BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Sepekan setelah peluncuran layanan integrasi Trans Banyumas di Stasiun Purwokerto, tepatnya di Pintu Barat, mulai terlihat peningkatan penggunaan oleh masyarakat.
Namun, layanan tersebut masih menghadapi sejumlah kendala teknis serta kurangnya pemahaman dari pengguna yang berpotensi mengganggu kenyamanan dan efektivitas transportasi terintegrasi ini.
Direktur Utama PT Banyumas Raya Transportasi, Ipoeng Martha Marsikun, menyatakan bahwa dalam seminggu terakhir jumlah pengguna layanan ini cukup signifikan.
“Yang naik dan turun ke Pintu Barat Stasiun seminggu ini sudah banyak, sekitar 800an,” ungkapnya.
Angka tersebut mencerminkan antusiasme masyarakat terhadap layanan baru ini, meskipun belum sepenuhnya siap untuk memenuhi kebutuhan penumpang secara optimal.
Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah kebingungan pengguna dalam menentukan koridor yang tepat saat hendak menggunakan layanan Trans Banyumas.
Situasi ini menunjukkan bahwa sosialisasi dan edukasi mengenai rute masih perlu ditingkatkan.
“Kami sebagai pengelola juga menyediakan petugas untuk mengedukasi dan menjelaskan rute Trans Banyumas yang turun di Pintu Barat,” tambah Ipoeng.
Petugas-petugas tersebut bersiaga di halte Pintu Barat guna membantu pengguna memahami alur perjalanan dengan lebih baik.
Mereka tidak hanya memberikan informasi mengenai rute, tetapi juga melakukan edukasi melalui tampilan layar Public Transportation Information System yang tersedia.
Upaya ini bertujuan untuk menekan tingkat kebingungan penumpang sehingga mereka dapat menggunakan layanan dengan lebih nyaman.
“Melayani di sana dari 1 April sampai 30 April,” jelasnya, menjadikan periode tersebut sebagai waktu edukasi intensif bagi masyarakat mengenai penggunaan layanan integrasi ini.
Selain isu edukasi, kendala teknis juga menjadi sorotan signifikan dalam operasional layanan ini.
Salah satu masalah yang sering muncul adalah gangguan pada palang pintu masuk yang membuat pengoperasian menjadi kurang lancar.
“Terkendala kurang personel di pintu masuk, palang pintu sering error,” keluh Ipoeng.
Ia menekankan bahwa perbaikan fasilitas serta penambahan petugas menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas layanan.
Mayoritas penumpang yang memanfaatkan layanan integrasi ini berasal dari wilayah Ajibarang. Banyak dari mereka membawa koper karena terhubung dengan perjalanan kereta.
“Penumpang kebanyakan dari Ajibarang, banyak bawa koper,” tambahnya.
Hal ini menunjukkan bahwa layanan integrasi telah mulai dimanfaatkan untuk mobilitas antarmoda yang lebih baik.
Saat ini terdapat tiga koridor utama yang terhubung langsung ke Stasiun melalui Pintu Barat. Koridor-koridor tersebut dirancang untuk menjangkau berbagai titik strategis di wilayah Banyumas.
Koridor pertama melayani rute Ajibarang – Pasar Pon – Stasiun Purwokerto – Kota hingga SMAN 1 Purwokerto.
Koridor ini juga terintegrasi dengan Koridor kedua menuju kawasan Universitas Jenderal Soedirman, Baturraden, Patikraja, Notog, hingga Menara Pandang dan Alun-alun.
Koridor ketiga memiliki dua cabang; Koridor 3A berangkat dari Terminal Bulupitu dan terhubung dengan Koridor 4 dari Kota Lama Banyumas.
Rute Koridor 3A melintasi Tanjung dan kawasan pendidikan seperti Unwiku, Beji, Dukuhwaluh, dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto sebelum kembali ke terminal.
Sementara itu, Koridor 3B menghubungkan kawasan kampus seperti UMP, Beji, dan Unwiku dengan Stasiun Purwokerto.
Jalur ini juga terintegrasi dengan layanan Trans Jateng menuju Bukateja dan Purbalingga serta Koridor 4 ke Kota Lama Banyumas.
Dengan adanya keterhubungan antara berbagai moda transportasi ini, harapannya adalah menciptakan kemudahan akses bagi masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari.
Dalam konteks perkembangan transportasi publik di daerah Banyumas, langkah-langkah perbaikan terus dilakukan untuk memastikan kenyamanan pengguna tetap menjadi prioritas utama.
Pentingnya edukasi kepada masyarakat tidak bisa dipandang sebelah mata karena hal inilah yang akan menentukan keberhasilan implementasi sistem transportasi terintegrasi seperti Trans Banyumas ini.
Jika masyarakat paham akan rute dan cara menggunakan layanan ini dengan baik, maka akan berdampak langsung terhadap peningkatan angka pengguna sekaligus menurunkan potensi kebingungan saat menggunakan transportasi publik.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan, PT Banyumas Raya Transportasi juga berencana melakukan evaluasi berkala terhadap operasional armada serta fasilitas pendukung lainnya.
Dengan melakukan tindakan proaktif seperti perbaikan fasilitas serta penambahan jumlah petugas di lapangan secara berkala, mereka berharap dapat memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. (res/stch/dda)
















