BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Rizki Santosa, seorang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pernah bekerja di Jepang, kini sukses mengembangkan usaha ternak kelinci di kampung halamannya, Desa Lemberang Sokaraja.
Dari awalnya yang hanya sebuah hobi, kini Rizki mampu menghasilkan pendapatan yang tidak kalah dengan pekerjaannya sebelumnya di Negeri Sakura.
Berkat kerja keras dan ketekunan, Rizki berhasil mengelola ternak kelinci dengan jumlah tidak kurang dari 30 ekor, yang terdiri dari berbagai jenis kelinci seperti Rex, Heyla, dan NZ.
Saat ditemui di kediamannya pada pagi hari, Rizki sedang menyelesaikan tugasnya membersihkan kandang kelinci. Dikenal sebagai pekerja keras, ia memulai usaha ternak kelinci sekitar satu setengah tahun yang lalu.
Dari dua ekor kelinci awal, jumlah ternaknya berkembang pesat menjadi 30 ekor. Rizki bahkan berhasil menjual kelinci jenis NZ merah dewasa dengan harga di atas Rp 1 juta per ekor, sebuah prestasi yang cukup membanggakan.
“Kalau dibandingkan dengan hasil kerja di Jepang, tentu jauh. Tapi alhamdulillah, ada saja pemasukan dari kandang kelinci. Omsetnya bisa jutaan rupiah per bulan, meskipun tidak tetap,” ujar Rizki dengan rendah hati.
Bagi Rizki, beternak kelinci bukan hanya soal mencari cuan, tetapi lebih pada hobi yang kemudian membuahkan hasil.
Dengan pengalaman lima tahun bekerja sebagai welder (juru las) di Niigata, Jepang, Rizki membawa keterampilan teknisnya untuk mengelola ternak kelinci.
Dari satu indukan kelinci, Rizki bisa mendapatkan delapan hingga sembilan ekor anakan yang siap dijual.
Untuk kebutuhan pakan, Rizki juga memanfaatkan mesin pencetak pelet yang ia buat sendiri, sehingga bisa menghemat biaya pakan.
“Saya olah hijauan dan konsentrat menjadi pelet. Dalam sekali olah, saya bisa menghasilkan sekitar tujuh sampai delapan kilogram pelet untuk konsumsi kelinci,” tambahnya.
Namun, seperti peternak lainnya, Rizki juga menghadapi tantangan. Ia sempat mengalami kerugian karena beberapa kelinci mati terjepit di kandang, serta serangan jamur yang menyerang kelinci.
Namun, dengan ketekunan, Rizki akhirnya menemukan solusi dan cara untuk mengatasi masalah tersebut.
Lebih dari sekadar penjualan kelinci, Rizki juga memanfaatkan semua bagian dari kelinci untuk menambah penghasilan.
Daging kelinci kini mulai banyak dikonsumsi, dan bahkan urin serta kotoran kelinci laku dijual sebagai bahan penyubur tanaman atau pupuk organik.
“Satu galon urin kelinci dihargai belasan ribu rupiah. Meski belum banyak yang membeli, sudah ada pembeli yang rutin,” ujar Rizki.
Ayahnya yang sehari-hari bekerja di sawah juga menggunakan kotoran kelinci sebagai pupuk untuk tanaman cabai. Hasilnya sangat memuaskan; cabai yang dibudidayakan dengan campuran pupuk kotoran kelinci tumbuh subur dan menghasilkan kualitas yang baik.
“Orang-orang yang datang ke kandang sering kali bertanya-tanya tentang cara beternak kelinci. Kami saling berbagi pengalaman, dan siapa tahu mereka juga tertarik membeli kelinci,” pungkas Rizki.
Tak hanya menguntungkan secara ekonomi, usaha ternak kelinci ini juga memberikan peluang bagi Rizki dan orang lain untuk terus belajar dan berkembang.
Dengan hasil yang terus berkembang, Rizki Santosa membuktikan bahwa dengan ketekunan, hobi bisa bertransformasi menjadi usaha yang menguntungkan dan bermanfaat bagi banyak orang. (yda/stch)
















