BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Akses layanan kesehatan yang layak masih menjadi tantangan serius di banyak pelosok desa, termasuk di Desa Sambong, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara.
Ketimpangan fasilitas serta jarak tempuh ke rumah sakit besar membuat banyak warga desa sulit mendapatkan perawatan medis, apalagi dari tenaga spesialis. Namun, harapan itu kembali menyala saat tim medis dari dua rumah sakit besar hadir langsung di desa mereka.
Sebanyak 235 warga Sambong mendapatkan layanan kesehatan secara cuma-cuma dalam program bakti sosial bertajuk Speling dan Sapa Sehati.
Program ini merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Kesehatan Banjarnegara, sebagai bagian dari upaya pemerataan akses kesehatan untuk wilayah dengan keterbatasan sarana medis.
“Ini bukan soal angka, tapi tentang bagaimana kami bisa menjangkau mereka yang paling sulit dijangkau. Sebanyak 235 warga mendapat layanan kesehatan hari ini, termasuk dari dokter spesialis,” ungkap Plt Kepala Dinas Kesehatan Banjarnegara, Ery Rosita, Kamis (22/5).
Dalam pelaksanaannya, Dinas Kesehatan Banjarnegara menggandeng dua rumah sakit utama, yaitu RS Margono Soekarjo Purwokerto dan RSI Banjarnegara. Tenaga medis yang diturunkan mencakup dokter spesialis kandungan, penyakit dalam, kejiwaan, dan anak.
“Untuk kunjungan spesialis ada 22 pasien kandungan, 25 pasien penyakit dalam, 4 pasien jiwa, dan 8 pasien anak. Kami juga mendatangi lima warga dalam program Sapa Sehati karena kondisi mereka tak memungkinkan datang ke lokasi,” jelas Ery.
Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk tidak hanya menunggu, tapi juga menjemput warga yang membutuhkan layanan medis.
Kegiatan ini tidak hanya menjangkau pasien yang bisa hadir di lokasi kegiatan, tetapi juga mendatangi rumah-rumah warga yang tidak mampu bepergian karena kondisi fisik atau keterbatasan lainnya.
Pendekatan langsung ke rumah warga menjadi bagian dari program Sapa Sehati—sebuah inisiatif yang mengedepankan pendekatan kemanusiaan dan empati dalam pelayanan publik.
Bagi warga seperti Marni (62), kegiatan ini menjadi momen langka dan sangat berarti.
“Biasanya harus sewa mobil untuk ke rumah sakit besar, itu belum tentu dapat antrean. Ini lebih mudah dan murah malah gratis,” katanya.
Marni adalah satu dari puluhan warga lansia yang sering mengalami kesulitan akses medis, terutama jika harus dirujuk ke Purwokerto.
Kehadiran dokter spesialis di desa secara langsung menjadi bentuk nyata dari reformasi pelayanan kesehatan yang menyentuh akar permasalahan: ketimpangan akses.
Banyak warga desa yang selama ini hanya bisa pasrah karena biaya transportasi tinggi atau keterbatasan fisik untuk mencapai rumah sakit.
Pemerintah melalui Dinas Kesehatan Banjarnegara berupaya memberikan pelayanan yang tidak hanya responsif, tapi juga inklusif. Dalam konteks ini, inklusif berarti mampu menjangkau kelompok paling rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, serta warga dengan kondisi kronis.
Ery Rosita menegaskan bahwa layanan kesehatan berbasis pendekatan humanis adalah kunci utama dalam menciptakan sistem pelayanan publik yang berpihak kepada masyarakat bawah.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk melanjutkan program ini ke desa-desa lain, dengan harapan dapat memperluas jangkauan dan dampaknya secara menyeluruh.
Langkah strategis seperti ini menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem kesehatan primer, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan secara berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara berharap program semacam ini bisa menjadi model bagi kabupaten lain dalam memperluas akses layanan spesialis ke daerah terpencil.
Dengan keberhasilan pelaksanaan di Desa Sambong, program Speling dan Sapa Sehati membuktikan bahwa solusi konkret untuk kesenjangan kesehatan bukan sekadar wacana.
Ini adalah aksi nyata yang menghidupkan kembali harapan warga desa akan layanan medis yang adil, terjangkau, dan manusiawi. (jud/stch)
















