BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di sebuah dapur kecil di kawasan RT 3 RW 3 Kelurahan Sumpiuh, Selasa (25/11), aroma khas minyak panas dan adonan tepung menciptakan suasana yang berbeda dari rutinitas rumah tangga biasa.
Dari dapur mungil ini, lahir sebuah inovasi kuliner yang kini menjadi pembicaraan hangat, yakni Tarobog – keripik unik berbahan dasar limbah gedebog pisang.
Produk ini begitu digemari hingga membuat pemiliknya, Sugeng Siswanto dan istrinya Dewi atau Novriati, kewalahan memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat.
Di tengah kepulan asap dari wajan besar, Dewi bergerak gesit seolah berperan sebagai dua orang sekaligus.
Kedua tangannya sibuk membalik keripik agar tidak gosong sementara telinga dan matanya tetap awas pada dering ponsel yang tak henti-hentinya berbunyi di belakangnya.
“Tarobog masih digoreng,” ujar Dewi sambil tersenyum lelah namun lega, “Pesanan sudah masuk, ada juga yang datang ke rumah menunggu tarobog baru matang dingin dulu baru dikemas.”
Di usia 52 tahun, kesibukan dapur ini lebih terasa sebagai anugerah karena produk mereka diterima dengan baik oleh pasar.
Di sisi lain dapur, Sugeng Siswanto tak kalah sibuk. Dengan keterampilan mengiris yang presisi dan cepat, Sugeng memastikan setiap potongan gedebog menjadi lembaran tipis dan berongga.
Potongan tersebut tidak boleh terlalu tebal atau terlalu basah agar menghasilkan Tarobog yang sempurna.
“Setiap produksi Tarobog selalu habis,” kata Sugeng di sela-sela pekerjaannya.
“Kadang kurang, pesanan dilayani kembali menunggu hari besok.”
Denting cutter yang beradu dengan talenan serta gemerisik minyak dari wajan menjadi semacam musik kehidupan bagi pasangan ini.
Produk Tarobog kini telah mencapai berbagai daerah seperti Ambon, Lampung, Jakarta, Bandung, Tegal, Magelang, Solo, Bogor dan Kalimantan.
Pesanan datang bertubi-tubi hingga pasangan ini harus pandai membagi waktu dan bahkan menunda kegiatan lain demi memenuhi permintaan pasar.
Namun perjalanan menuju sukses tidak selalu mulus sejak awal. Usaha keripik berbahan baku pohon pisang sebenarnya dimulai pada 2016 dengan produk bernama keripik bedogol.
Sayangnya usaha tersebut hanya bertahan dua tahun karena kesibukan Sugeng sebagai penyelenggara pemilu.
Peluang baru muncul saat Camat Sumpiuh saat itu menugaskan Sugeng mengikuti lomba inovasi ketahanan pangan.
Sugeng kembali memproduksi keripik bedogol namun kali ini mencampurkan pelepah batang pisang dalam proses pembuatannya.
Hasilnya mengejutkan: keripiknya renyah dengan rasa gurih berbeda serta tekstur unik. Meski inovasi keripik Tarobog gagal memenangkan lomba Sugeng justru melihat peluang besar dari sana.
“Gagal lomba tidak apa-apa,” tuturnya bijak.
“Kami menikmati hikmahnya dan harapannya Tarobog bisa berkembang menjadi ikon oleh-oleh khas Sumpiuh.”
Sejak 22 Oktober 2025 Sugeng mulai memproduksi Tarobog secara serius dengan mengurus segala legalitas usahanya mulai dari nomor induk berusaha sertifikat halal hingga PIRT.
Baginya legalitas bukan sekadar formalitas tetapi bagian dari kesungguhannya ingin membawa Tarobog naik kelas.
Bahan baku gedebog pisang yang melimpah menjadi faktor pendukung lainnya dalam pengembangan usaha ini tanpa adanya kelangkaan bahan atau biaya besar untuk penanaman.
Di dapur mereka yang jarang sepi Dewi sering kali harus menghentikan penggorengan karena adonan tepung habis sementara Sugeng harus mengiris lebih cepat sebab pesanan mendesak harus dikirim hari itu juga.
Namun semua kelelahan terbayar ketika ponsel kembali berdering dengan pelanggan setia di ujung sana menanyakan stok atau menambah pesanan atau sekadar memberi kabar bahwa kiriman sebelumnya langsung ludes terjual.
Bagi pasangan ini Tarobog bukan hanya soal rasa tetapi juga bukti bahwa limbah dapat menjadi peluang ekonomi bahwa kegagalan dapat menjadi batu loncatan menuju kesuksesan tak terduga serta bahwa kerja sama suami istri dapat melahirkan sesuatu lebih besar dari sekadar produk rumahan. (fij/dda)
















