BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di tengah pesona alam yang memukau di Desa Dawuhan, Banjarnegara, terdapat satu kuliner unik yang mulai mencuri perhatian para pengunjung.
Bubur srintil, sebuah sajian manis yang selama ini dikenal sebagai makanan khas Semarang, kini ikut meramaikan suasana di Pasar Rengrang.
Aroma santan hangat dan gula aren yang melimpah dari mangkuk-mangkuk kecil menciptakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan panorama alam.
Slamet, penjual bubur srintil, menjelaskan bahwa hidangan ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan bubur pasar pada umumnya.
Dalam satu mangkuk bubur srintil, terdapat kombinasi beberapa jenis bubur yang disajikan secara bersamaan.
“Bubur srintil itu gabungan beberapa bubur. Ada bubur sumsum, bubur candil dari tepung ketan, dan bubur mutiara dari sagu. Semuanya disiram dengan santan dan gula aren cair,” terangnya.
Perpaduan antara berbagai jenis bubur ini menghadirkan sensasi rasa yang berlapis. Lembutnya bubur sumsum berpadu dengan kenyalnya candil dan mutiara memberikan pengalaman tekstur yang khas di setiap suapan.
“Ciri utamanya memang di teksturnya. Lembut, kenyal, dan manis gurih jadi satu. Banyak yang bilang rasanya lebih lengkap dibandingkan dengan bubur candil biasa,” tambah Slamet.
Bubur srintil mulai diperkenalkan di kawasan wisata Dawuhan sejak tahun 2017, seiring dengan berkembangnya destinasi wisata alam di desa tersebut.
Meskipun demikian, sajian ini hanya tersedia setiap hari Minggu di Pasar Rengrang.
Kehadirannya perlahan-lahan menjadi daya tarik tambahan bagi para wisatawan yang tidak hanya tertarik untuk menikmati suasana alam tetapi juga mencari pengalaman kuliner yang berbeda.
Supri, seorang aktivis wisata dari Pokdarwis Dawuhan, menyatakan bahwa kehadiran bubur srintil membuka peluang baru bagi pelaku usaha lokal di daerah tersebut.
Ragam kuliner yang ditawarkan semakin kaya dan mampu menarik minat pengunjung untuk datang lebih banyak lagi.
“Pelaku usaha di sini mencoba menghadirkan makanan khas dari daerah lain supaya pilihan jajanan semakin beragam,” katanya.
Lebih lanjut Supri menambahkan bahwa bubur srintil merupakan contoh nyata bagaimana kuliner tradisional dapat melintas batas daerah dan tetap diminati oleh masyarakat luas.
Dari Semarang, kini hadir di Dawuhan dan menyatu dengan suasana wisata alam pegunungan yang menawan.
Bagi para wisatawan, pengalaman berkunjung ke Dawuhan menjadi lebih lengkap karena tidak hanya dimanjakan dengan panorama alam tetapi juga disuguhi semangkuk bubur srintil hangat—yang manis, gurih, dan menyimpan cerita perjalanan rasa.
Fenomena kuliner seperti bubur srintil bukan hanya sekadar menambah pilihan makanan bagi para pengunjung namun juga membawa dampak positif bagi perekonomian lokal.
Dengan semakin banyaknya pelaku usaha yang terlibat dalam pengembangan kuliner lokal ini, maka akan ada lebih banyak lapangan kerja tercipta serta peluang bisnis baru bagi masyarakat setempat. (jud/stch/dda)
















