BANYUMASEKSPRES.ID, Manager Engineering and Development KPI RU IV Cilacap Jefri A Simanjuntak
CILACAP – Sebagai bagian dari komitmen menuju transisi energi bersih dan berkelanjutan, Pertamina terus menunjukkan langkah inovatif dengan memproduksi bahan bakar pesawat ramah lingkungan, atau yang disebut Green Aftur, di Kilang Pertamina International (KPI) Cilacap. Produk ini menggabungkan bahan baku terbarukan seperti minyak sawit olahan (RBDPKO – Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil) dengan bahan bakar fosil, untuk menciptakan bahan bakar pesawat dengan emisi karbon rendah.
Dalam sebuah sesi pengenalan produk kepada awak media Rabu (9/10) Manager Engineering and Development KPI RU IV Cilacap Jefri A Simanjuntak menjelaskan secara detail tentang produk inovatif tersebut.
“Green Aftur merupakan hasil campuran antara minyak inti sawit olahan (RBDPKO) dengan kerosin, campuran minyak sawit dengan sisanya kerosin, yang menghasilkan jet fuel yang jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar konvensional,” ujarnya.
Salah satu keunggulan Green Aftur terletak pada rendahnya kandungan sulfur, yang secara signifikan mengurangi emisi berbahaya seperti H2S. Dengan demikian, bahan bakar ini dinilai sangat ramah lingkungan dan memenuhi standar internasional yang ketat, termasuk International Sustainability Carbon Certification (ISCC).
“Kandungan sulfur yang sangat rendah membuat bahan bakar ini menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih kecil, sejalan dengan target pengurangan emisi global,” tambahnya.
Uji Coba Berhasil dan Siap Diproduksi Masal
Produk Green Aftur ini telah melalui serangkaian uji coba yang ketat, termasuk uji terbang menggunakan pesawat komersial Garuda Indonesia pada tahun 2023, dan hasilnya sangat memuaskan. Saat ini, KPI Cilacap mampu memproduksi bahan bakar ramah lingkungan ini dengan kapasitas sekitar 6.000 barel per hari, dengan target peningkatan kapasitas hingga 12.000 barel di masa depan. Setiap barel setara dengan sekitar 159 liter, yang artinya kilang Cilacap memiliki potensi untuk memproduksi lebih dari 950.000 liter bahan bakar ramah lingkungan setiap harinya.

Strategi Menuju Peningkatan Kapasitas dan Teknologi
Pertamina tidak berhenti di situ. Mereka berencana untuk terus meningkatkan kandungan minyak sawit dalam Green Aftur hingga 30% dari total campuran. Hal ini akan dilakukan dengan peningkatan teknologi kilang, serta pengembangan katalis lokal yang lebih efisien. “Kami berencana untuk melakukan peningkatan teknologi di awal tahun 2024, yang akan membuat produk ini lebih unggul dan mampu memenuhi permintaan pasar yang lebih besar,” ujar salah satu perwakilan teknis di KPI Cilacap.
Pertamina juga tengah menyiapkan infrastruktur supply chain yang kuat, mulai dari pengadaan minyak sawit melalui mekanisme tender, hingga distribusi produk ke pasar internasional. “Kami bekerja sama dengan produsen sawit dalam negeri untuk memastikan pasokan RBDPKO yang stabil dan berkelanjutan. Tujuannya agar produk Green Aftur ini bisa dipasarkan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga secara global,” tambahnya.
Kontribusi Terhadap Pengurangan Emisi Karbon
Salah satu tujuan utama dari pengembangan Green Aftur ini adalah kontribusi terhadap pengurangan emisi karbon dan dampak lingkungan. “Produksi Green Aftur ini bukan hanya soal keuntungan finansial, tetapi juga kontribusi besar terhadap pengurangan emisi karbon global. Kami menghitung bahwa setiap liter bahan bakar ini mampu mengurangi jejak karbon yang signifikan, dibandingkan bahan bakar fosil murni,” kata Jefri.
Dengan menggunakan Green Aftur, Pertamina juga berpotensi mendapatkan kredit karbon dari lembaga internasional, yang dapat meningkatkan nilai ekonomi produk ini.
Potensi Penggunaan Minyak Jelantah
Selain menggunakan minyak sawit murni, Pertamina juga menjajaki kemungkinan menggunakan minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku untuk memproduksi Green Aftur. Namun, proses ini masih membutuhkan pengaturan infrastruktur yang lebih baik, terutama dalam hal pengumpulan minyak jelantah dari berbagai sumber seperti restoran atau rumah tangga.
“Minyak jelantah memiliki potensi besar untuk diolah menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Namun, diperlukan sinergi antara berbagai pihak untuk memastikan pasokan bahan baku yang konsisten,” ujar Jefri.
Dukungan Pemerintah dan Masa Depan Green Aftur
Langkah Pertamina ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah sebagai bagian dari program nasional menuju energi bersih. Green Aftur diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar penerbangan dalam negeri yang semakin ramah lingkungan, sekaligus mendukung posisi Indonesia sebagai produsen utama biofuel di dunia.
Ke depan, Pertamina juga akan terus menyesuaikan diri dengan regulasi energi global yang semakin ketat. Salah satunya adalah regulasi emisi PPM yang akan diberlakukan secara bertahap di berbagai sektor energi.
“Dalam beberapa tahun ke depan, kami menargetkan seluruh produk bahan bakar dari Pertamina, termasuk solar dan bahan bakar pesawat, akan memiliki kandungan emisi PPM yang sangat rendah,” jelas Jefri.

Inovasi untuk Masa Depan Energi yang Lebih Bersih
Dengan segala upaya ini, Pertamina menunjukkan komitmen kuatnya dalam mendukung transisi energi hijau di Indonesia. Produk Green Aftur yang dihasilkan dari campuran minyak sawit dan kerosin ini adalah langkah konkret menuju bahan bakar penerbangan yang lebih ramah lingkungan, sekaligus memberikan solusi inovatif untuk mengurangi emisi karbon. Pertamina siap untuk berbenah, terus berinovasi, dan memperkuat infrastruktur kilang serta supply chain agar produk ini dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri.
Dengan komitmen tersebut, diharapkan Indonesia dapat menjadi pemain global dalam produksi bahan bakar ramah lingkungan, sekaligus mendorong penggunaan energi terbarukan yang lebih luas di sektor penerbangan dan transportasi lainnya.
















