BANYUMASEKSPRES.ID, WONOSOBO – Patung biawak raksasa yang berdiri mencolok di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, Wonosobo, kini menjadi daya tarik wisata baru yang tak hanya menarik perhatian warga lokal, tapi juga pengunjung dari luar daerah hingga mancanegara.
Awalnya viral di media sosial karena bentuknya yang unik dan menyerupai biawak raksasa, karya seni tersebut kini berkembang menjadi magnet wisata yang ikut menggerakkan perekonomian desa.
Patung yang dibangun oleh seniman Rejo Arianto itu berada di tengah dua jalur jalan, membuatnya terlihat mencolok dan menjadi spot foto yang diminati banyak orang.
Sukron, pemuda Desa Krasak yang kini turut mengelola kawasan tersebut, mengatakan antusiasme pengunjung meningkat tajam terutama sejak viralnya patung di media sosial.
“Bahkan ada orang dari Malaysia datang ke sini karena penasaran,” ungkap Sukron.
Setiap akhir pekan maupun hari libur, kawasan patung biawak dipenuhi wisatawan. Meski di hari biasa tak seramai akhir pekan, tetap saja ada yang datang silih berganti.
Suasana semakin meriah ketika rombongan anak-anak TK dari Kecamatan Kertek datang bersama para guru mereka.
Mereka menaiki angkutan bersama, lalu berfoto ria di depan patung dengan antusias.
Para pemuda desa yang bertugas di lokasi pun sigap membantu mengarahkan pose untuk mendapatkan hasil terbaik.
Salah satu pengunjung, Nariyah, warga Grabag Kabupaten Magelang, mengaku datang karena penasaran.
“Di internet sempat viral. Jadi kami penasaran seperti apa wujudnya,” katanya.
Ia bersama anak dan saudaranya menyempatkan diri mampir ke lokasi saat berkunjung ke rumah kerabat di Wonosobo.
Tak hanya menjadi tempat untuk berswafoto, kehadiran patung biawak ini juga menjadi titik tumbuh ekonomi bagi warga sekitar.
Muncul berbagai pedagang makanan dan minuman, serta penjual suvenir seperti kaus bergambar patung biawak. Warga juga inisiatif mengelola lahan parkir untuk kenyamanan wisatawan.
Melihat geliat ini, Kepala Bidang Pemasaran Disparbud Wonosobo, Fatonah Ismangil, menyampaikan harapannya agar momentum ini tidak disia-siakan.
Menurutnya, patung biawak yang sudah dikunjungi puluhan ribu wisatawan dari berbagai penjuru Indonesia ini bisa menjadi jembatan untuk membuka dan mengoptimalkan potensi wisata lainnya di Desa Krasak.
Fatonah menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah desa dan penggerak desa untuk memanfaatkan momentum viral menjadi daya tarik wisata berkelanjutan.
“Sesuatu yang viral biasanya lama kelamaan akan surut, namun jika hal ini secepatnya dijadikan momentum oleh pemdes dan para penggerak desa untuk mengelola potensi desa yang ada menjadi sebuah paket wisata yang menarik, maka keberadaan patung biawak tersebut tidak akan dilupakan di kemudian hari,” ujarnya.
Dengan perkembangan ini, patung biawak Wonosobo tidak lagi hanya menjadi sekadar fenomena media sosial, melainkan menjadi simbol bagaimana kreativitas lokal bisa mengangkat potensi desa menjadi destinasi wisata yang hidup dan menguntungkan bagi masyarakat. (*)
















