BANYUMASEKSPRES.ID, Suswanto, seorang pria berusia 50 tahun, memiliki perjalanan hidup yang penuh warna. Selama 18 tahun, ia bekerja di sebuah pabrik air minum kemasan.
Kehidupan sehari-harinya teratur dengan rutinitas kerja yang sudah tertata rapi dan lingkungan kerja yang bersih.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Suswanto lebih sering terlihat bergelut dengan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) Kutasari, Kecamatan Kutasari, Purbalingga.
Keputusan untuk beralih profesi dari lingkungan pabrik yang nyaman menuju pengelolaan sampah bukanlah hal yang datang tiba-tiba.
Perjalanan hidup Suswanto telah membawanya melintasi berbagai tempat dan pengalaman.
Sebelum terjun ke dunia pengelolaan sampah, ia pernah menjadi pembantu umum di klub sepak bola Persibangga selama dua tahun.
Kemudian ia merantau jauh ke berbagai daerah dari Aceh hingga Denpasar sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.
Titik balik yang signifikan terjadi pada tahun 2019 saat pandemi Covid-19 melanda.
Ketika banyak aktivitas ekonomi dan sosial terhenti, Suswanto justru melihat peluang untuk mempelajari pengelolaan sampah.
“Sebelum TPS3R Kutasari berdiri, saya dua tahun belajar dahulu,” ungkapnya kepada awak media.
Ilmu dasar mengenai pengelolaan sampah ini ia peroleh dari seorang teman dalam grup musiknya yang bekerja sebagai pengepul barang bekas.
Dari pengalaman tersebut, Suswanto mulai memahami bahwa sampah tidak hanya sekadar sisa buangan namun dapat memiliki nilai jika dikelola dengan benar dan bijaksana.
Kesadaran inilah yang mendorongnya untuk lebih mendalami dunia pengelolaan sampah. Pada tahun 2023, ia dipercaya menjadi pengawas di TPS3R Kutasari.
Tugas ini tidak mudah karena selain mengurus operasional harian fasilitas tersebut, ia juga harus menghadapi tantangan utama berupa minimnya kesadaran sebagian warga akan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah.
Menurut Suswanto, “Mengolah TPS3R butuh konsumen atau pelanggan, kita harus berusaha mencari. Namun warga belum sepenuhnya memahami sampah bisa menjadi masalah jika tidak diolah.”
Pernyataan ini menggambarkan betapa pentingnya edukasi masyarakat mengenai dampak lingkungan dan potensi manfaat dari pengelolaan sampah yang tepat.
Di TPS3R Kutasari, berbagai inovasi diterapkan dalam upaya mengolah sampah agar tidak menumpuk dan operasional tetap berjalan lancar.
Sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot yang kemudian digunakan sebagai pakan ternak.
Sementara itu, sampah plastik diproses menggunakan mesin pirolisis untuk diubah menjadi biosolar—sebuah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.
Inovasi-inovasi tersebut dirancang agar TPS3R dapat terus berfungsi bukan hanya demi mendapatkan keuntungan tetapi lebih kepada upaya mewujudkan lingkungan bersih di sekitar Kutasari.
Untuk memastikan keberlanjutan operasional TPS3R, Suswanto juga membuka layanan pengolahan sampah bagi wilayah di luar Kutasari.
“Yang penting TPS3R jalan. Saya ingin Kutasari bersih,” ujar Suswanto dengan tegas.
Memasuki usia setengah abad dalam hidupnya, Suswanto meninggalkan zona nyaman pekerjaan lamanya dan memilih jalur yang penuh tantangan dan ketidakpastian.
Dari balik tumpukan sampah dan suara bising mesin pirolisis, ia menyimpan harapan sederhana yaitu menciptakan lingkungan yang lebih bersih serta menjadikan desanya sebagai tempat tinggal yang lebih nyaman bagi semua warganya.
Perjuangan Suswanto tidak hanya memberikan dampak positif secara langsung pada kebersihan lingkungan tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga bumi melalui praktik daur ulang dan pengurangan limbah.
Semangat juangnya dalam mengatasi tantangan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil namun konsisten dalam kehidupan sehari-hari. (alw/stch/dda)
















