BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Pelaksanaan upacara bendera di sekolah dasar di Kabupaten Banjarnegara baru-baru ini menjadi sorotan, terutama terkait durasi kegiatan yang dinilai terlalu lama.
Upacara yang seharusnya menjadi momentum untuk menanamkan rasa cinta tanah air ini, sering kali berlangsung lebih dari satu jam, sehingga membuat siswa merasa lelah.
Hal ini disampaikan oleh Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, dalam sebuah acara halal bihalal yang dilaksanakan di SMP Negeri 2 Banjarnegara pada Rabu (1/4/2026).
Amalia Desiana mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah menerima sejumlah keluhan dari masyarakat mengenai lamanya waktu pelaksanaan upacara bendera di beberapa sekolah dasar.
“Upacara tetap penting untuk menanamkan rasa cinta tanah air. Tapi penyampaian sambutan atau pesan dari pembina upacara jangan terlalu panjang,” ungkapnya.
Pernyataan ini menunjukkan perhatian pemerintah daerah terhadap kesejahteraan dan kenyamanan siswa dalam mengikuti kegiatan yang seharusnya bersifat edukatif.
Dalam konteks ini, bupati menekankan pentingnya kesesuaian antara durasi upacara dengan kondisi fisik anak-anak yang masih dalam tahap tumbuh kembang.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak di jenjang sekolah dasar secara fisik belum sekuat pelajar di tingkat pendidikan yang lebih tinggi seperti SMP atau SMA.
Oleh karena itu, ia mengusulkan agar durasi upacara bendera ditetapkan dalam rentang waktu 30 hingga 40 menit saja.
“Ada laporan upacara yang sampai lebih dari satu jam, itu kasihan anak-anak,” jelas Amalia dengan nada empati.
Keprihatinan Bupati Amalia tidak hanya terfokus pada aspek fisik siswa, tetapi juga pada makna dari upacara itu sendiri.
Ia berharap penyesuaian durasi tidak akan mengurangi esensi dan tujuan utama dari kegiatan tersebut.
Menurutnya, upacara bendera harus tetap menjadi sarana penting untuk menanamkan kedisiplinan dan kecintaan terhadap bangsa sejak usia dini.
Namun, pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan siswa agar mereka tetap antusias dan nyaman dalam mengikuti kegiatan tersebut.
Kegiatan halal bihalal yang diadakan di SMP Negeri 2 Banjarnegara ini bukan sekadar ajang silaturahmi setelah libur panjang, tetapi juga melibatkan berbagai pihak terkait pendidikan.
Acara tersebut dihadiri oleh sebanyak 1.026 orang, termasuk kepala sekolah dari tingkat SD dan SMP, pengawas sekolah, penilik pendidikan nonformal, serta pengelola pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) dan sanggar kegiatan belajar (SKB).
Kehadiran sebanyak itu menunjukkan komitmen semua elemen pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Banjarnegara.
Selain membahas isu durasi upacara bendera, acara halal bihalal ini juga diisi dengan aksi sosial berupa penggalangan donasi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Ini merupakan langkah positif yang menunjukkan kepedulian komunitas pendidikan terhadap lingkungan sekitar.
Aksi sosial semacam ini menjadi contoh nyata bagaimana institusi pendidikan tidak hanya berfokus pada akademis tetapi juga berperan aktif dalam membantu masyarakat.
Penting untuk dicatat bahwa upacara bendera bukan hanya sekadar rutinitas mingguan yang berlangsung tanpa makna.
Kegiatan ini memiliki tujuan mulia yaitu memperkuat rasa kebersamaan dan nasionalisme di kalangan generasi muda.
Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan pola pikir generasi muda saat ini, adaptasi terhadap cara penyampaian pesan dalam upacara bendera sangat diperlukan agar pesan-pesan tersebut dapat diterima dengan baik oleh para siswa.
Dengan adanya usulan dari Bupati Amalia Desiana mengenai penyesuaian durasi upacara bendera, diharapkan hal ini dapat dipertimbangkan oleh pihak sekolah dan pengelola pendidikan lainnya. (jud/stch/dda)
















