Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

127 Desa Rawan Banjir, BPBD Cilacap Tingkatkan Siaga Musim Hujan Periode 2025-2026

127 desa dan kelurahan rawan banjir127 desa dan kelurahan rawan banjir
Kepala Pelaksana BPBD, Taryo meninjau Sarpras untuk kelengkapan dalam penanganan darurat bencana daerah

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Di tengah ancaman cuaca ekstrem, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim hujan periode 2025 hingga 2026.

Sebanyak 127 desa dan kelurahan di wilayah Cilacap tergolong rawan banjir ketika curah hujan mencapai tingkat tinggi.

Antisipasi dini ini penting mengingat informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan bahwa musim hujan datang lebih awal daripada biasanya dan diperkirakan berlangsung hingga Maret 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, mengungkapkan bahwa masyarakat perlu memperhatikan perubahan cuaca ekstrem yang sudah dapat dirasakan sejak Agustus lalu.

“Informasi dari BMKG, musim hujan tahun ini datang lebih awal dan diperkirakan berlangsung hingga Januari bahkan Maret 2026,” ujarnya pada Rabu (22/10).

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya kewaspadaan masyarakat terutama yang tinggal di daerah rawan banjir karena bencana dapat terjadi sewaktu-waktu.

Untuk mengantisipasi potensi bencana tersebut, BPBD melibatkan seluruh unsur forum pentahelix yang terdiri dari TNI, Polri, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), BUMN, BUMD, pihak swasta, hingga para relawan.

“Kami mengadakan rapat koordinasi kontinjensi banjir dengan berbagai pihak termasuk BBWS Serayu Opak dan BBWS Citanduy,” jelas Taryo.

Langkah ini bertujuan untuk menyusun rencana kontinjensi banjir sebagai bagian dari mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi musim penghujan.

Rencana kontinjensi banjir ini akan menjadi panduan bersama sehingga saat terjadi keadaan darurat keputusan dapat diambil dengan cepat dan tepat.

Taryo juga memastikan kesiapan hingga tingkat wilayah melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPBD yang berperan sebagai garda terdepan dalam penanganan bencana daerah.

“Seluruh personel sarana prasarana dan logistik di UPT sudah kami cek semuanya dalam kondisi siap siaga,” terangnya.

Meski demikian Taryo menegaskan bahwa penanganan bencana tidak bisa dilakukan oleh BPBD sendiri. Sinergi lintas elemen sangat dibutuhkan agar mitigasi dapat berjalan efektif.

Hal ini semakin ditekankan oleh curah hujan ekstrem beberapa waktu lalu yang sempat menjadi peringatan dini bagi Cilacap.

Sejumlah titik di wilayah kota sempat tergenang air hingga hampir satu meter akibat hujan deras yang terjadi sejak pukul 21.00 hingga 04.00 membuat saluran air meluap ke permukiman.

Selain ancaman banjir BPBD juga menyoroti potensi longsor di wilayah barat Cilacap yang memiliki kontur pegunungan.

Potensi bencana ini tidak bisa dianggap remeh sehingga kesiapsiagaan bersama menjadi harapan agar musim hujan tahun ini dapat dilalui tanpa korban jiwa maupun kerugian besar.

BPBD Cilacap terus bekerja keras untuk memastikan kesiapan semua pihak terkait dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem ini.

Dengan mengedepankan sinergi antar lembaga serta kesadaran masyarakat akan pentingnya waspada menghadapi bencana besar harapan besar tertuju pada minimnya dampak buruk yang mungkin terjadi selama musim penghujan.

Sebagai langkah nyata Kepala Pelaksana BPBD Cilacap Taryo secara langsung meninjau kelengkapan sarana prasarana untuk penanganan darurat bencana daerah.

Kesiapan infrastruktur penanggulangan bencana menjadi faktor kunci dalam meminimalisir dampak negatif dari ancaman banjir dan longsor di wilayah Kabupaten Cilacap.

Melalui kerja keras kolaboratif berbagai pihak tersebut diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih aman bagi masyarakat meskipun berada dalam situasi cuaca ekstrem sekalipun. (gia/dda)

Berita Sebelumnya
Angka kemiskinan turun 0,9 persen

Kabupaten Temanggung Catat Penurunan Angka Kemiskinan 0,9 persen di Triwulan Tahun 2025

Berita Selanjutnya
Wakhid jumali: santri harus melek digital

Wakil Bupati Banjarnegara Dorong Santri Kuasai Ilmu Agama dan Sains di Era Globalisasi