Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Ratusan Siswa MAN 2 Kebumen Ikuti Cek Kesehatan Gratis, dari Mata hingga Gula Darah
Pemuda Gangguan Mental Naik Tower 75 Meter di Cilacap, Berhasil Dievakuasi Tim SAR

Pemuda Gangguan Mental Naik Tower 75 Meter di Cilacap, Berhasil Dievakuasi Tim SAR

Pemuda Gangguan Mental Naik Tower 75 MeterPemuda Gangguan Mental Naik Tower 75 Meter
DIEVAKUASI : Ahmad, warga Panikel, Kampung Laut, Cilacap, turun dari tower setelah berhasil dibujuk oleh keluarga dan petugas gabungan

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Warga Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, dibuat geger oleh keberadaan seorang pria di atas tower seluler setinggi sekitar 75 meter, Kamis (10/9/2026).

Pria tersebut diketahui bernama Ahmad Nuryasin (30), warga Desa Panikel. Ia berada di atas tower selama sekitar lima jam sebelum akhirnya berhasil dibujuk untuk turun dan dievakuasi oleh Tim SAR gabungan.

Ahmad diketahui naik ke tower sekitar pukul 07.30 WIB. Informasi mengenai keberadaannya kemudian diterima petugas SAR sekitar pukul 10.30 WIB.

Tim SAR gabungan langsung menuju lokasi untuk melakukan penanganan. Situasi tersebut membuat petugas harus berhati-hati dalam mengambil tindakan.

Tim tidak langsung melakukan evakuasi secara paksa, melainkan memilih pendekatan persuasif agar kondisi Ahmad tetap tenang.

Koordinator Tim SAR Gabungan, Supriyadi, mengatakan petugas berupaya membangun komunikasi dengan Ahmad dari bawah tower.

Pendekatan tersebut dilakukan secara bertahap. Petugas berusaha menjaga komunikasi agar Ahmad bersedia turun dengan aman tanpa menimbulkan situasi yang semakin sulit.

Dalam proses tersebut, petugas juga memberikan makanan dan rokok kepada Ahmad.

Setelah itu, kondisi Ahmad disebut mulai lebih tenang dan dapat berkomunikasi dengan keluarganya.

“Setelah diberi rokok dan makanan, saudara Ahmad sudah tenang dan sudah bisa berkomunikasi dengan keluarga,” kata Supriyadi.

Tim SAR memang tidak langsung mengambil tindakan evakuasi paksa.

Langkah tersebut dipilih dengan mempertimbangkan kondisi Ahmad yang berada di tempat tinggi serta perlunya memastikan proses penyelamatan berlangsung aman.

Laporan lain menyebut tim SAR Cilacap tiba di lokasi sekitar pukul 12.10 WIB setelah berangkat dari posko pada pukul 10.48 WIB.

Setibanya di lokasi, petugas melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan unsur SAR gabungan serta pihak terkait.

Setelah komunikasi awal dilakukan, keluarga Ahmad kemudian didatangkan ke lokasi.

Ibu dan kakaknya ikut membantu petugas membujuk Ahmad agar bersedia turun dari tower.

Kehadiran keluarga diharapkan dapat membuat Ahmad lebih tenang dan mau mengikuti arahan petugas.

Supriyadi mengatakan proses mediasi setelah keluarga tiba berlangsung sekitar 30 menit.

Petugas bersama keluarga terus melakukan komunikasi dari bawah. Pendekatan tersebut akhirnya membuahkan hasil.

Ahmad bersedia turun dari tower dan mengikuti proses evakuasi dengan bantuan tim yang berada di lokasi.

“Untuk proses evakuasinya sekitar setengah jam tadi, setelah kita lakukan mediasi komunikasi dengan pihak di atas, dengan mendatangkan orang tuanya, ibunya, kakaknya untuk membujuk dan akhirnya berkenan untuk turun,” ujar Supriyadi.

Ahmad Berhasil Turun Sekitar Pukul 13.00 WIB

Setelah melalui proses pendekatan dan mediasi, Ahmad akhirnya berhasil turun dari tower sekitar pukul 13.00 WIB.

Ia berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dan kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Informasi tersebut juga dikonfirmasi dalam laporan Kantor Pencarian dan Pertolongan Cilacap yang menyebut Ahmad berhasil turun dalam kondisi selamat.

Dengan berhasilnya proses evakuasi, operasi SAR kemudian diusulkan ditutup sekitar pukul 13.15 WIB. Personel yang terlibat selanjutnya dikembalikan ke satuan masing-masing.

Dalam penanganan tersebut, Tim SAR gabungan melibatkan sejumlah unsur, termasuk Polsek Kampung Laut, Koramil Kampung Laut, Banser, Baznas, Pemerintah Desa Panikel, keluarga, dan masyarakat sekitar. Petugas juga didukung peralatan rescue dan medis.

Keberhasilan evakuasi tersebut menjadi hasil dari koordinasi berbagai unsur serta pendekatan yang dilakukan secara hati-hati.

Mengenai alasan Ahmad naik ke tower, Supriyadi mengatakan hal tersebut belum diketahui secara pasti.

Berdasarkan informasi yang diterima petugas, Ahmad disebut memiliki gangguan mental.

Namun, informasi tersebut sebaiknya tidak menjadi dasar untuk menyimpulkan kondisi medis seseorang tanpa pemeriksaan dari tenaga profesional.

Karena itu, penanganan setelah Ahmad diserahkan kepada keluarga menjadi bagian penting untuk memastikan kondisinya mendapat perhatian yang sesuai.

Yang terpenting, proses evakuasi berhasil dilakukan dengan selamat setelah petugas dan keluarga membangun komunikasi secara bertahap.

Peristiwa tersebut juga menunjukkan pentingnya pendekatan yang tenang dalam menangani situasi darurat yang melibatkan seseorang dalam kondisi rentan.

Petugas tidak hanya mempertimbangkan bagaimana seseorang dapat segera dievakuasi, tetapi juga bagaimana proses tersebut dilakukan dengan risiko serendah mungkin bagi orang yang ditolong maupun petugas.

Kejadian di Desa Panikel tersebut menjadi salah satu penanganan yang membutuhkan koordinasi cepat antara petugas SAR, pemerintah desa, keluarga, dan masyarakat.

Ahmad berada di atas tower selama sekitar lima jam sejak pukul 07.30 WIB hingga akhirnya turun sekitar pukul 13.00 WIB.

Selama proses tersebut, petugas memilih mengutamakan komunikasi dan pendekatan persuasif.

Setelah keluarga datang dan ikut membujuk, Ahmad akhirnya bersedia turun.

Keberhasilan tersebut membuat proses evakuasi dapat diselesaikan tanpa laporan mengenai korban maupun petugas yang mengalami cedera.

Ahmad kemudian diserahkan kepada keluarganya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Koordinator Tim SAR Gabungan Supriyadi menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas dalam penanganan operasi tersebut.

Laporan detikJateng juga menyebut proses dilakukan dengan mempertimbangkan cara yang paling aman bagi Ahmad dan petugas.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kondisi darurat yang melibatkan seseorang di tempat tinggi membutuhkan penanganan oleh petugas yang memiliki kemampuan dan peralatan sesuai.

Pendekatan komunikasi juga dapat menjadi bagian penting dalam proses penyelamatan ketika kondisi memungkinkan. (jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Siswa MAN 2 Jalani Cek Kesehatan Gratis

Ratusan Siswa MAN 2 Kebumen Ikuti Cek Kesehatan Gratis, dari Mata hingga Gula Darah