat turun sebesar US$4,08 atau sekitar 4,64 persen menjadi US$83,85 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga melemah sebesar US$4,01 atau sekitar 4,74 persen menjadi US$80,66 per barel.

Penurunan harga minyak tersebut memberikan ruang bagi badan usaha penyedia BBM untuk melakukan penyesuaian harga jual kepada masyarakat.

Oleh sebab itu, PT Pertamina Patra Niaga resmi memberlakukan harga baru BBM nonsubsidi mulai 1 Agustus 2026.

Dalam penyesuaian terbaru, harga Pertamax RON 92 turun sebesar Rp300 per liter dari sebelumnya Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter.

Penurunan terbesar terjadi pada Pertamax Turbo yang kini dijual Rp18.300 per liter setelah sebelumnya berada di angka Rp19.300 per liter atau turun Rp1.000.

Sementara itu, Pertamax Green 95 juga mengalami penurunan harga sebesar Rp400 per liter, dari Rp17.000 menjadi Rp16.600 per liter.

Berbeda dengan tiga produk tersebut, harga Pertamina Dex tetap berada di angka Rp21.150 per liter dan Dexlite masih bertahan di level Rp19.700 per liter.

Bahlil menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi memang bersifat dinamis karena mengikuti mekanisme pasar.

Jika harga minyak dunia kembali meningkat, maka harga BBM nonsubsidi juga berpotensi mengalami kenaikan.

“Kalau harga minyak dunia naik, tentu BBM nonsubsidi juga akan naik. Sekarang kondisinya sedang turun sehingga badan usaha melakukan penyesuaian harga,” jelasnya.

Meski demikian, pemerintah memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap harga BBM bersubsidi.

Pemerintah tetap mempertahankan harga Pertalite dan solar subsidi agar tidak mengalami kenaikan meskipun terjadi fluktuasi harga minyak dunia.

Saat ini harga Pertalite masih dipertahankan sebesar Rp10.000 per liter, sedangkan solar subsidi tetap dijual Rp6.800 per liter.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan energi tetap terjangkau.

Bahlil mengatakan sekitar 80 persen konsumsi BBM nasional masih didominasi oleh BBM bersubsidi.

Karena itu, pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap stabilitas harga kedua jenis BBM tersebut agar tidak membebani masyarakat.

Sementara sekitar 20 persen konsumsi BBM nasional berasal dari BBM nonsubsidi yang umumnya digunakan masyarakat dengan kemampuan ekonomi lebih baik maupun kendaraan yang memang diwajibkan menggunakan BBM beroktan tinggi.

Oleh karena itu, harga BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan harga pasar internasional.

Menurut Bahlil, skema tersebut sudah berjalan selama ini sehingga penyesuaian harga bukanlah sesuatu yang baru.

Ketika harga minyak dunia turun, masyarakat pengguna BBM nonsubsidi ikut menikmati penurunan harga.

Sebaliknya, apabila harga minyak kembali melonjak, maka penyesuaian harga juga dapat dilakukan sesuai kondisi pasar.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan harga minyak mentah dunia agar kebijakan energi nasional tetap berjalan seimbang antara menjaga stabilitas ekonomi, keberlangsungan subsidi energi, dan kondisi keuangan negara.

Dengan turunnya harga Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamax Green 95, diharapkan masyarakat pengguna BBM nonsubsidi dapat memperoleh manfaat dari pelemahan harga minyak global.

Sementara itu, pemerintah kembali menegaskan bahwa harga Pertalite dan solar subsidi tetap aman sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan kenaikan dalam waktu dekat.

“Yang paling penting adalah BBM subsidi tidak akan naik. Itu yang menjadi komitmen pemerintah,” tegas Bahlil Lahadalia. (*/stch/dda)

Iklan