BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Dalam sebuah acara yang penuh makna, Bupati Kebumen, Lilis Nuryani, mengajak seluruh masyarakat untuk meneladani perjuangan dan keteladanan para ulama dalam upaya membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan beradab.
Ajakan ini disampaikan saat beliau menghadiri Haul ke-62 Al-Maghfurlah KH Ahmad Nashoha yang berlangsung di Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso, Bumirejo pada Rabu (10/6).
Acara tersebut tidak hanya menjadi momen untuk mengenang jasa-jasa KH Ahmad Nashoha, tetapi juga dipadukan dengan Silaturahmi Akbar Alumni sebagai bentuk penghormatan kepada para masyayikh terdahulu.
Dalam kesempatan ini, haul juga memperingati tokoh-tokoh besar lainnya seperti KH Fathurrohman yang ke-60, KH Sulton ke-50, KH Mahfudz Arief ke-39, serta Nyai Fatmah ke-11.
Kehadiran berbagai elemen masyarakat dan tokoh agama dalam acara ini menunjukkan betapa pentingnya nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kebumen.
Dalam pidatonya, Bupati Lilis menyampaikan penghargaan yang tinggi terhadap kontribusi historis dan spiritual Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso bagi masyarakat Kebumen.
Beliau mengungkapkan, “Simbah KH Ahmad Nashoha telah menanamkan fondasi ilmu, akhlak dan perjuangan yang hingga hari ini manfaatnya masih kita rasakan. Kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kuatnya nilai spiritual dan akhlak masyarakatnya.” Pernyataan ini mencerminkan keyakinan bahwa pembangunan yang holistik harus melibatkan aspek-aspek non-fisik seperti moralitas dan spiritualitas.
Bupati Lilis berharap bahwa momentum haul ini tidak hanya menjadi ajang mengenang jasa-jasa para ulama, tetapi juga memperkuat ukhuwah atau persaudaraan di antara masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan ini, beliau berharap acara tersebut bisa menjadi sarana untuk melestarikan nilai-nilai keikhlasan dan persatuan yang telah diajarkan oleh para ulama terdahulu.
KH Ahmad Nashoha sendiri dikenal sebagai sosok yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama tetapi juga sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia.
Dalam catatan sejarah, beliau terlibat langsung dalam Pertempuran Ambarawa, sebuah pertempuran penting yang terjadi selama masa perjuangan melawan penjajahan Belanda.
Keberanian dan dedikasinya dalam membebaskan para kiai yang ditawan oleh kolonial Belanda menjadikannya salah satu pahlawan nasional yang patut dikenang oleh generasi sekarang.
Acara haul ini dihadiri oleh berbagai kalangan termasuk Staf Ahli Bupati, perwakilan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen serta Rais Syuriyah PCNU Purworejo Romo KH R Dawud Masykuri sebagai penceramah utama.
Kehadiran mereka menunjukkan dukungan kuat terhadap nilai-nilai ajaran Islam dan komitmen untuk menjaga tradisi serta warisan budaya pesantren di Kebumen.
Pengasuh PP Salafiyah Wonoyoso, KH Muntaha Fathurrohman (Gus Taha), juga turut memberikan sambutan dalam acara tersebut.
Dalam kesempatan itu, Gus Taha menekankan pentingnya melanjutkan perjuangan para ulama dan menanamkan nilai-nilai akhlak serta moral kepada generasi muda.
Ia menyatakan bahwa pendidikan karakter harus dimulai sejak dini agar generasi penerus bangsa dapat menjadi pribadi-pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual yang kuat.
Momentum haul ini sangat penting untuk kembali mengingatkan kita semua tentang peran ulama dalam sejarah bangsa ini.
Para ulama bukan hanya sebagai pengajar agama tetapi juga pelopor perubahan sosial yang berani berdiri di garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat.
Dengan demikian, kita semua diharapkan dapat meneruskan semangat perjuangan mereka dengan cara masing-masing. (mam/stch/dda)














