Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Atap SDN Siwarak Wetan Rusak Berat, Siswa Terpaksa Belajar Bergantian

Atap SDN Siwarak Wetan Rusak BeratAtap SDN Siwarak Wetan Rusak Berat
RUSAK BERAT: Kondisi atap rusak berat SDN Siwarak Wetan mengancam keamanan dan keselamatan guru, tenaga kependidikan dan siswa sehingga berharap segera mendapat penanganan, Selasa (11/8)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Kerusakan berat pada atap SDN Siwarak Wetan, Desa Watuagung, Kecamatan Tambak, Banyumas, mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Kondisi bangunan yang dinilai tidak aman membuat sekolah harus mengatur ulang penggunaan ruang kelas demi menjaga keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Sebanyak 26 siswa kelas 6 terpaksa dipindahkan dari ruang kelas mereka karena kondisi atap mengalami kerusakan berat.

Sementara itu, siswa kelas 1 dan kelas 2 harus mengikuti pembelajaran secara bergantian karena keterbatasan ruang yang tersedia.

Kepala SDN Siwarak Wetan Rohmat mengatakan ruang kelas 6 untuk sementara tidak digunakan karena terdapat risiko genteng jatuh maupun rangka atap mengalami keruntuhan.

Sekolah memilih memindahkan siswa sebagai langkah untuk mengurangi risiko kecelakaan.

“Untuk menjaga keamanan dan keselamatan, sekolah mengalihkan kegiatan pembelajaran kelas 6 yaitu 26 peserta didik ke ruang kelas 2,” jelas Rohmat.

Pemindahan siswa kelas 6 berdampak pada penggunaan ruang kelas lainnya. Ruang yang sebelumnya digunakan siswa kelas 2 harus dialihkan untuk kegiatan belajar 26 siswa kelas 6.

Akibatnya, sebanyak 28 siswa kelas 1 dan 18 siswa kelas 2 harus mengikuti kegiatan pembelajaran secara bergantian dengan memanfaatkan ruang kelas 1.

Siswa kelas 2 baru mengikuti kegiatan belajar mengajar setelah pembelajaran siswa kelas 1 selesai.

Sistem tersebut terpaksa diterapkan karena sekolah tidak memiliki ruang kelas lain yang aman untuk digunakan.

Kondisi ini berdampak terhadap efektivitas proses pembelajaran. Waktu belajar siswa juga menjadi lebih terbatas karena satu ruang harus digunakan secara bergantian oleh dua kelompok peserta didik.

Rohmat mengatakan keterbatasan ruang tersebut membuat pelayanan pendidikan di SDN Siwarak Wetan belum dapat berjalan secara optimal.

Selain ruang kelas 6, kondisi ruang guru juga menjadi perhatian. Ruang tersebut berada tepat di sebelah ruang kelas 6 yang mengalami kerusakan berat.

“Kerusakan ruang guru juga sudah tidak lagi memenuhi aspek keselamatan dan keamanan kerja,” sambung Rohmat.

Kerusakan berat pada dua ruang di SDN Siwarak Wetan bermula pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 13.15 WIB.

Saat kejadian, kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan masih berada di lingkungan sekolah.

Cuaca ketika itu disebut sedang cerah. Namun, tiba-tiba angin kencang melanda kawasan sekolah.

Tidak lama kemudian, warga sekolah mendengar suara benturan keras dari arah atap. Setelah diperiksa, sebagian struktur atap bangunan diketahui telah ambruk.

Tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam kejadian tersebut. Hal itu karena seluruh siswa telah menyelesaikan kegiatan pembelajaran dan meninggalkan lingkungan sekolah ketika kerusakan terjadi.

Setelah mengetahui kondisi bangunan, pihak sekolah langsung mengambil langkah pengamanan dengan mengalihkan kegiatan belajar siswa dari ruang yang dianggap berisiko.

Rohmat menyebut tingkat kerusakan pada bagian atap saat ini mencapai sekitar 70 persen.

“Kerusakan pada bagian atap sudah sekitar 70 persen,” rinci Rohmat.

Kerusakan bangunan tidak hanya terjadi pada bagian genteng. Sebagian atap pada sisi dalam dan bagian belakang gedung juga mengalami kerusakan.

Genteng, plafon, hingga sejumlah rangka atap mengalami kerusakan dan ambrol. Kondisi tersebut membuat ruang yang terdampak tidak lagi bisa digunakan secara normal untuk kegiatan sekolah.

Guru dan tenaga kependidikan juga mengaku resah karena ruang guru yang masih digunakan berada di dekat bagian bangunan yang mengalami kerusakan.

Terlebih, warga sekolah beberapa kali mendengar bunyi retakan dari struktur atap.

Setidaknya terdapat tiga kali suara retakan yang terdengar pada bagian struktur ruang guru dan ruang kelas 6.

Kondisi tersebut dikhawatirkan menjadi tanda adanya kerusakan lebih lanjut pada konstruksi bangunan.

Pihak sekolah kini membatasi penggunaan ruang yang mengalami kerusakan untuk menghindari risiko terhadap siswa maupun tenaga pendidik.

Bangunan yang mengalami kerusakan dinilai tidak aman apabila tetap digunakan untuk aktivitas sekolah seperti biasa.

Risiko genteng jatuh maupun kemungkinan runtuhnya struktur atap menjadi perhatian utama.

“Bangunan dinilai dalam keadaan tidak aman dan berpotensi mengalami kerusakan lebih lanjut,” ujar Rohmat.

Kerusakan tersebut tidak hanya menjadi persoalan fisik bangunan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kegiatan belajar siswa.

Penggunaan ruang secara bergantian membuat proses pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Sekolah berharap kerusakan atap SDN Siwarak Wetan dapat segera mendapat penanganan.

Perbaikan diperlukan agar siswa dapat kembali belajar di ruang kelas yang aman dan kegiatan pendidikan dapat berjalan normal.

Penanganan juga penting untuk memberikan rasa aman bagi guru serta tenaga kependidikan yang masih harus menjalankan aktivitas di lingkungan sekolah.

Dengan kondisi kerusakan yang mencapai sekitar 70 persen dan adanya risiko kerusakan lanjutan, keselamatan warga sekolah menjadi prioritas.

Untuk sementara, pengaturan ruang belajar secara bergantian menjadi solusi yang dilakukan sekolah sembari menunggu penanganan terhadap bangunan yang rusak. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Tantangan Surat Ad Dhuha Berujung Laporan Polisi

Promosi Miras Berkedok Tantangan Hafalan Al-Qur'an, 5 Orang Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Berita Selanjutnya
El Nino Berdampak Kekeringan hingga Gagal Panen

Ancaman El Nino 2026 Meningkat, Jawa-Bali-Nusa Tenggara Berisiko Kekeringan