BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Sebanyak 131 murid MAN 2 Banyumas mengalami sejumlah keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan pada Senin (10/8/2026). Keluhan yang dirasakan antara lain pusing, mual, sakit perut hingga diare.
Data sementara tersebut dihimpun hingga Selasa (11/8) malam. Murid yang mengalami keluhan kesehatan berasal dari kelas X, XI, dan XII.
Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena pihak madrasah masih melakukan pendataan terhadap siswa yang mengalami gejala.
Pantauan di MAN 2 Banyumas pada Selasa siang menunjukkan sejumlah murid masih mendapatkan penanganan di ruang UKS.
Sedikitnya sembilan murid saat itu berada di UKS dengan keluhan utama berupa pusing dan mual.
Sementara itu, sebagian murid lainnya memilih tidak masuk sekolah karena kondisi kesehatan.
Ada pula siswa yang tetap mengikuti kegiatan sekolah, tetapi kemudian pulang lebih awal karena mengalami diare.
Beberapa siswa lainnya juga diketahui sedang mengikuti kegiatan outing class ke Yogyakarta.
Kondisi tersebut membuat pendataan jumlah murid yang mengalami keluhan masih terus dilakukan oleh pihak sekolah.
Guru piket MAN 2 Banyumas Drs. Hari Prasetyo mengatakan jumlah murid yang mengalami keluhan kesehatan masih berkembang.
“Data masih terus berkembang,” katanya saat ditemui Radarmas.
Wakil Kepala MAN 2 Banyumas Budiono menjelaskan, keluhan kesehatan mulai dirasakan sejumlah murid pada Senin malam.
Sebagian siswa kemudian tidak masuk sekolah pada Selasa karena mengalami gejala kesehatan.
Siswa yang tetap datang ke sekolah juga tidak semuanya dapat mengikuti pembelajaran seperti biasa.
Sebagian harus mendapatkan penanganan di UKS, sedangkan lainnya memilih pulang lebih awal setelah kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk mengikuti kegiatan belajar.
Kondisi tersebut membuat pihak sekolah terus melakukan pendataan sekaligus berkoordinasi dengan petugas kesehatan untuk mengetahui penyebab keluhan yang dialami para murid.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam penyelidikan adalah makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi murid pada Senin.
Namun, pihak sekolah maupun petugas kesehatan belum memastikan bahwa makanan MBG menjadi penyebab keluhan kesehatan tersebut.
Hubungan antara menu yang dikonsumsi dengan gejala yang dialami para siswa masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
Budiono menyebut menu MBG yang diterima murid pada Senin terdiri dari nasi putih, ayam dadu bumbu woku, oreg tempe, tumis pokcay jagung dan anggur merah.
“Menu MBG kemarin (Senin) yaitu nasi putih, ayam dadu bumbu woku, oreg tempe, tumis pokcay jagung dan anggur merah. Dari puskesmas sudah mengambil sampel makanan untuk uji lab memastikan penyebab sakitnya anak,” jelasnya.
Sampel makanan tersebut kemudian akan menjalani pemeriksaan laboratorium.
Hasil pengujian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kemungkinan adanya faktor makanan yang berkaitan dengan keluhan kesehatan para murid.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Banyumas Sito Hatmoko menegaskan penyebab keluhan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan.
Petugas dari puskesmas bersama dinas kesehatan telah mengambil sejumlah sampel untuk diperiksa. Sampel tersebut rencananya diuji di laboratorium di Semarang.
“Tercatat 101 anak mengeluh sakit perut dan diare. Untuk lengkapnya belum kami rekap,” kata Sito.
Pernyataan tersebut menunjukkan proses pendataan masih berjalan. Jumlah keluhan yang tercatat oleh petugas kesehatan juga masih dapat berubah seiring proses pemeriksaan dan pendataan terhadap seluruh murid.
Selain mengambil sampel makanan, petugas kesehatan juga melakukan pemantauan terhadap kondisi siswa yang mengalami keluhan.
Situasi tersebut juga berdampak pada distribusi makanan MBG ke MAN 2 Banyumas.
Pengiriman untuk Rabu (12/8) berpeluang dihentikan sementara sebagai bagian dari langkah kehati-hatian selama penyebab keluhan masih diselidiki.
Makanan MBG yang dikirim pada Selasa diketahui sebagian dikembalikan meskipun sebelumnya telah dikirim ke madrasah.
Penghentian sementara atau penyesuaian distribusi tersebut masih berkaitan dengan proses investigasi.
Keputusan lebih lanjut akan menyesuaikan hasil pemeriksaan dan koordinasi antara pihak sekolah, petugas kesehatan, serta pengelola program MBG.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mersi 2 Desanti Puspa Zahrani juga belum dapat memastikan apakah keluhan kesehatan yang dialami murid MAN 2 Banyumas berkaitan dengan makanan MBG.
“Masih diinvestigasi,” ujarnya.
Dengan demikian, dugaan keracunan makanan masih belum dapat disimpulkan sebagai penyebab utama keluhan yang dialami para murid.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Pemeriksaan tersebut penting agar penanganan dapat dilakukan berdasarkan data dan tidak hanya berdasarkan dugaan.
Untuk sementara, pihak sekolah dan petugas kesehatan terus memantau kondisi para murid.
Pendataan juga dilakukan untuk mengetahui jumlah siswa yang mengalami keluhan serta jenis gejala yang dirasakan.
Kasus 131 murid MAN 2 Banyumas yang mengalami keluhan kesehatan ini masih dalam proses penyelidikan.
Kepastian apakah keluhan tersebut berkaitan dengan menu MBG atau faktor lain baru dapat diketahui setelah rangkaian pemeriksaan selesai dan hasil laboratorium keluar. (yda/stch/dda)














