BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi secara beruntun di sejumlah wilayah Banyumas Raya. Dalam dua hari terakhir, kebakaran dilaporkan terjadi di Purbalingga, Cilacap, hingga Kebumen.
Kondisi cuaca kering dan vegetasi yang mudah terbakar membuat potensi munculnya kebakaran kembali menjadi perhatian petugas.
Di Purbalingga, kebakaran melanda kawasan Hutan Lowo Ijo, Desa Langkap, Kecamatan Kertanegara, hingga menjalar ke kawasan Siregol, Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol.
Belum genap sehari setelah api berhasil dipadamkan, kebakaran kembali muncul di Desa Ponjen, Kecamatan Karanganyar.
Kebakaran di kawasan Hutan Lowo Ijo pertama kali terlihat pada Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 18.30 WIB.
Kobaran api bahkan terlihat dari sejumlah permukiman warga di Kecamatan Karangmoncol, Kertanegara, dan Rembang.
Lokasi kebakaran berada sekitar dua kilometer dari permukiman warga. Untuk mencapai titik api, petugas membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan karena kondisi medan yang cukup sulit.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga Revon H mengatakan, penanganan karhutla dilakukan oleh tim gabungan.
Personel yang terlibat berasal dari BPBD, TNI, Polri, pemerintah desa, Damkar, serta para relawan.
Karena medan yang sulit dijangkau, proses pemadaman dilakukan secara manual.
Sekitar pukul 21.30 WIB, kobaran api mulai mengecil. Namun, kondisi berubah setelah api menjalar menuju area lereng atau tebing dengan kemiringan sekitar 90 derajat ke arah kawasan hutan Siregol, Desa Kramat.
“Pukul 22.30 pantauan dari Siregol api mulai mengecil. Pukul 23.00 WIB, api di wilayah Igir Garung sudah padam,” kata Revon, Sabtu (29/8/2026).
Meski demikian, petugas masih melakukan pemantauan hingga dini hari karena kondisi api sempat kembali membesar.
Sekitar pukul 00.23 WIB, kobaran api mengecil dan berbelok ke arah utara. Namun, sekitar pukul 01.00 WIB, api kembali membesar.
Api kemudian kembali mengecil sekitar pukul 02.30 WIB.
Berdasarkan pemantauan terakhir dari kawasan Siregol pada pukul 07.11 WIB, api akhirnya dinyatakan padam.
Posko operasi penanganan karhutla Desa Langkap dan Desa Kramat kemudian resmi ditutup pada Sabtu (29/8/2026) pukul 08.00 WIB.
Kebakaran tersebut menghanguskan sejumlah vegetasi berupa ranting dan semak belukar serta sebagian tanaman glagah yang menjadi garapan warga.
Selain itu, area hutan Banyumas Timur wilayah Picung juga dilaporkan terbakar dengan luas kurang lebih tiga hektare.
Sementara itu, BPBD masih melakukan asesmen untuk memastikan luas lahan yang terbakar di kawasan Hutan Lowo Ijo.
Penyebab kebakaran hingga kini masih dalam proses pendalaman.
Padamnya kebakaran di kawasan Langkap dan Siregol ternyata belum mengakhiri ancaman karhutla di Purbalingga.
Beberapa jam setelah posko penanganan ditutup, kebakaran kembali terjadi di Desa Ponjen, Kecamatan Karanganyar, pada Sabtu (29/8/2026).
Kebakaran diketahui sekitar pukul 12.00 WIB dan menghanguskan lahan seluas kurang lebih satu hektare.
Tim gabungan yang terdiri atas BPBD Kabupaten Purbalingga, TNI, Polri, dan masyarakat sekitar langsung melakukan pemadaman. Api berhasil dikendalikan sekitar pukul 13.45 WIB.
Sekretaris BPBD Kabupaten Purbalingga Aris Mulyanto mengatakan, seluruh api telah berhasil dipadamkan.
Namun, petugas masih melakukan kewaspadaan karena kondisi lahan dinilai masih sangat rawan terbakar kembali.
“Api sudah seluruhnya padam. Namun, kami masih tetap waspada karena api bisa saja kembali muncul, karena kondisi lahan sekitar rawan terbakar,” katanya.
Menurut Aris, kebakaran diduga berkaitan dengan kondisi rumput dan dahan yang sangat kering. Teriknya matahari juga membuat material tersebut lebih mudah terbakar.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Cilacap. Kebakaran melanda lahan Perhutani Petak 18 D RPH Pesahangan, Desa Pesahangan, Kecamatan Cimanggu, pada Sabtu (29/8/2026).
Api dilaporkan muncul sekitar pukul 16.15 WIB dan membakar area sadapan pinus seluas sekitar 0,1 hektare. Sebanyak 30 pohon pinus ikut terdampak kebakaran.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap Taryo mengatakan, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 20.30 WIB.
Proses pemadaman berlangsung sekitar empat jam karena lokasi kebakaran cukup jauh dari sumber air.
“Karena lokasi cukup jauh dari sumber air, penanganan membutuhkan waktu. Setelah dilakukan pemadaman bersama, api akhirnya berhasil dipadamkan,” ujar Taryo, Minggu (30/8/2026).
Pemadaman melibatkan Perhutani, pemerintah desa, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat.
Berdasarkan kaji cepat BPBD, tidak ada warga yang terdampak maupun mengungsi. Kebakaran juga tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.
Dugaan sementara, kebakaran berasal dari aktivitas penyadap pinus yang sebelumnya menyalakan api, tetapi diduga lupa memadamkannya.
Sementara itu, kebakaran lahan juga terjadi di Kabupaten Kebumen. Peristiwa tersebut berlangsung di Dukuh Clungup, Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Jumat (28/8/2026).
Lahan pekarangan seluas sekitar 1,3 hektare terbakar. Api diduga berasal dari aktivitas pembakaran sampah yang ditinggalkan tanpa pengawasan hingga merambat ke lahan kering di sekitarnya.
Kebakaran pertama kali diketahui Tugomahno (53), Kepala Dusun I Desa Grenggeng.
Saat melintas di sekitar lahan RW 05 dan RW 06, dia melihat kepulan asap. Setelah diperiksa, ternyata api telah membakar daun dan ranting kering.
Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada Salim (58), mantan kepala desa setempat, sebelum dilaporkan kepada Polsek Karanganyar sekitar pukul 13.30 WIB.
Personel Polsek Karanganyar bersama warga kemudian melakukan pemadaman menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) serta peralatan manual berupa dahan dan bambu.
Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.00 WIB. Tidak ada korban jiwa maupun kerugian material dalam kejadian tersebut. Api juga tidak sampai merembet ke permukiman warga.
Kapolres Kebumen AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama mengatakan, kebakaran diduga terjadi akibat kelalaian saat membakar sampah.
“Diduga akibat kelalaian orang yang membakar sampah kemudian ditinggal pergi,” kata Putu, Sabtu (29/8/2026).
Polisi telah melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian, mengamankan tempat kejadian perkara, meminta keterangan saksi, serta membuat laporan kejadian.
Rentetan kebakaran di Purbalingga, Cilacap, dan Kebumen menjadi pengingat bahwa kondisi lahan dan vegetasi yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Masyarakat, terutama yang melakukan aktivitas di kawasan hutan maupun lahan terbuka, diminta tidak menyalakan api sembarangan.
Aktivitas pembakaran sampah juga harus dilakukan dengan pengawasan dan memastikan api benar-benar padam sebelum ditinggalkan.
Petugas juga terus mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap di kawasan hutan dan lahan.
Kewaspadaan menjadi penting karena kebakaran yang terlihat kecil dapat dengan cepat meluas ketika kondisi vegetasi kering dan angin mendukung penyebaran api. (tya/jul/cah/stch/dda)