BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Pengusaha penetasan burung puyuh di Kebumen kerap menghadapi tantangan besar terkait keberadaan puyuh jantan.
Burung jantan ini dianggap kurang bermanfaat karena tidak produktif dan harga jualnya sangat rendah.
Anakan puyuh jantan atau dikenal dengan sebutan DOQ jantan, biasanya hanya terjual sekitar Rp 500 per ekor.
Jumlah permintaan pun sangat sedikit, membuat para peternak seringkali terpaksa membuang DOQ jantan tersebut.
Namun, ada potensi lain yang bisa dimanfaatkan dari puyuh jantan ini, yaitu dengan menjadikannya sebagai puyuh potong atau pedaging. Pada usia sekitar satu bulan, puyuh jantan pedaging dapat dijual dengan harga Rp 5.000 per ekor.
Meskipun demikian, jika dalam proses pembesarannya hanya diberi makan pelet secara penuh, keuntungan yang diperoleh tetap sangat minim.
Salah satu peternak puyuh di Tamanwinangun, Kebumen, Tugino, menegaskan pentingnya menciptakan pakan alternatif bagi puyuh jantan.
“Dengan harga Rp 5.000 per ekor, peternak tetap bisa meraih keuntungan jika pakan alternatif yang lebih murah bisa digunakan,” ungkapnya pada Jumat (13/6).
Tugino menjelaskan bahwa dari seluruh puyuh yang menetas, sekitar 50 persen adalah jantan. Biasanya, dalam proses penetasan, sepertiga dari telur tidak menetas, sepertiga menjadi jantan, dan sepertiga menjadi betina.
“Dengan banyaknya jumlah puyuh jantan, seringkali tidak dimanfaatkan secara optimal. Namun, jika mereka dijadikan puyuh pedaging, nilai ekonomisnya bisa meningkat,” jelasnya lebih lanjut.
Menurut Tugino, jika harga pakan untuk puyuh pedaging dapat ditekan, harga jual puyuh pedaging pun bisa lebih terjangkau bagi konsumen, sementara peternak tetap mendapatkan keuntungan.
“Sangat penting untuk mengadakan pelatihan membuat pakan puyuh yang baik, dengan harga lebih murah dari pakan pabrik namun tetap berkualitas. Ini sangat membantu para peternak dan dapat mendorong kemandirian usaha mereka,” tambah Tugino dengan penuh harap.
Selain itu, Tugino percaya bahwa dengan adanya inovasi dalam pembuatan pakan, peternak dapat mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan yang sering kali harganya lebih mahal. Dengan demikian, peternak bisa lebih mandiri dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kemandirian dalam pakan ini bukan hanya menguntungkan peternak, tapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal,” ujarnya sambil menekankan pentingnya pelatihan yang intensif bagi para peternak.
Menjadikan puyuh jantan sebagai puyuh pedaging memang memerlukan upaya dan strategi yang tepat. Namun, dengan adanya dukungan pelatihan dan inovasi pakan, potensi keuntungan dapat meningkat.
Ini tidak hanya mengatasi masalah kelebihan populasi puyuh jantan, tetapi juga membuka peluang baru bagi usaha peternakan puyuh di Kebumen.
Di masa depan, diharapkan lebih banyak peternak yang memahami dan menerapkan strategi ini. Sehingga, industri peternakan puyuh di daerah tersebut dapat berkembang lebih pesat dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih signifikan bagi masyarakat sekitar.
Dengan demikian, penting bagi pemerintah lokal dan pihak terkait untuk mendukung upaya-upaya inovatif ini.
Pelatihan dan pendampingan bagi para peternak sangat diperlukan agar mereka dapat mengelola usaha mereka dengan lebih efisien dan berkelanjutan.
Inisiatif ini tidak hanya bermanfaat bagi peternak puyuh, tetapi juga bagi perekonomian daerah secara keseluruhan.
Dengan semakin banyaknya peternak yang berhasil, kontribusi terhadap ekonomi lokal pun akan semakin meningkat, menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (mam/stch)
















