BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja yang berdiri megah sejak tahun 2003 hingga kini masih belum melengkapi koleksinya dengan filologi, salah satu elemen penting dalam memahami sejarah secara lebih mendalam.
Padahal, naskah babat yang termasuk dalam koleksi filologi ini dinilai penting untuk mengedukasi masyarakat mengenai kekayaan sejarah Purbalingga.
Anita Ika Cahyani, staf pengelola museum tersebut, menjelaskan bahwa naskah-naskah babat saat ini masih berada di tangan para ahli waris.
“Suatu saat nanti bisa diupayakan, minimal salinannya agar masyarakat bisa melihat,” ujarnya dengan harapan besar terhadap masa depan koleksi museum yang ia kelola.
Museum ini sendiri memiliki lebih dari 1.300 koleksi yang dibagi menjadi sepuluh kategori utama seperti arkeologi, biologika, historika, geologika, etnografika, seni rupa, teknologika, keramologika, numismatika dan heraldika.
Koleksi bersejarah museum Soegarda mencakup benda-benda dari masa praaksara hingga peninggalan keluarga Dipokusumo IV dan V yang sangat berharga bagi sejarah lokal.
Salah satu benda bersejarah yang menarik perhatian adalah ranjang Dipokusumo V yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu para bupati Purbalingga dari generasi ke generasi.
Tak hanya itu, museum juga memamerkan koleksi pribadi milik Prof. Soegarda sendiri seperti pakaian dan jam tangan yang memperlihatkan sisi personal dari tokoh pendidikan tersebut.
Masterpiece atau mahakarya dari museum ini adalah gelang batu rijan yang ditemukan di beberapa tempat seperti Limbasari, Palumbungan dan Panjen. Gelang giok tersebut menjadi ciri khas karena tidak ditemukan di kabupaten lain.
“Kalau sekarang dikenal sebagai sentra pengrajin batu akik, dulu gelang ini berbahan batu rijan,” ungkap Anita menjelaskan perbedaan material yang digunakan pada masa lampau dibandingkan dengan sekarang.
Dalam hal pengelolaan museum ini memang dikelola langsung oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga dengan dukungan anggaran khusus.
Selama enam tahun terakhir museum juga rutin memperoleh Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik dari Kementerian sebesar Rp 500 juta per tahun. Dana itu diberikan berdasarkan hasil evaluasi pengelolaan museum secara keseluruhan.
“Kalau pengelolaan sebelumnya baik, pendanaan dilanjutkan. Jika tidak bisa dihentikan,” kata Anita menekankan pentingnya menjaga standar tinggi dalam manajemen museum agar tetap mendapat dukungan finansial yang dibutuhkan.
Meski tidak dikenakan tiket masuk rata-rata sebanyak 200 pengunjung datang setiap bulan ke museum ini. Sebagian besar dari mereka adalah pelajar terutama saat orientasi sekolah di bulan Juni-Juli serta awal tahun ajaran baru.
Museum ini buka setiap Senin hingga Jumat memberi kesempatan kepada siapa saja yang ingin melihat lebih dekat kekayaan budaya dan sejarah Purbalingga tanpa harus terbebani biaya masuk.
Dalam konteks edukasi tempat seperti Museum Prof Dr R Soegarda Poerbakawatja memiliki peran vital dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya lokal sekaligus memberikan inspirasi kepada generasi muda.(alw/dda)
















