BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Debit sumber air di Kabupaten Purbalingga berpotensi menyusut hingga 60 persen jika musim kemarau berlangsung selama enam bulan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Perumdam Tirta Perwira karena dapat memengaruhi ketersediaan air bersih bagi pelanggan.
Direktur Utama Perumdam Tirta Perwira Sugeng mengatakan, penyusutan debit sumber air merupakan kondisi yang harus diantisipasi sejak awal.
Terlebih, sebagian sumber air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan berada di kawasan lereng Gunung Slamet.
“Rata-rata penyusutan sumber air bisa mencapai 60 persen kalau kemarau berlangsung sampai enam bulan,” kata Sugeng, Senin (10/8/2026).
Menurut Sugeng, keberadaan sumber air baku menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan layanan air bersih.
Karena itu, kelestarian kawasan sumber air perlu mendapat perhatian, terutama dari potensi alih fungsi lahan yang dapat memperburuk kondisi lingkungan.
Meski menghadapi ancaman penurunan debit, Perumdam Tirta Perwira memastikan pelayanan kepada pelanggan hingga kini masih berjalan.
Belum ada penghentian layanan akibat kondisi sumber air selama musim kemarau.
Perumdam juga berupaya agar sistem distribusi air secara bergilir tidak perlu diterapkan secara luas.
Namun, kondisi berbeda terjadi di Kecamatan Rembang yang sudah menerapkan sistem gilir karena kapasitas sumber air di wilayah tersebut relatif terbatas.
“Di Rembang sistem gilir memang dilakukan. Kapasitas sumber air di sana sangat terbatas, baik musim kemarau maupun penghujan,” ujarnya.
Selain Rembang, persoalan sumber air juga terjadi di Kecamatan Karangreja.
Kondisi tersebut berkaitan dengan banjir bandang yang sebelumnya melanda wilayah tersebut dan berdampak terhadap salah satu sumber mata air.
Sugeng menyebut, kapasitas sumber mata air di Karangreja mengalami penurunan cukup drastis.
Sebelumnya, sumber tersebut mampu menghasilkan sekitar 13 liter air per detik. Namun, setelah terjadi perubahan kondisi, debitnya hanya tersisa sekitar 4 liter per detik.
Penurunan tersebut membuat Perumdam harus mencari sumber air tambahan untuk menjaga kapasitas pelayanan.
Upaya pencarian sumber air dilakukan untuk menopang pasokan yang saat ini dikelola perusahaan.
“Ini faktor alam, sumber mata air sembunyi. Ini butuh ketelatenan mencari sumber sleweran untuk mendukung kapasitas yang dikelola,” jelas Sugeng.
Ancaman penurunan debit air juga membuat kelestarian kawasan sumber air menjadi semakin penting.
Perumdam menilai perlindungan kawasan resapan dan sumber air diperlukan agar pasokan air tidak semakin berkurang, terutama ketika kemarau berlangsung panjang.
Di sisi lain, Perumdam Tirta Perwira tetap melakukan penyiraman tanaman di median Jalan S Parman dan Jalan Jenderal Soedirman Barat setiap sore.
Kegiatan tersebut dilakukan berdasarkan instruksi Pemerintah Kabupaten Purbalingga.
Sugeng memastikan air yang digunakan untuk penyiraman median jalan bukan berasal dari air minum pelanggan.
Perumdam juga tidak menggunakan armada truk tangki untuk mengambil air yang diperuntukkan bagi kebutuhan pelanggan.
“Terkait dengan penyiraman secara tupoksi bukan tugas kami, tetapi mendasar dari instruksi Pemda. Kami tidak menggunakan armada truk tangki dan tidak menggunakan air minum, melainkan air resapan di lingkungan kantor,” pungkasnya.
Dengan ancaman debit sumber air yang dapat menyusut hingga 60 persen ketika kemarau berlangsung panjang, Perumdam Tirta Perwira terus memantau kondisi sumber air di sejumlah wilayah.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga agar kebutuhan air bersih masyarakat Purbalingga tetap dapat terpenuhi sekaligus mengantisipasi kemungkinan gangguan distribusi selama musim kemarau. (alw/stch/dda)
















