BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Rencana Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Purbalingga memperluas layanan spot baca digital ke sejumlah ruang publik belum bisa direalisasikan secara maksimal.
Keterbatasan anggaran dan minimnya tenaga Teknologi Informasi (IT) menjadi kendala utama pengembangan layanan literasi digital tersebut.
Saat ini, layanan spot baca digital masih terpusat di gedung Perpustakaan Umum Daerah Purbalingga.
Padahal, Dinarpus ingin membawa akses literasi lebih dekat dengan masyarakat melalui sejumlah lokasi yang ramai dikunjungi warga.
Kepala Bidang Perpustakaan Dinarpus Purbalingga, Ari Susanti, mengatakan keberadaan spot baca di ruang publik sebenarnya sangat dibutuhkan.
Dengan layanan tersebut, masyarakat tidak harus datang langsung ke gedung perpustakaan untuk mendapatkan akses terhadap berbagai bahan bacaan.
“Sebenarnya kita butuh spot baca itu agar masyarakat lebih dekat dengan literasi. Hal ini juga penting untuk menunjukkan eksistensi Perpustakaan Umum Daerah kepada masyarakat luas,” ujar Ari, Senin (10/8/2026).
Konsep perpustakaan digital tersebut direncanakan menyasar sejumlah ruang publik yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Dinarpus membidik lokasi seperti alun-alun, terminal, hingga pasar sebagai tempat potensial untuk menempatkan spot baca.
Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Ruang publik memiliki tingkat kunjungan masyarakat yang cukup tinggi sehingga layanan literasi diharapkan dapat menjangkau lebih banyak kalangan.
Masyarakat yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari nantinya bisa mendapatkan akses terhadap layanan literasi tanpa harus secara khusus datang ke perpustakaan.
Konsep tersebut juga diharapkan dapat membuat kegiatan membaca lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Namun, rencana tersebut masih menghadapi sejumlah persoalan. Salah satu kendala terbesar adalah kebutuhan anggaran untuk membangun dan mempertahankan infrastruktur yang diperlukan.
Layanan literasi digital tidak hanya membutuhkan perangkat untuk mengakses bahan bacaan.
Dinarpus juga perlu menyiapkan infrastruktur teknologi, termasuk server, agar sistem dapat berjalan dengan baik dan dapat digunakan masyarakat secara berkelanjutan.
Selain biaya pembangunan, infrastruktur digital juga membutuhkan biaya pemeliharaan.
Kondisi tersebut membuat perluasan spot baca digital tidak bisa dilakukan hanya dengan menyediakan perangkat dan konten bacaan.
Ketersediaan sumber daya manusia juga menjadi persoalan. Dinarpus Purbalingga mengakui masih kekurangan tenaga IT yang dapat mendukung pengembangan sekaligus pengelolaan layanan digital di berbagai lokasi.
Keterbatasan tenaga IT tersebut membuat pengembangan sistem dan pemeliharaan layanan menjadi lebih sulit apabila spot baca digital ditempatkan di banyak titik sekaligus.
Padahal, perluasan layanan literasi digital membutuhkan pengelolaan teknologi yang konsisten.
Mulai dari memastikan sistem dapat diakses, menjaga infrastruktur tetap berjalan, hingga menangani gangguan teknis yang mungkin terjadi.
Kondisi tersebut membuat Dinarpus harus menyesuaikan rencana dengan kemampuan yang tersedia.
Perluasan spot baca digital ke ruang publik belum dapat dilakukan secara luas sebelum persoalan anggaran, infrastruktur, dan tenaga IT dapat dipenuhi.
Sambil menunggu kesiapan tersebut, Dinarpus masih menggunakan layanan perpustakaan keliling sebagai salah satu cara memperluas akses literasi kepada masyarakat.
Perpustakaan keliling memungkinkan koleksi bacaan dibawa langsung ke lokasi yang menjadi pusat aktivitas warga.
Layanan tersebut menjadi alternatif untuk mendekatkan buku dan bahan bacaan kepada masyarakat di tengah belum maksimalnya pengembangan spot baca digital.
Upaya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap akses literasi tidak selalu harus dipenuhi melalui gedung perpustakaan.
Masyarakat membutuhkan layanan yang lebih mudah dijangkau dan sesuai dengan pola aktivitas sehari-hari.
Di sisi lain, pengembangan literasi digital Purbalingga memiliki tantangan yang berbeda dengan layanan perpustakaan konvensional.
Selain menyediakan konten, pemerintah daerah harus memastikan dukungan teknologi dan tenaga pengelola tersedia.
Dinarpus berharap rencana spot baca digital dapat dikembangkan secara bertahap.
Dengan dukungan anggaran yang memadai serta tambahan sumber daya manusia di bidang IT, layanan tersebut nantinya bisa ditempatkan di lebih banyak ruang publik.
Jika terealisasi, keberadaan spot baca digital di alun-alun, terminal, maupun pasar dapat menjadi alternatif baru bagi masyarakat untuk mengakses bahan literasi di sela-sela aktivitas mereka.
Pengembangan layanan tersebut juga dapat memperluas eksistensi Perpustakaan Umum Daerah Purbalingga.
Perpustakaan tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat yang harus didatangi masyarakat, tetapi juga dapat hadir di berbagai ruang yang menjadi pusat aktivitas warga.
Untuk saat ini, Dinarpus masih harus menghadapi persoalan mendasar berupa keterbatasan anggaran dan tenaga IT.
Dua faktor tersebut menjadi penentu penting sebelum rencana memperluas spot baca digital ke ruang publik Purbalingga dapat benar-benar diwujudkan.
Dengan penyelesaian persoalan tersebut, layanan literasi diharapkan tidak hanya terpusat di gedung perpustakaan.
Akses membaca dan informasi digital nantinya dapat semakin dekat dengan masyarakat melalui berbagai ruang publik yang mudah dijangkau. (alw/stch/dda)