BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Cuaca ekstrem yang meliputi hujan deras disertai angin kencang telah menyebabkan puluhan kejadian bencana di wilayah Banyumas dan Purbalingga.
Hingga Selasa, 4 Maret 2026, pukul 21.27 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas mencatat sebanyak 44 kejadian bencana di Banyumas.
Kejadian-kejadian ini didominasi oleh pohon tumbang serta kerusakan atap rumah akibat terpaan angin kencang.
Abdul Ladjis, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyumas, menjelaskan bahwa laporan mengenai kejadian bencana ini tersebar di berbagai kecamatan.
Namun, wilayah Banyumas Timur tidak dilaporkan mengalami dampak yang signifikan.
“Total ada 44 kejadian bencana akibat cuaca ekstrem. Mayoritas berupa pohon tumbang dan kerusakan atap rumah akibat angin kencang,” ungkapnya.
Di Kecamatan Lumbir, efek dari angin kencang sangat terasa. Setidaknya tujuh rumah warga mengalami kerusakan, termasuk satu kios pupuk bernama UD Tani Jaya Makmur yang terletak di Desa Lumbir.
Kerusakan tersebut meliputi atap asbes dan kanopi baja ringan yang terlepas dari tempatnya semula.
Selain itu, pohon tumbang di Desa Cidora dan Karanggayam sempat menutup akses Jalan Nasional Wangon–Lumbir–Karangpucung hingga akhirnya dibersihkan oleh petugas untuk mengembalikan lalu lintas ke kondisi normal.
Di Desa Karanggayam, sebuah insiden terjadi ketika rumah milik Hadi tertimpa empat pohon jati.
Tim petugas masih melakukan kaji cepat serta penanganan di lokasi kejadian untuk mengevaluasi dampak lebih lanjut.
Sementara itu, di Kecamatan Cilongok, tercatat setidaknya enam kejadian serupa.
Dari mulai pohon tumbang yang menutup jalan nasional di Desa Karanglo hingga pohon yang menimpa jaringan listrik di Desa Langgongsari serta rumah warga di Desa Rancamaya dan Desa Sambirata.
Tidak hanya itu, atap bangunan SMP Negeri 2 Cilongok di Desa Panembangan juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat angin kencang dan saat ini masih dalam proses evaluasi untuk penanganan selanjutnya.
Kecamatan Kedungbanteng menjadi wilayah dengan laporan terbanyak, dengan sedikitnya 12 rumah warga mengalami kerusakan atap serta dampak dari pohon tumbang yang terjadi di beberapa desa seperti Kutaliman, Kedungbanteng, Dawuhan Kulon, Baseh, Kalikesur hingga Windujaya.
Di Desa Windujaya sendiri tercatat enam rumah warga mengalami kerusakan pada bagian atap karena angin kencang.
Kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas yang menimpa jaringan listrik setempat.
Wilayah perkotaan Banyumas juga tidak luput dari peristiwa ini dengan adanya laporan dari Kecamatan Karanglewas, Sumbang, Baturraden dan Kembaran.
Sebagian besar kejadian sudah ditangani oleh tim terkait meskipun ada beberapa titik yang masih dalam proses kaji cepat untuk memahami situasi lebih lanjut.
Di Desa Linggasari, Kecamatan Kembaran, dua warga mengalami luka akibat tertimpa pohon tumbang saat melintas.
Korban bernama Supit (52) mengalami luka ringan sementara Henry (56) merasakan nyeri pada bagian dada dan keduanya kini dirawat di RS Sinar Kasih.
“Tim Pusdalops-PB bersama TRC dan lintas sektor langsung melakukan evakuasi dan pembersihan agar akses masyarakat tidak terganggu terlalu lama,” jelas Abdul Ladjis menambahkan bahwa beberapa titik masih dalam proses kaji cepat untuk mendata kerusakan serta kebutuhan penanganan lanjutan.
Sementara itu, situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Purbalingga pada Rabu (4/3/2026) sore ketika hujan deras disertai angin kencang menyebabkan kerusakan di 19 desa yang tersebar di tujuh kecamatan.
Puluhan rumah warga mengalami kerusakan serius dan satu unit mobil tertimpa oleh pohon tumbang yang terjatuh akibat cuaca ekstrem tersebut.
Revon H selaku Kepala Pelaksana BPBD Purbalingga mengungkapkan bahwa jumlah desa terdampak masih bersifat sementara karena proses pendataan terus berlangsung di lapangan.
“Data sementara menunjukkan ada 19 desa terdampak yang tersebar di tujuh kecamatan dan data ini masih bisa berubah karena kami masih terus melakukan pendataan,” katanya kepada awak media pada Kamis (5/3/2026).
Beberapa kecamatan seperti Kalimanah mengalami dampak signifikan dengan dua desa terdampak yakni Desa Kalimanah Wetan dan Desa Karangpetir akibat pohon mahoni tumbang melintang baik di jalan provinsi maupun jalan kabupaten.
Di Kecamatan Bobotsari juga terjadi pohon beringin tumbang yang menghalangi arus lalu lintas di jalan kabupaten dekat Terminal Lama Bobotsari.
Di Kecamatan Mrebet, dua kejadian besar dicatatkan ketika satu pohon mahoni tumbang melintang di jalan provinsi di Desa Selaganggeng dan juga menimpa satu unit mobil yang melintas pada ruas jalan kabupaten di Desa Cipaku.
Selain itu, satu pohon kelapa tumbang juga melintang mengganggu jalur di jalan kabupaten Desa Pengalusan.
Kecamatan lain seperti Pagerandong mencatatkan dua pohon mahoni tumbang serta tiga atap rumah warga rusak parah setelah tertimpa oleh pohon tersebut.
Masih dalam wilayah Mrebet terdapat dua pohon mahoni lagi yang tumbang melintang menghalangi ruas Jalan Lambur–Bobotsari dan Lambur–Bojong.
Di Desa Bojong pun puluhan atap rumah warga dilaporkan rusak akibat terpaan angin kencang.
Kecamatan Kutasari menjadi salah satu daerah dengan laporan terdampak cukup signifikan dengan lima desa terpengaruh yaitu Meri, Karangcegak, Candiwulan, Munjul serta Sumingkir yang mengalami kerusakan pada puluhan rumah warga bersamaan dengan banyaknya pohon peneduh tumbang sepanjang jalan tersebut.
Sementara itu di Kecamatan Kertanegara terdapat bencana yang terjadi pada dua desa yakni Kertanegara dan Kasih dengan belasan rumah dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian atap mereka.
Tidak jauh dari situ, Kecamatan Bojongsari juga turut melaporkan bahwa dua desa terdampak yakni Pekalongan dan Beji serta satu rumah milik warga di Desa Gemuruh Kecamatan Padamara rusak setelah tertimpa oleh batang pohon besar.
Revon memastikan bahwa akses jalan provinsi maupun kabupaten yang sempat tertutup akibat pohon-pohon yang tumbang kini sudah kembali dapat dilalui setelah dilakukan penanganan cepat oleh petugas terkait.
“Saat ini kami sedang melakukan pendataan terhadap kerugian material yang dialami oleh warga terdampak,” tambah Revon menekankan pentingnya respons cepat dalam menangani situasi darurat seperti ini agar masyarakat dapat segera kembali ke aktivitas sehari-hari mereka tanpa banyak hambatan. (zet/tya/stch/dda)
















