BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Kerusakan parah pada tanggul irigasi yang terletak di Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang, kini menjadi perhatian serius pemerintah pusat.
Tanggul yang jebol ini berpotensi mengancam pasokan air untuk sekitar 161 hektare lahan pertanian, yang merupakan sumber penghidupan bagi banyak petani setempat.
Dalam rangka menangani masalah ini dengan cepat dan efektif, Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum, Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw, melakukan kunjungan langsung ke lokasi bencana.
Dalam kunjungannya yang didampingi oleh Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), Maryadi Utama, serta Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, Arnold mengecek kondisi tanggul yang mengalami kerusakan cukup signifikan.
Ia memantau proses penanganan darurat yang sedang berlangsung menggunakan alat berat, untuk memastikan bahwa langkah-langkah perbaikan dapat dilakukan secepat mungkin.
Maryadi Utama menjelaskan bahwa penanganan saat ini dilakukan melalui dua jalur utama.
Pertama adalah langkah darurat yang bertujuan untuk menjaga suplai air pertanian agar tetap berjalan. Kedua adalah perbaikan permanen pada bagian tanggul yang jebol.
“Saat ini kami fokus menutup bagian tanggul yang rusak menggunakan batu dan bronjong sebagai pengaman sementara. Bersamaan dengan itu kami menyiapkan konstruksi permanen agar fungsi jaringan irigasi bisa kembali normal,” ungkapnya pada Selasa (2/6/2026).
Hasil kajian awal menunjukkan bahwa kerusakan tanggul tersebut dipicu oleh kombinasi beberapa faktor.
Salah satu faktor utama adalah tingginya debit air akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Selain itu, kondisi bangunan tanggul itu sendiri juga menjadi penyebab, karena telah berusia cukup tua dan tidak mendapatkan perawatan yang memadai selama ini.
Situasi ini diperparah oleh penurunan struktur tanah di sekitar tanggul yang belum mendapatkan rehabilitasi besar-besaran.
Untuk menghindari kekurangan pasokan air bagi lahan pertanian selama proses perbaikan berlangsung, BBWSSO telah mengambil langkah proaktif dengan mengoperasikan sistem pompanisasi darurat.
“Sementara kebutuhan air petani dipenuhi melalui pompa dari Saluran Sekunder Siwuluh. Sampai saat ini distribusi air masih bisa kami jaga dan proses penanganan berjalan sesuai rencana,” tambah Maryadi.
Dengan optimisme tinggi, BBWSSO menargetkan agar pekerjaan perbaikan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan ke depan. (jud/stch/dda)
















