BANYUMASEKSPRES.ID, Menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, stabilitas harga bahan pangan kembali menjadi perhatian utama, khususnya komoditas beras yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.
Untuk menjaga daya beli warga tetap aman, Perum Bulog Kantor Cabang (Kancab) Banyumas, Jawa Tengah, mengambil langkah strategis dalam mengendalikan harga beras di pasaran.
Upaya ini dinilai penting agar lonjakan harga tidak membebani masyarakat saat momentum Lebaran semakin dekat.
Pemimpin Perum Bulog Kancab Banyumas, Prawoko Setyo Aji, menyampaikan bahwa pihaknya secara aktif memperkuat program stabilisasi harga melalui penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Langkah tersebut tetap dijalankan meskipun penugasan resmi terkait pendistribusian Bantuan Pangan Tahun 2026 masih menunggu proses lanjutan dari pemerintah pusat.
Penyaluran Beras SPHP Jadi Fokus Utama Bulog Banyumas
Prawoko menjelaskan bahwa fokus utama Bulog saat ini adalah memastikan harga beras tetap terkendali di tingkat konsumen.

Penyaluran beras SPHP menjadi instrumen penting untuk menahan laju kenaikan harga, terutama ketika permintaan pasar cenderung meningkat menjelang Lebaran.
Program ini diharapkan mampu memberikan alternatif beras berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
Menurutnya, meskipun bantuan pangan belum sepenuhnya berjalan, Bulog Banyumas tidak tinggal diam.
Penyaluran SPHP terus dilakukan secara masif agar suplai beras di pasar tetap terjaga. Dengan demikian, potensi gejolak harga dapat diminimalkan sejak dini.
Selain itu, Bulog Banyumas bekerja sama dengan Yonif TP 838/PW sebagai upaya serap gabah petani memberikan penguatan ketahanan pangan warga Banyumas jelang Ramadhan 2026.
Stok Beras Aman, Bulog Siap Topang Kebutuhan Masyarakat
Dari sisi ketersediaan, Bulog Banyumas memastikan stok beras berada dalam kondisi aman dan mencukupi. Saat ini, cadangan beras yang dikelola Bulog Kancab Banyumas mencapai sekitar 58 ribu ton.
Jumlah tersebut dinilai cukup untuk menopang kebutuhan masyarakat sekaligus menjadi bantalan kuat dalam menghadapi lonjakan permintaan jelang Hari Raya Idul Fitri.
Selain itu, Bulog juga memperhitungkan faktor produksi dari sektor hulu. Wilayah kerja Bulog Banyumas diperkirakan akan memasuki masa panen raya pada pertengahan Februari hingga April 2026.
Panen raya ini diyakini akan menambah pasokan beras di pasaran sehingga turut membantu menjaga stabilitas harga.
Dengan kombinasi stok yang aman dan prospek panen yang baik, Bulog optimistis harga beras di wilayah Banyumas dan sekitarnya dapat tetap terkendali hingga Lebaran tiba.
Distribusi Melibatkan Banyak Pihak Agar Tepat Sasaran
Dalam pelaksanaan penyaluran beras SPHP, Bulog Banyumas menggandeng berbagai pihak agar distribusi berjalan efektif dan tepat sasaran.
Kerja sama dilakukan bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, serta outlet binaan Bulog seperti Rumah Pangan Kita (RPK).
Melalui jaringan ini, beras SPHP dapat langsung menjangkau masyarakat dengan harga sesuai ketentuan.
Sepanjang Januari 2026, realisasi penyaluran beras SPHP di wilayah kerja Bulog Banyumas tercatat mencapai 955 ton.
Sementara itu, secara akumulatif sejak awal tahun 2025, jumlah penyaluran telah mendekati angka 17 ribu ton.
Capaian tersebut menunjukkan komitmen Bulog dalam menjaga pasokan dan harga beras secara berkelanjutan.
Harga Beras Dijaga Sesuai Ketentuan Pemerintah
Prawoko juga mengimbau para pedagang agar menjual beras SPHP sesuai harga maksimal yang telah ditetapkan, yakni Rp12.500 per kilogram.
Harga ini diharapkan mampu memberikan efek stabilisasi pasar sehingga harga beras medium tidak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp13.500 per kilogram.
Ia menegaskan bahwa kebijakan stabilisasi harga pangan ini merupakan arahan langsung dari Menteri Pertanian serta Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Prinsip utama yang dipegang adalah harga pangan tidak boleh mengalami kenaikan, sementara penurunan harga justru diperbolehkan demi kepentingan masyarakat.
Melalui sinergi bersama seluruh pemangku kepentingan, Bulog Banyumas berkomitmen menjaga harga beras tetap terkendali.
Dengan upaya tersebut, masyarakat diharapkan dapat menyambut dan merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan lebih tenang tanpa kekhawatiran terhadap lonjakan harga kebutuhan pokok.(*/nds)
















