Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Lowongan Magang Jepang Jadi Kesempatan Emas Untuk Lulusan Kampus RI
Lahan Tembakau Purbalingga Menyusut 40 Hektare, Cuaca Ekstrem Bikin Petani Beralih Komoditas

Lahan Tembakau Purbalingga Menyusut 40 Hektare, Cuaca Ekstrem Bikin Petani Beralih Komoditas

Lahan Tembakau Susut 40 HektareLahan Tembakau Susut 40 Hektare
CEK TEMBAKAU: Kepala DPPP Kabupaten Purbalingga Prayitno berdiskusi dengan petani tembakau terkait kondisi budidaya tembakau yang mengalami penurunan luas lahan dalam dua tahun terakhir

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Kabupaten Purbalingga mengalami penurunan yang signifikan dalam luasan lahan tembakau, dengan pengurangan sekitar 40 hektare dalam setahun terakhir.

Fenomena cuaca ekstrem yang melanda daerah tersebut pada tahun 2025 menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi minat petani untuk terus menanam tembakau.

Menurut Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga, Prayitno, kondisi cuaca yang tidak menentu berdampak negatif terhadap proses penjemuran tembakau.

Hal ini berujung pada penurunan kualitas dan harga jual hasil panen. Prayitno menjelaskan bahwa situasi ini menciptakan ketidakpastian bagi para petani.

“Hal itu menyebabkan harga tembakau merosot. Sehingga, petani enggan menanam tembakau,” ungkapnya saat berbincang dengan awak media pada Selasa (3/6/2026).

Penurunan harga tembakau membuat banyak petani merasa tidak lagi mendapatkan keuntungan dari komoditas ini, sehingga mereka memilih untuk menghentikan budidaya tembakau dan beralih ke tanaman lain yang dinilai lebih menguntungkan.

Data terbaru dari DPPP menunjukkan bahwa luas lahan tembakau di Kabupaten Purbalingga pada tahun 2026 tersisa hanya 36,06 hektare.

Lahan-lahan tersebut tersebar di dua desa sentra tembakau yang terletak di Kecamatan Karangreja.

Di Desa Serang, terdapat lahan tembakau seluas 18,3 hektare yang dikelola oleh 266 petani.

Sementara itu, di Desa Kutabawa, lahan tembakau mencapai 17,76 hektare dengan jumlah petani sebanyak 288 orang.

Meskipun terjadi penurunan luas lahan, pemerintah daerah tetap berkomitmen untuk memberikan dukungan kepada para petani melalui alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Pada tahun ini, DPPP Kabupaten Purbalingga menerima alokasi DBHCHT sebesar Rp494.996.800.

Anggaran tersebut direncanakan untuk sejumlah program yang bertujuan meningkatkan kapasitas petani.

Beberapa program yang akan dilaksanakan meliputi pelatihan mengenai agensia hayati, peningkatan kualitas tembakau, pembuatan pupuk organik, serta pelatihan tentang olahan pangan lokal.

Selain pelatihan untuk meningkatkan keterampilan para petani, bantuan fisik juga disalurkan kepada kelompok tani.

Bantuan tersebut mencakup satu unit UPH Dome Dryer yang dapat digunakan untuk meningkatkan proses pengeringan hasil panen tembakau agar lebih efisien dan berkualitas tinggi.

Selain itu, para petani juga menerima berbagai jenis bibit tanaman, termasuk bibit kentang dan bibit kopi arabika sebanyak 2.360 batang.

Pupuk pun menjadi perhatian pemerintah daerah dalam mendukung pertumbuhan tanaman mereka.

Sebanyak 900 kilogram pupuk NPK dan 250 kilogram pupuk ZA disediakan untuk membantu para petani dalam pemupukan tanaman mereka.

Di samping itu, sebanyak 13.090 kilogram pupuk kandang juga diberikan sebagai upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah.

DPPP juga telah mendapatkan dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupa program Good Agriculture Practice (GAP) untuk budidaya tembakau.

Program ini terdiri dari berbagai fasilitas pembibitan tembakau termasuk benih berkualitas tinggi, polytray untuk persemaian yang optimal, serta sarana budidaya lainnya guna mendukung produktivitas para petani.

Namun demikian, tantangan dalam budidaya tembakau tampaknya belum sepenuhnya teratasi bahkan memasuki musim tanam tahun 2026.

Prayitno menegaskan bahwa banyak persemaian tembakau pada tahun ini mengalami kegagalan atau tidak berhasil tumbuh dengan baik akibat faktor cuaca dan kendala lainnya yang menghadang para petani.

Kondisi ini jelas menciptakan kekhawatiran bagi banyak pihak terkait masa depan pertanian tembakau di Purbalingga.

Tidak hanya terkait dengan aspek ekonomi semata tetapi juga menyangkut kelangsungan hidup para petani yang bergantung pada komoditas ini sebagai sumber penghidupan utama mereka.

Sementara itu, masyarakat luas juga harus menyadari bahwa dampak dari penurunan luas lahan dan kualitas hasil panen tembakau tidak hanya dirasakan oleh para petani saja tetapi juga akan memengaruhi pasokan produk tembakau di pasar lokal dan nasional.

Dengan semakin sedikitnya lahan yang ditanami tembakau, kemungkinan besar harga produk akhir akan meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan di pasaran. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Japan Internship Program

Lowongan Magang Jepang Jadi Kesempatan Emas Untuk Lulusan Kampus RI