Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kisah Haru Seni, Pekerja Migran yang Ditemukan Setelah 21 Tahun Hilang di Malaysia

PMI Temanggung Ditemukan Hidup di MalaysiaPMI Temanggung Ditemukan Hidup di Malaysia
RINDU: Kakak ipar Seni, Walmi, menunjukkan foto Seni (baju hijau) dalam foto

BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Di tengah ketidakpastian yang melingkupi keluarga Seni, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Dusun Letih, Desa Mergowati, Kecamatan Kedu, Temanggung, secercah harapan akhirnya menyapa.

Setelah menghilang selama 21 tahun tanpa kabar dan dianggap hilang, kabar baru datang bahwa Seni ternyata masih hidup.

Kini ia berada dalam pengawasan resmi pemerintah Indonesia di Malaysia setelah dilaporkan mengalami penyekapan dan penyiksaan oleh majikannya selama lebih dari dua dekade.

Keputusan Seni untuk merantau ke Malaysia pada tahun 2004 dilatarbelakangi oleh kondisi ekonomi keluarga yang serba sulit.

Dia memilih bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan harapan dapat memperbaiki taraf hidup keluarga.

Namun, sejak keberangkatannya, komunikasi menjadi sangat terbatas. Wartiyono, perangkat desa sekaligus kerabat Seni, menjelaskan bahwa keluarga terakhir kali menerima telepon pada awal 2008.

“Harus pakai Bahasa Malaysia. Mungkin sejak itu sudah ada penekanan,” tuturnya.

Sejak panggilan terakhir itu, keluarga kehilangan jejak Seni. Upaya pencarian sempat dilakukan namun terkendala oleh keterbatasan akses dan teknologi pada masa itu sehingga tidak menemukan titik terang.

Kesedihan mendalam menyelimuti mereka hingga akhirnya suami Seni, Sarno yang menetap di Dusun Kabunan, Desa Bandungede memutuskan untuk menikah lagi dan melanjutkan hidupnya.

Rumah lama Seni kini tampak kosong dan tidak terurus. Bangunan tersebut telah beralih fungsi menjadi kandang ternak.

Di sampingnya tinggal kakak ipar Seni, Walmi (60), yang turut mengasuh Ricky Alfian anak tunggal Seni.

“Kami pikir (Seni) sudah tiada. Kaget sekali waktu dikabari masih hidup,” ujar Walmi dengan mata berkaca-kaca penuh haru.

Ricky Alfian kini tinggal di Kecamatan Wonoboyo setelah ditinggalkan ibunya saat usianya baru tiga setengah tahun.

Selama ini ia dibesarkan oleh Pakdenya Iswandi (65) dan Walmi yang setia memberikan kasih sayang kepadanya.

Bertahun-tahun tanpa kepastian tentang keberadaan ibunya akhirnya terjawab ketika Ricky bisa melihat wajah ibunya melalui panggilan video yang difasilitasi pihak kepolisian setempat.

“Video call cuma lima menit. Agak canggung. Pesannya cuma jaga kesehatan,” ungkap Ricky dengan suara bergetar penuh emosi.

Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Sri Endang Praptaningsih memastikan bahwa mereka siap memfasilitasi kepulangan Seni ke tanah air.

Proses verifikasi identitas telah dilakukan oleh pihak kepolisian dua minggu lalu dan saat ini Seni berada dalam pendampingan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Malaysia serta Kementerian P2MI sembari menunggu penyelesaian kasusnya.

“Pemerintah daerah juga menyiapkan penyesuaian administrasi seperti pembaruan KTP, memasukkan Seni ke dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), serta menghubungkan keluarga dengan Dinas Sosial untuk dukungan lanjutan,” jelas Sri Endang dengan penuh optimisme akan segera kembalinya Seni ke pelukan keluarganya.

Meskipun rumah lamanya telah berubah menjadi kandang ternak, namun harapan besar menyelimuti keluarga besar Seni yang menanti kepulangannya dengan penuh haru dan rasa syukur.

Dua puluh satu tahun tanpa kabar adalah waktu yang sangat panjang bagi sebuah keluarga untuk menahan rindu dan duka mendalam karena kehilangan anggota tercinta dari kehidupan sehari-hari mereka. (*/dda)

Berita Sebelumnya
Abdul Mu'ti Selaku Mendikdasmen Berikan Progra Beasiswa Guru Sebanyak 150 Ribu

Pemerintah Pusat Adakan Beasiswa S1 Khusus Guru Sebanyak 150.000, Kesempatan Emas Tingkatkan Kualitas Pengajaran

Berita Selanjutnya
Dilamar Pengusaha Muda

Dara Arafah Umumkan Bertunangan dengan Rehan Mubarak, Netizen Ramai Ucap Selamat