BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Bupati Kebumen, Lilis Nuryani, menghadiri acara tradisi Ruwat Bumi di Desa Ginandong, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen pada Jumat (4/7).
Meskipun harus menempuh perjalanan yang cukup menantang melalui jalanan rusak dan sepi, kehadiran Bupati Lilis menunjukkan apresiasi tinggi terhadap tradisi tahunan ini yang berlangsung semalam suntuk.
Tradisi Ruwat Bumi atau dikenal juga sebagai slametan atau tasyakuran merti bumi, diselenggarakan setiap bulan Muharam atau bulan Sura.
Acara ini bukan sekadar perayaan biasa; melainkan merupakan ungkapan syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah.
Kepala Desa Ginandong, Ahmad Suratman, menjelaskan bahwa rangkaian acara dimulai dengan ziarah pada siang hari. Prosesi dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng gunungan hasil bumi oleh seluruh masyarakat desa.
“Kami juga menyembelih dua kambing sebagai bagian dari slametan besar ini. Masyarakat berkumpul membawa semua hasil bumi mereka,” kata Ahmad Suratman dalam keterangannya kepada media.
Antusiasme warga benar-benar terasa dalam acara tersebut. Hal ini terlihat dari jumlah donasi yang terkumpul mencapai Rp 18.140.000, mencerminkan semangat gotong royong yang tinggi di kalangan masyarakat.
Dana tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi puncak dari seluruh rangkaian acara.
Dalam sambutannya, Bupati Lilis Nuryani mengungkapkan rasa bangga dan apresiasinya terhadap kelestarian tradisi luhur ini meskipun harus menempuh perjalanan yang menantang menuju desa tersebut.
“Izinkan saya menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas undangan dan sambutan hangat dari Bapak Ibu semua. Kehadiran saya di tengah-tengah acara ini bukan semata sebagai tamu, tetapi lebih dari itu, saya datang dengan rasa bangga dan rasa memiliki terhadap tradisi luhur yang dijaga dengan penuh cinta oleh masyarakat Desa Ginandong,” tuturnya.
Bupati menekankan bahwa Ruwat Bumi bukan hanya sekadar adat istiadat, tetapi juga menjadi cerminan rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat panen dan keselamatan, serta simbol kebersamaan dan kearifan lokal yang sangat berharga.
Ia juga menyebutkan pentingnya Desa Ginandong dalam konteks Kawasan Geopark Kebumen yang telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark.
“Ini adalah sebuah kebanggaan sekaligus amanah. Karena Geopark bukan hanya soal alam dan batuan, tetapi juga tentang budaya dan manusia yang hidup di dalamnya. Dan Ruwat Bumi ini adalah salah satu wujud nyata kekayaan budaya yang mendukung nilai-nilai Geopark tersebut,” jelas Bupati Lilis.
Lebih lanjut, harapan besar disematkan kepada generasi muda untuk terus menjaga tradisi ini agar tetap lestari di masa depan.
“Melihat banyak anak muda yang terlibat dalam acara ini membuat saya optimis. Karena keberlanjutan tradisi ada di tangan generasi penerus,” pungkas Bupati sebelum secara simbolis menyerahkan gunungan wayang kepada Ki Dalang Siswadi Mudo Carito, menandai dimulainya pagelaran wayang kulit.
Pada kesempatan itu, tampak hadir mendampingi Bupati Lilis sejumlah pejabat dan tokoh penting lainnya seperti Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pertanian (DLHKP) Asep Nurdiana, Camat Karanggayam, Danramil Karanggayam, Kapolsek Karanggayam serta beberapa tokoh adat seperti Mbah Tawintana dan Mbah Reja Pawira.
Paguyuban Kepala Desa se-Kecamatan Karanggayam beserta perangkat desa lainnya turut meramaikan acara tersebut bersama Ketua RW dan RT setempat.
Tidak ketinggalan pula Ketua Tim Penggerak PKK, anggota Karang Taruna beserta Linmas serta tokoh agama dan tokoh masyarakat turut hadir memberikan dukungan atas suksesnya penyelenggaraan acara Ruwat Bumi ini.
Acara Ruwat Bumi di Desa Ginandong tidak hanya memperkuat ikatan sosial antarwarga namun juga menjadi salah satu cara efektif menjaga warisan budaya agar terus dikenal oleh generasi selanjutnya sekaligus meningkatkan potensi wisata berbasis budaya di Kabupaten Kebumen. (fur/stch)
















