Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Jembatan Merah Purbalingga Tetap Jadi Primadona Warga Lokal Meski Berstatus Terbatas

Jembatan merah masih favorit warlokJembatan merah masih favorit warlok

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Jembatan Tegalpingen yang menghubungkan Kecamatan Pengadegan dan Pepedan (Karangmoncol), atau lebih populer disebut Jembatan Merah, masih menjadi pilihan utama warga lokal (warlok) sebagai jalur alternatif menuju Karangmoncol dari pusat kota Purbalingga.

Fakta ini cukup menarik mengingat jembatan ini sebenarnya masih dalam status terbatas dengan pemasangan portal permanen di kedua sisi sejak beberapa waktu terakhir.

Meski terdapat pembatasan akses, aktivitas kendaraan roda dua dan mobil kecil tetap terlihat ramai melintas, terutama sejak musim Lebaran hingga sekarang.

Angga, salah seorang warga Karangmoncol yang rutin beraktivitas di kota Purbalingga, mengungkapkan alasan preferensinya terhadap jalur ini.

“Lebih pendek jalurnya jika akan ke Karangmoncol dari Purbalingga, daripada muter lewat Bobotsari, Karanganyar, Kertanegara,” ujarnya.

Kenyamanan rute ini ternyata tidak sepenuhnya sempurna. Rizal, warga Rembang yang kerap melintas di malam hari, membagikan pengalamannya.

“Selain lampu jalan kurang, ada jalan patah beberapa puluh meter sebelum Jembatan Merah. Harus tetap hati-hati,” katanya.

Ia juga memberikan tips khusus bagi pengendara mobil. “Saat sampai di portal jembatan, ada baiknya spion ditekuk. Karena untuk kendaraan roda empat, sangat mepet.”

Status Jembatan Merah sebenarnya masih menjadi perhatian khusus. Berdasarkan rekomendasi Komisi Keselamatan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) beberapa tahun lalu, struktur jembatan sepanjang 130 meter ini dinilai memerlukan perbaikan untuk bisa layak dilintasi kendaraan besar dan berat.

Jembatan yang membentang di atas aliran Sungai Karang ini dibangun tahun 2017 dengan anggaran mencapai Rp28 miliar, menghubungkan Desa Pepedan (Karangmoncol) dan Desa Tegalpingen (Pengadegan).

Fenomena ini menunjukkan ketergantungan masyarakat terhadap infrastruktur transportasi yang efisien, meski dengan segala keterbatasan dan kasusnya yang sampai saat ini masih ditangani. (cah/*stch)

Berita Sebelumnya
Sekolah rakyat

Pemerintah Targetkan 200 Sekolah Rakyat di 2025, 53 Unit Sudah Siap Operasional

Berita Selanjutnya
Wayang kertas kebumen

Awalnya Hanya Iseng, Kini Karyanya Tersebar ke Nusantara: Kisah Inspiratif Dua Bersaudara Perajin Wayang Kulit Asal Kebumen