BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Proyek pembangunan saluran irigasi Daerah Irigasi Slinga yang merupakan program nasional, menyisakan duka di Desa Galuh, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga.
Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, berinisial H, menjadi korban setelah terseret derasnya aliran air di saluran irigasi terbuka yang membentang di wilayah tersebut pada Senin, 26 Mei 2025.
Tragisnya, jasad korban ditemukan tak jauh dari lokasi kejadian sehari setelah insiden.
Peristiwa ini mengguncang warga dan menimbulkan kekhawatiran mendalam, khususnya terkait keselamatan anak-anak yang bermain di sekitar area proyek.
Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Desa Galuh langsung mengambil langkah cepat.
Mereka bersurat resmi kepada Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Yogyakarta yang menjadi penanggung jawab utama proyek tersebut.
Surat yang dikirim bukan sebagai bentuk protes, melainkan sebagai upaya untuk membangun komunikasi dan mendorong adanya solusi konkret.
Pada Sabtu malam, 31 Mei 2025, Pemerintah Desa Galuh menggelar rembug desa bersama tokoh masyarakat dan berbagai unsur elemen lokal.
Rapat berlangsung hingga larut malam di Balai Desa Galuh dan secara khusus membahas dampak dari keberadaan saluran air yang melintasi desa mereka.
Kepala Desa Galuh, Teguh Prayitno, menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud menyalahkan BBWS SO.
Ia menyadari proyek irigasi tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan infrastruktur nasional yang patut didukung.
Namun, menurutnya, proyek sebesar ini juga harus memperhatikan keselamatan warga di sekitar, terutama anak-anak.
“Kami sedang tidak menyalahkan BBWS SO. Itu proyek nasional, harus didukung. Namun alangkah baiknya, saluran air yang terbuka diberi pagar. Sehingga saling mengantisipasi adanya potensi bahaya bagi manusia,” kata Teguh dengan nada serius.
Ia menambahkan, hasil rapat bersama warga digunakan sebagai dasar dalam menyusun surat permohonan resmi kepada BBWS SO.
Pemdes Galuh berharap akan ada tindak lanjut berupa pemasangan pagar pengaman atau struktur sejenis yang dapat mencegah kecelakaan serupa terjadi kembali.
“Betul, kami tidak menyalahkan pihak balai. Kami juga tekankan kepada warga masyarakat agar tetap menjaga anak-anak mereka saat bermain di sekitar saluran irigasi,” tegasnya kembali.
Imbauan ini juga disampaikan secara lisan kepada para peserta rapat untuk diteruskan kepada seluruh warga desa. Teguh menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi pelajaran bersama.
Tidak hanya bagi pemerintah desa dan warga, tetapi juga pihak pelaksana proyek yang berkewajiban mengelola risiko keselamatan publik dalam pelaksanaan konstruksi.
Proyek saluran irigasi Bendungan Slinga memang memiliki fungsi strategis untuk mengairi lahan pertanian di sejumlah wilayah Kabupaten Purbalingga dan sekitarnya.
Namun dalam proses pengerjaannya, aspek keselamatan lingkungan sekitar kerap menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
Insiden yang menimpa H menyadarkan banyak pihak bahwa keberadaan infrastruktur besar di tengah permukiman membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dan partisipatif, agar tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat.
Terlebih, karakter saluran irigasi dengan aliran air deras dan kontur tanah yang curam jelas mengundang bahaya bagi anak-anak yang bermain tanpa pengawasan orang tua.
Langkah cepat Pemerintah Desa Galuh menyurati BBWS SO sekaligus menggelar dialog terbuka dengan warganya mencerminkan respons tanggap dan bertanggung jawab atas keselamatan warganya.
Diharapkan melalui surat permohonan tersebut, pihak BBWS SO segera menindaklanjuti dan mempertimbangkan pengadaan pagar pengaman di titik-titik rawan yang berada dekat dengan pemukiman warga.
Selain itu, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting agar pembangunan infrastruktur strategis dapat berlangsung aman, sekaligus memberi manfaat nyata tanpa menimbulkan korban jiwa di masa mendatang. (amr/stch)
















