Iklan

Program Serbu TBC Diluncurkan di Kebumen, Desa Kuwayuhan Jadi Pilot Project

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Pemerintah Kabupaten Kebumen secara resmi meluncurkan Program Serbu TBC dan Aplikasi Smart TB-R, yang diadakan di Pendopo Kabumian pada Kamis, 11 Juni.

Peluncuran ini merupakan langkah strategis untuk menekan angka prevalensi Tuberkulosis (TBC) serta mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2029.

Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Kebumen, Hj Lilis Nuryani, Asisten Pemerintahan, Kepala Dinas Kesehatan PPKB, para Camat, Kepala Puskesmas se-Kabupaten Kebumen, serta berbagai mitra kerja yang berperan dalam upaya penanganan TBC.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen, dr Iwan Danardono, menjelaskan bahwa penanganan TBC memerlukan sinergi lintas sektor yang kuat.

Dalam fase awal program ini, Desa Kuwayuhan di Kecamatan Pejagoan ditunjuk sebagai desa percontohan atau pilot project.

Di desa tersebut, sebanyak 25 pasien TBC menerima bantuan makanan bergizi senilai Rp200 ribu per bulan dari Dompet Dhuafa.

Bantuan ini bertujuan untuk mendongkrak angka kesembuhan para pasien. Selain itu, intervensi juga dilakukan melalui program bedah rumah sehat bagi penderita TBC.

Rumah-rumah ini didesain khusus dengan ventilasi udara yang baik dan pencahayaan matahari yang optimal untuk memutus rantai penularan penyakit.

“Dalam upaya penanganan ini, kami juga berkoordinasi dengan Polsek setempat dan melatih anggota Bhabinkamtibmas untuk menjadi petugas pelacak (tracer) TBC di lapangan,” ungkap dr Iwan.

Inisiatif ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang krusial ini.

Bupati Kebumen Hj Lilis Nuryani menyambut baik inovasi yang diluncurkan tersebut.

Ia mengajak semua pihak untuk melihat data TBC secara objektif dan tidak menganggap remeh peningkatan kasus yang terjadi.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, tren penemuan kasus TBC di Kebumen menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada tahun 2024, ditemukan sekitar 2.800 kasus TBC, dan angka tersebut meningkat menjadi lebih dari 3.200 kasus pada tahun 2025.

Sementara itu, hingga Mei 2026, angka penemuan baru mencapai 30 persen dari estimasi target.

Bupati Lilis menegaskan bahwa kenaikan angka ini tidak selalu berarti situasi memburuk.

Sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa kinerja pelacakan oleh petugas kesehatan di lapangan semakin optimal dan didukung oleh masyarakat yang semakin berani untuk memeriksakan diri mereka sendiri.

“Tantangan terbesar dalam penanganan TBC adalah adanya kasus yang ibarat gunung es. Banyak kasus tidak terdeteksi selama ini. Semakin cepat kita menemukan pasien TBC, semakin cepat pula mereka mendapatkan pengobatan yang diperlukan. Dengan demikian, risiko penularannya dapat diminimalkan,” tegas Bupati.

Kehadiran Aplikasi Smart TB-R sangat tepat waktu dan relevan dalam membantu kebijakan penanganan penyakit ini agar berbasis pada data yang akurat serta dapat diakses dengan cepat dan tepat sasaran.

Aplikasi ini akan menjadi alat penting bagi tenaga medis dalam melacak dan menangani kasus-kasus TBC secara efektif.

Inovasi seperti Program Serbu TBC dan penggunaan aplikasi digital dalam pengelolaan kesehatan mencerminkan kemajuan teknologi dalam dunia kedokteran saat ini.

Dengan memanfaatkan teknologi informasi, pemerintah berharap dapat meningkatkan efisiensi dalam penanggulangan penyakit menular seperti TBC yang telah lama menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. (mam/stch/dda)

Iklan