BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjarnegara mengimbau orang tua tidak perlu khawatir memberikan izin kepada anak untuk mengikuti Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) 2026.
Program imunisasi anak sekolah tersebut dinilai penting untuk memberikan perlindungan kesehatan sekaligus mencegah sejumlah penyakit di masa mendatang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarnegara, Abidin Achmad, mengatakan persiapan pelaksanaan BIAS telah dilakukan bersama berbagai pihak.
Sosialisasi telah melibatkan puskesmas, sekolah, Dindikpora, Kementerian Agama, hingga tim pembina Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Menurut Abidin, respons orang tua terhadap pelaksanaan imunisasi anak sekolah di Banjarnegara sejauh ini cukup baik.
Penolakan terhadap program BIAS juga relatif sedikit sehingga Dinkes optimistis target imunisasi tahun ini dapat tercapai.
“Alhamdulillah sejauh ini penolakan sedikit. Jadi kami yakin di tahun ini bisa terealisasi semua sesuai target,” kata Abidin.
Salah satu hal yang masih menjadi perhatian orang tua adalah kemungkinan munculnya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan kondisi anak setelah menerima vaksin.
Abidin menjelaskan, keluhan yang muncul setelah pelaksanaan imunisasi BIAS selama ini umumnya tergolong ringan.
Beberapa anak dapat mengalami mual atau pusing, tetapi jumlah kejadiannya relatif kecil.
“Kalau yang BIAS biasanya didominasi mual, tapi secara persentase kecil sekali kejadiannya. Hanya beberapa saja yang pusing dan mual,” ujarnya.
Untuk mengurangi kemungkinan anak mengalami keluhan setelah imunisasi, Dinkes Banjarnegara meminta orang tua memastikan anak sudah sarapan sebelum mendapatkan vaksin.
Anak juga diharapkan datang dalam kondisi nyaman sehingga proses imunisasi dapat berlangsung dengan baik.
Selain persiapan sebelum vaksinasi, pengawasan juga dilakukan setelah anak mendapatkan imunisasi.
Petugas dari puskesmas akan melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi siswa tetap aman setelah menerima vaksin.
Dinkes juga telah menyiapkan obat dan perlengkapan penanganan apabila terjadi reaksi berat.
Salah satunya untuk mengantisipasi anafilaktik syok yang membutuhkan penanganan medis segera.
Apabila keluhan baru muncul setelah anak meninggalkan sekolah, orang tua maupun pihak sekolah diminta segera berkomunikasi dengan petugas kesehatan setempat.
Langkah tersebut diperlukan agar kondisi anak dapat segera mendapatkan penanganan yang sesuai.
Abidin menegaskan bahwa imunisasi merupakan hak setiap anak dan layanan BIAS diberikan secara gratis.
Karena itu, orang tua diminta tidak ragu memberikan izin kepada anak untuk mengikuti program imunisasi yang dilaksanakan melalui sekolah.
“Ini hak warga negara. Kami ingin memberikan layanan terhadap hak mereka dan ini merupakan kewajiban kami untuk memenuhinya, jadi tidak perlu takut,” tegasnya.
Pada pelaksanaan BIAS Agustus di Banjarnegara, sasaran imunisasi mencakup ribuan siswa dari sejumlah jenjang kelas. Sebanyak 15.835 siswa kelas 1 menjadi sasaran imunisasi MR.
Vaksin MR diberikan sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan anak terhadap penyakit campak dan rubela.
Pemberian imunisasi sejak usia sekolah diharapkan dapat membantu menjaga perlindungan kesehatan anak secara berkelanjutan.
Selain vaksin MR, program BIAS Banjarnegara juga menyasar 7.711 siswi kelas 5 untuk mendapatkan vaksin HPV.
Vaksin tersebut diberikan sebagai salah satu langkah pencegahan kanker leher rahim atau kanker serviks.
Tidak hanya itu, terdapat 383 siswi kelas 6 dan kelas 9 yang menjadi sasaran kejar vaksin HPV.
Mereka sebelumnya belum mendapatkan vaksin HPV ketika berada di kelas 5 sehingga masuk dalam sasaran pemberian vaksin lanjutan.
Pelaksanaan BIAS menjadi salah satu upaya pemerintah memberikan perlindungan kesehatan kepada anak melalui lingkungan sekolah.
Dengan keterlibatan puskesmas, sekolah, orang tua, dan instansi terkait, program imunisasi diharapkan dapat berjalan sesuai target.
Dinkes Banjarnegara kembali mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan kekhawatiran terhadap efek samping ringan sebagai alasan untuk menolak imunisasi.
Orang tua juga memiliki peran penting dalam memastikan anak siap mengikuti vaksinasi, mulai dari memastikan kondisi tubuh hingga memberikan dukungan agar anak tidak takut saat menerima imunisasi.
Melalui BIAS 2026, pemerintah daerah berharap cakupan imunisasi anak sekolah di Banjarnegara dapat terus meningkat.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pencegahan penyakit dan menjaga kesehatan anak sejak dini.
Dengan sasaran lebih dari 23 ribu siswa untuk vaksin MR dan HPV, pelaksanaan BIAS di Banjarnegara menjadi salah satu program kesehatan anak yang mendapat perhatian cukup besar.
Dinkes memastikan layanan imunisasi diberikan secara gratis serta didukung pemantauan petugas kesehatan.
Orang tua pun diharapkan dapat ikut mendukung pelaksanaan BIAS dengan memberikan izin kepada anak untuk mendapatkan imunisasi.
Dukungan tersebut dinilai penting agar target vaksinasi dapat tercapai dan semakin banyak anak memperoleh perlindungan kesehatan sejak usia sekolah. (far/stch/dda)














