BANYUMASEKSPRES.ID, Pemerintah mulai menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi potensi kekeringan yang dipicu oleh fenomena iklim El Nino.
Kondisi tersebut diperkirakan dapat memengaruhi produksi pertanian di berbagai wilayah Indonesia jika tidak diantisipasi sejak dini.
Potensi dampak kekeringan ini menjadi perhatian serius pemerintah karena sektor pertanian berperan penting dalam menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.
Risiko penurunan produksi dapat terjadi apabila ketersediaan air di lahan pertanian menurun secara signifikan.
Untuk mengatasi potensi tersebut, pemerintah menyiapkan lima strategi utama yang difokuskan pada penguatan sistem mitigasi, pengelolaan air, hingga percepatan kegiatan tanam di sejumlah wilayah.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan langkah mitigasi dipercepat guna menjaga stabilitas produksi pangan nasional.
Upaya ini dinilai penting terutama pada periode kritis yang diperkirakan terjadi antara April hingga Juni 2026.
“Kita perlu melakukan langkah-langkah strategis dan percepatan untuk menghadapi potensi El Nino,” kata Amran seperti dikutip dari laman resmi Kementan, Minggu (5/4).
Langkah antisipasi tersebut diambil setelah adanya peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG terkait potensi kemunculan El Nino.
Fenomena iklim tersebut diketahui dapat meningkatkan risiko kekeringan yang berdampak langsung pada sektor pertanian.
Amran menjelaskan strategi pertama yang dilakukan pemerintah adalah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan.
Pemetaan tersebut disertai dengan penguatan sistem peringatan dini atau early warning system agar potensi ancaman dapat direspons lebih cepat.
Melalui sistem peringatan dini yang lebih kuat, pemerintah diharapkan mampu melakukan langkah mitigasi sebelum dampak kekeringan meluas. Dengan demikian, risiko gagal panen dapat ditekan sedini mungkin.
Strategi kedua yang disiapkan pemerintah adalah mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air. Langkah ini dilakukan melalui rehabilitasi jaringan irigasi serta pemanfaatan embung sebagai cadangan air bagi lahan pertanian.
Selain itu, penguatan irigasi perpompaan juga menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Program pompanisasi serta pengembangan sistem perpipaan diharapkan mampu membantu petani mengakses air meskipun kondisi curah hujan menurun.
Langkah ketiga yang disiapkan pemerintah adalah mempercepat proses tanam di wilayah yang masih memiliki potensi ketersediaan air.
Upaya ini difokuskan pada daerah-daerah yang selama ini menjadi sentra produksi pangan nasional.
Wilayah yang diprioritaskan dalam percepatan tanam tersebut meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Jawa Barat. Ketiga provinsi tersebut dikenal memiliki kontribusi besar terhadap produksi padi nasional.
Dengan percepatan masa tanam, pemerintah berharap produksi pangan tetap dapat dipertahankan meskipun terdapat ancaman penurunan curah hujan akibat fenomena El Nino.
Strategi keempat yang dilakukan adalah optimalisasi pemanfaatan lahan pertanian. Pemerintah mendorong pemanfaatan lahan rawa maupun area cetak sawah yang telah dibangun agar segera ditanami.
Langkah tersebut diharapkan mampu membantu mengejar target produksi pertanian nasional. Pemanfaatan lahan yang lebih maksimal juga menjadi salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan stok pangan dalam negeri.
Sementara itu, strategi kelima yang disiapkan adalah memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Koordinasi ini dinilai penting agar seluruh program percepatan dapat berjalan efektif di lapangan.
Selain menjalankan lima strategi tersebut, Kementerian Pertanian juga mendorong pemerintah daerah untuk segera mengusulkan kebutuhan sarana irigasi perpompaan.
Pengajuan tersebut diharapkan dapat membantu percepatan penyediaan fasilitas pendukung pertanian.
“Daerah yang masih membutuhkan irpom segera usulkan secara online agar kita bisa geser anggaran,” ujar Amran.
Ia menekankan bahwa percepatan langkah mitigasi sangat penting untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional di tengah potensi dampak fenomena El Nino yang dapat memicu kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.(fam)
















