Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Museum Daerah Soegarda Purbalingga Masih Ramai Dikunjungi, Swafoto Oke Bikin Konten Juga Boleh

Swafoto oke, bikin konten juga bolehSwafoto oke, bikin konten juga boleh
Pengunjung mengamati koleksi museum Daerah Soegarda Purbalingga, Rabu 9 Juli 2025.

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Di tengah pesatnya perkembangan budaya digital dan maraknya penggunaan media sosial, Museum Prof. Dr. Soegarda Purbakawatja yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga tetap menjadi daya tarik bagi pengunjung dari berbagai kalangan usia.

Keberadaan museum ini seperti oase di tengah derasnya arus informasi digital, menarik perhatian baik anak muda maupun orang dewasa. Setiap harinya, museum ini mencatat kunjungan sekitar 30 hingga 40 orang, dengan puncak kunjungan biasanya terjadi setelah pukul 12 siang.

Salah satu faktor yang menjadikan museum ini tetap relevan dan menarik adalah kebijakan pengelolanya yang tidak melarang aktivitas swafoto atau pembuatan konten video oleh para pengunjung.

Aktivitas ini diizinkan bahkan untuk keperluan tugas sekolah maupun untuk diunggah ke media sosial, menjadikan museum tersebut tidak hanya sebagai tempat belajar tetapi juga sebagai area ekspresi kreatif.

“Kalau yang berswafoto biasanya perempuan,” ungkap Wasis Andri Wibowo, Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purbalingga, dalam dialognya pada Rabu (9/7).

“Namun ada juga pelajar laki-laki yang ikut mengambil foto. Kami tidak melarang, asalkan tetap menjaga kesopanan. Mau bikin konten pun silakan saja.” lanjutnya.

Museum ini menempati bangunan bersejarah dan menyimpan lebih dari 1.500 koleksi benda budaya serta sejarah yang sangat berharga.

Koleksi tersebut mencakup uang kuno, keris dan tombak tradisional, gerabah dari zaman prasejarah, batu serpihan yang berasal dari bengkel purba, hingga kereta kuda dan keramik tua yang memiliki nilai historis tinggi.

Beberapa koleksi langka seperti Tosan Aji jenis keris dirawat dengan penuh perhatian melalui prosesi jamasan sebulan sekali, menggunakan bahan-bahan khusus dan tenaga profesional terlatih demi menjaga keasliannya.

Perawatan intensif seperti ini merupakan bagian dari upaya pengelola untuk memastikan bahwa setiap benda yang menjadi bagian dari sejarah dapat dinikmati oleh generasi mendatang dalam kondisi terbaik.

Selain itu, guna menjaga keutuhan koleksi dari ancaman kerusakan akibat serangga, pengelola museum secara rutin melakukan fumigasi menyeluruh.

Proses fumigasi ini dilakukan secara berkala dan memakan waktu sekitar lima hari untuk memastikan bahwa setiap sudut museum bebas dari ancaman ngengat atau rayap yang bisa merusak benda-benda antik.

“Kami langsung menyemprotkan cairan khusus pada lubang-lubang dan titik-titik yang dicurigai menjadi sarang serangga,” jelas Wasis lebih lanjut mengenai prosedur pemeliharaan koleksi museum.

“Penyemprotannya dilakukan secara menyeluruh agar tidak ada bagian yang terlewat.” lanjutnya.

Keberhasilan Museum Daerah Soegarda dalam menarik minat masyarakat terutama generasi muda tidak lepas dari kombinasi antara kebijakan terbuka terhadap teknologi modern serta komitmen kuat terhadap pelestarian budaya lokal.

Museum ini menjadi contoh bagaimana lembaga budaya dapat beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan esensinya sebagai penjaga nilai-nilai sejarah.

Pengunjung datang tidak hanya untuk melihat-lihat koleksi tetapi juga sering terlibat dalam diskusi dan kegiatan edukatif lainnya yang diselenggarakan oleh pihak museum.

Program-program seperti tur edukatif atau workshop tentang sejarah lokal sering kali diadakan untuk menambah wawasan pengunjung sekaligus mempromosikan warisan budaya daerah kepada khalayak luas.

Dengan demikian, Museum Prof. Dr. Soegarda Purbakawatja bukan sekadar ruang pamer artefak kuno tetapi telah berkembang menjadi pusat interaksi sosial dan pembelajaran bagi masyarakat setempat maupun wisatawan luar daerah.

Pengalaman berkunjung ke sana menawarkan perspektif baru tentang bagaimana kita bisa mengapresiasi masa lalu sambil mengeksplorasi masa kini melalui lensa teknologi modern.

Seiring dengan terus meningkatnya minat publik terhadap kebudayaan lokal serta dukungan aktif dari pemerintah setempat, diharapkan bahwa museum ini akan terus berkembang menjadi pusat kebudayaan terdepan di Purbalingga dan sekitarnya. (amr/stch)

Berita Sebelumnya
Parak iwak tradisi pemersatu warga

Parak Iwak Tradisi Unik Pemersatu Warga, Menangkap Ikan Ramai-ramai di Rakit Banjarnegara

Berita Selanjutnya
Populasi turun, ancaman masih ada

Populasi Hama Wereng Turun, Petani Banyumas Tingkatkan Kewaspadaan Selama Kemarau Basah