BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Di usia yang sudah menginjak 70 tahun, Marinem, lebih akrab disapa Mbah Marinem, menjalani kehidupan sehari-harinya seorang diri di rumah sederhana yang terletak di Desa Banyumudal RT 02 RW 03, Kecamatan Buayan.
Kondisi ini menjadi gambaran nyata dari tantangan yang dihadapi oleh banyak lansia di pedesaan, terutama dalam hal akses terhadap fasilitas dasar seperti sanitasi.
Mbah Marinem hidup sebatang kara tanpa memiliki fasilitas jamban di rumahnya, sebuah kebutuhan yang seharusnya menjadi hak setiap individu.
Rumah yang ditempati Mbah Marinem berdinding sederhana dan dipenuhi perabotan seadanya.
Dalam usaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia menggantungkan harapan pada ternak yang tersisa. Beberapa ekor ayam menjadi tumpuan penghidupannya.
“Kalau butuh uang, saya jual ayam. Biasanya cukup buat seminggu. Kalau ayamnya besar, bisa buat kebutuhan sampai dua bulan,” ungkapnya dengan penuh harapan saat diwawancarai pada Rabu (4/3/2026).
Dulu, ia juga memelihara kambing untuk menambah sumber pendapatan, namun satu per satu ternak tersebut terpaksa dijual demi menyambung hidup.
Dalam kehidupannya yang serba terbatas ini, Mbah Marinem terdaftar sebagai penerima bantuan sosial dan bantuan sembako dari pemerintah.
Meski demikian, kondisi ekonominya tetap tergolong rentan. Bantuan tersebut memang mampu sedikit meringankan beban hidupnya, tetapi belum sepenuhnya memenuhi semua kebutuhannya.
Ia juga masih menerima kiriman uang dari anaknya setiap bulan, namun jumlahnya terbatas dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sederhana.
“Selebihnya, saya harus berhemat dan mengatur pengeluaran sebaik mungkin agar bisa bertahan hingga bulan berikutnya,” jelasnya.
Salah satu persoalan paling memprihatinkan yang dihadapi oleh Mbah Marinem adalah masalah sanitasi.
Hingga kini, rumahnya belum dilengkapi dengan jamban. Setiap kali ia hendak buang air besar atau mandi, ia harus berjalan menuju sungai yang berjarak beberapa langkah dari rumah.
“Kalau mau BAB atau mandi, ya ke sungai dekat rumah,” tuturnya polos sambil menunjukkan arah sungai tersebut.
Tentu saja kondisi ini sangat berisiko bagi kesehatan, terutama mengingat usianya yang sudah lanjut.
Selain faktor kebersihan yang menjadi perhatian utama, keselamatan juga patut dicermati.
Akses menuju sungai tidak selalu aman bagi seorang lansia seperti Mbah Marinem; terdapat potensi bahaya yang mengintai setiap kali ia harus melakukan aktivitas tersebut.
Menyadari hal ini, Camat Buayan Nur Wahyudi S.H., mengambil langkah proaktif dengan turun langsung meninjau kediaman Mbah Marinem untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Tujuan kami adalah memastikan langsung kebutuhannya apa saja agar tidak ada yang terlewatkan. Minimal kebutuhan dasar seperti jamban harus segera dipenuhi karena ini menyangkut kesehatan dan keselamatan,” ujar Nur Wahyudi dengan tegas.
Ia menambahkan bahwa koordinasi akan segera dilakukan dengan pemerintah desa serta dinas terkait guna merealisasikan penanganan masalah sanitasi yang mendesak ini.
Lebih jauh lagi, pihak kecamatan bersama pemerintah desa saat ini tengah membahas langkah lanjutan terkait bantuan lain yang mungkin dibutuhkan oleh Mbah Marinem selain pembangunan jamban.
Harapannya adalah agar di usia senja ini, Mbah Marinem dapat menjalani hidupnya dengan lebih layak dan sehat serta aman dari risiko-risiko kesehatan akibat kurangnya fasilitas dasar.
Situasi seperti yang dialami oleh Mbah Marinem mencerminkan tantangan besar dalam hal kesejahteraan sosial bagi para lansia di pedesaan Indonesia.
Banyak dari mereka yang masih harus berjuang untuk mendapatkan akses ke fasilitas dasar demi kelangsungan hidup mereka sehari-hari.
Sementara itu pula, masih terdapat sejumlah masyarakat yang merasa kesulitan dalam menghimpun dukungan dari keluarga atau pemerintah setempat.
Keberadaan sosok seperti Mbah Marinem menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya perhatian terhadap kelompok rentan dalam masyarakat kita.
Di tengah kesibukan kehidupan modern saat ini, sering kali kita lupa akan kebutuhan dasar dari mereka yang telah menghabiskan masa tuanya tanpa dukungan memadai.
Oleh karena itu, tindakan nyata dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat sangat diperlukan untuk menjamin bahwa setiap individu bisa mendapatkan hak-haknya secara layak.
Kehidupan Mbah Marinem tidak hanya sekadar soal bertahan hidup dari hari ke hari; ada harapan tersimpan dalam dirinya untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik meski tantangan terus menghadang.
Dengan perhatian dan tindakan kolektif dari komunitas serta pemerintah setempat, bukan tidak mungkin jika harapan tersebut dapat terwujud. (sel/stch/dda)
















