BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Kearifan lokal Kabupaten Kebumen kembali menjadi perhatian dalam kegiatan lintas budaya.
Sejumlah mahasiswa internasional dari berbagai negara diajak mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat desa serta potensi kerajinan tradisional yang masih dipertahankan hingga kini.
Kali ini, para mahasiswa berkunjung ke Desa Grujugan, Kecamatan Petanahan, Kebumen, yang dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan bambu.
Mereka berkesempatan melihat secara langsung proses pembuatan tudung atau caping dari bahan bambu yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Local Wisdom Tourism yang digelar pada Minggu (23/8).
Program ini mempertemukan mahasiswa internasional dengan masyarakat lokal untuk memperkenalkan kekayaan budaya, tradisi, serta potensi ekonomi desa di Kabupaten Kebumen.
Koordinator kegiatan, Blandina Hendrawardani SE MM, mengatakan kegiatan tersebut diikuti mahasiswa International Priority Scholar yang sedang menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.
Para mahasiswa berasal dari tujuh negara, yakni Nigeria, Pakistan, Kenya, Afghanistan, Malawi, Rwanda, dan Kolombia.
Mereka saat ini tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Gunadarma, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Wahid Hasyim Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Universitas Islam Indonesia (UII).
Menurut Blandina, kunjungan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa internasional dalam mengenal kehidupan masyarakat dan kearifan lokal di Indonesia.
“ Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa International Priority Scholar yang berasal dari Nigeria, Pakistan, Kenya, Afghanistan, Malawi, Rwanda, dan Kolombia,” ujar Blandina yang juga menjabat sebagai Ketua LPPM Politeknik Piksi Ganesha Indonesia.
Salah satu kegiatan utama dalam kunjungan tersebut adalah melihat proses pembuatan tudung atau caping berbahan bambu.
Kerajinan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Grujugan dan telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Proses pembuatan caping tradisional tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mencerminkan keterampilan serta pengetahuan lokal yang terus dipertahankan masyarakat.
Bagi para mahasiswa dari berbagai negara, pengalaman tersebut memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah produk kerajinan dibuat menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Kunjungan tersebut juga memperlihatkan bahwa kearifan lokal tidak selalu berbentuk tradisi besar atau acara kebudayaan.
Aktivitas sehari-hari masyarakat, termasuk keterampilan membuat kerajinan bambu, juga memiliki nilai budaya yang dapat dipelajari.
Desa Grujugan melalui tradisi kerajinan bambunya menunjukkan bagaimana masyarakat dapat mempertahankan warisan budaya sekaligus mengembangkan potensi ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Tradisi pembuatan caping menjadi salah satu daya tarik utama dalam kegiatan Local Wisdom Tourism tersebut.
Kampung Tudung Grujugan tidak hanya menawarkan produk kerajinan bambu, tetapi juga pengalaman untuk mengenal proses dan cerita di balik tradisi tersebut.
Kehadiran mahasiswa internasional menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkenalkan potensi desa kepada lingkungan yang lebih luas.
Blandina mengatakan pertemuan antara mahasiswa dari berbagai negara dengan masyarakat Desa Grujugan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kearifan lokal kepada masyarakat internasional.
Menurutnya, tradisi yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa memiliki nilai yang dapat dipelajari dan diapresiasi oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Pertemuan lintas budaya itu memperlihatkan bahwa tradisi yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa memiliki nilai yang dapat dipelajari, diapresiasi, dan diperkenalkan kepada masyarakat dunia,” jelas Blandina.
Kegiatan tersebut juga menunjukkan pentingnya promosi potensi desa melalui interaksi lintas budaya.
Mahasiswa internasional yang mengikuti kegiatan dapat membawa pengalaman tersebut ketika kembali ke lingkungan akademik maupun komunitas mereka.
Bagi masyarakat Desa Grujugan, kunjungan tersebut dapat menjadi peluang untuk memperluas jejaring sekaligus memperkenalkan kerajinan bambu kepada lebih banyak orang.
Potensi seperti kerajinan caping dapat dikembangkan menjadi bagian dari wisata berbasis budaya dan edukasi.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat hasil kerajinan, tetapi juga dapat memperoleh pengalaman mengenai proses pembuatannya serta memahami sejarah tradisi yang diwariskan masyarakat.
Dengan demikian, pelestarian kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kunjungan mahasiswa dari Nigeria, Pakistan, Kenya, Afghanistan, Malawi, Rwanda, dan Kolombia ke Desa Grujugan menjadi contoh bagaimana tradisi lokal dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan berbagai budaya.
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan kerajinan tradisional seperti caping bambu menjadi penting untuk terus dijaga.
Selain menjadi identitas masyarakat, tradisi tersebut juga memiliki peluang untuk diperkenalkan sebagai bagian dari daya tarik wisata Kabupaten Kebumen.
Melalui kegiatan Local Wisdom Tourism, kearifan lokal Desa Grujugan tidak hanya dikenalkan kepada mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, tetapi juga berpotensi dikenal lebih luas melalui jejaring internasional. (cah/stch/dda)