Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Banjir Bandang Purbalingga Rusak 174 Hektare Lahan Pertanian di Lereng Gunung Slamet

174 Ha Lahan Pertanian Rusak174 Ha Lahan Pertanian Rusak
RATA TANAH: Kepala DPPP Kabupaten Purbalingga Prayitno melakukan assessment lahan pertanian terdampak banjir bandang dan longsor di Desa Karangreja, Purbalingga

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah utara Kabupaten Purbalingga mengakibatkan kerusakan signifikan pada sektor pertanian.

Total sekitar 174 hektare lahan pertanian dilaporkan rusak dan terdampak akibat bencana tersebut.

Kerusakan lahan pertanian tersebar di Kecamatan Karangreja dan Kecamatan Bobotsari.

Dampak terparah terjadi di kawasan lereng Gunung Slamet yang menjadi wilayah hulu aliran air saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga, Prayitno, menyampaikan bahwa angka kerusakan tersebut merupakan hasil sementara dari proses assessment di sejumlah desa terdampak bencana.

Menurut Prayitno, di Kecamatan Karangreja, lahan hortikultura yang terdampak banjir bandang dan longsor berada di Desa Serang.

Di desa tersebut, kerusakan terjadi di dua dusun dengan luasan cukup besar. Di Dusun Kaliurip, Desa Serang, tercatat sekitar 41 hektare lahan hortikultura terdampak.

Sementara di Dusun Gunung Malang, luas lahan yang mengalami kerusakan mencapai sekitar 73 hektare.

Komoditas pertanian yang terdampak di wilayah tersebut didominasi tanaman hortikultura.

Jenis tanaman yang banyak mengalami kerusakan antara lain sayuran dan kentang yang menjadi andalan petani setempat.

“Selain itu, di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, terdapat sekitar 40 hektare lahan pertanian yang rusak dan terdampak banjir bandang,” kata Prayitno kepada Radarmas, Selasa (27/1/2026).

Tidak hanya Karangreja, kerusakan lahan pertanian juga dilaporkan terjadi di Kecamatan Bobotsari.

Dampak banjir di wilayah ini berasal dari limpasan aliran sungai dari kawasan atas.

Di Desa Gandasuli, Kecamatan Bobotsari, sekitar lima hektare sawah dilaporkan terdampak banjir.

Selain sawah, sekitar 15 hektare lahan tegalan palawija juga mengalami kerusakan akibat genangan dan aliran air.

Prayitno menambahkan bahwa pendataan kerusakan lahan pertanian masih terus dilakukan.

Proses assessment difokuskan terutama di wilayah Karangreja untuk memastikan luasan lahan terdampak secara menyeluruh dan akurat.

Hasil pendataan tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah penanganan serta bantuan yang dibutuhkan petani terdampak.

Sementara itu, dampak banjir bandang dan longsor dirasakan langsung oleh para petani di Dusun Gunung Malang.

Sejumlah lahan pertanian di kawasan tersebut dilaporkan tidak lagi dapat diolah.

Lahan pertanian yang berada di lereng perbukitan Gunung Slamet mengalami perubahan bentuk akibat longsor dan terjangan banjir bandang. Kondisi ini membuat lahan tidak lagi layak untuk ditanami.

“Sudah rusak semua, tidak bisa digarap lagi. Lahan kami terbawa longsor dan banjir, sekarang berubah menjadi jurang dengan kedalaman sekitar lima meter,” ujar Isrofi, salah satu petani setempat.

Akibat kerusakan tersebut, petani di wilayah terdampak terancam mengalami gagal tanam.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan hilangnya mata pencaharian dalam waktu dekat.

Pemerintah daerah diharapkan dapat segera mengambil langkah penanganan, baik dalam bentuk pemulihan lahan maupun bantuan bagi petani terdampak.

Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan sektor pertanian di wilayah lereng Gunung Slamet.(tya/stch/dda)

Berita Sebelumnya
4 Jam Dicecar 30 Pertanyaan

4 Jam di Ruang Pemeriksaan, Reza Arap Dicecar 30 Pertanyaan Terkait Kematian Lula Lahfah

Berita Selanjutnya
Siswa Dikenalkan Nilai Ekonomis Limbah

MAN 2 Kebumen Gelar Kokurikuler Pengolahan Sampah, Siswa Diajak Pilah Limbah