BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Harga cabai yang masih tinggi di pasaran belum sepenuhnya memberikan keuntungan bagi petani di Desa Majalengka, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara.
Di tengah harga jual yang meningkat, tanaman cabai milik Kelompok Tani Nandurasa justru menghadapi ancaman gagal panen akibat kemarau panjang.
Kondisi tersebut membuat petani kesulitan memperoleh pasokan air untuk menjaga tanaman tetap tumbuh.
Sejumlah tanaman cabai mulai layu, bahkan sebagian telah mati karena tidak mendapatkan penyiraman secara rutin.
Petani cabai, Amad Kosim, mengatakan kondisi tanaman saat ini cukup memprihatinkan.
Selain tanaman yang mati, cabai yang masih bertahan juga mengalami penurunan produktivitas.
“Tanaman cabai sekarang banyak yang layu. Ada juga yang sudah mati karena kekurangan air,” kata Amad, Selasa (15/9/2026).
Kekurangan air tidak hanya membuat tanaman cabai layu. Tanaman yang masih mampu bertahan juga mulai menunjukkan penurunan produktivitas.
Bunga baru yang seharusnya menjadi bakal buah semakin berkurang. Sementara itu, sebagian buah cabai tumbuh lebih kecil dan tidak berkembang secara normal.
Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi petani karena terjadi ketika harga cabai di pasaran masih tergolong tinggi.
Dengan demikian, kenaikan harga belum tentu meningkatkan pendapatan petani apabila hasil produksi dari lahan justru mengalami penurunan.
Sebelumnya, petani cabai di Banjarnegara juga menghadapi situasi ketika harga cabai meningkat dan tanaman yang memasuki masa panen harus dijaga untuk mengantisipasi pencurian.
Kondisi itu menunjukkan tingginya nilai komoditas cabai di tengah periode panen.
Namun, saat ini persoalan utama petani bukan hanya menjaga tanaman dari risiko kehilangan hasil panen, melainkan memastikan tanaman mendapatkan air yang cukup hingga masa panen.
Berbagai upaya dilakukan petani untuk mempertahankan tanaman cabai. Salah satunya dengan membuat penampungan air dan memanfaatkan air sungai di sekitar lahan.
Akan tetapi, debit sungai terus mengalami penyusutan akibat kemarau panjang.
Kondisi tersebut membuat petani harus bergantian mengambil air untuk mengairi kebun.
“Kami terpaksa mengambil air dari sungai untuk menyiram tanaman. Tetapi debitnya semakin kecil, sehingga pengguna harus bergantian,” ujar Amad.
Keterbatasan pasokan air membuat tidak semua lahan dapat memperoleh penyiraman secara rutin.
Petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengambil dan mengalirkan air dari sumber yang masih tersedia menuju lahan.
Situasi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi sekaligus menekan hasil panen.
Jika kekeringan berlangsung lebih lama, tanaman cabai yang saat ini masih bertahan dikhawatirkan ikut mengalami kerusakan.
Kondisi kekurangan air pada sektor pertanian juga menjadi persoalan yang terjadi di sejumlah daerah ketika kemarau berlangsung panjang.
Di Banjarnegara, petani hortikultura di wilayah Dieng, misalnya, juga mengandalkan sejumlah sumber air seperti telaga, sungai, dan sumur untuk mempertahankan tanaman selama periode kering.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Amad berharap ada sumber air yang lebih permanen bagi lahan pertanian di Desa Majalengka.
Salah satu solusi yang diharapkan petani adalah pembangunan sumur bor atau pipanisasi dari sumber mata air yang berada di kawasan kaki bukit.
Namun, sumber air tersebut berjarak sekitar tujuh kilometer dari lahan pertanian.
Jarak yang cukup jauh membuat petani kesulitan mengambil air secara mandiri, terutama ketika debit sungai di sekitar kebun terus menyusut.
Bagi petani, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk mempertahankan tanaman hingga memasuki masa panen.
Jika pasokan air dapat dipenuhi, tanaman yang masih hidup diharapkan tetap mampu menghasilkan buah.
“Yang kami butuhkan sekarang air. Kalau tanaman bisa diselamatkan sampai panen, hasilnya masih bisa membantu kebutuhan keluarga,” pungkas Amad.
Persoalan air tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan produksi cabai. Apabila tanaman banyak mengalami kerusakan akibat kekeringan, hasil panen petani dapat menurun dan pada akhirnya berpotensi memengaruhi pasokan cabai di pasar. (jud/stch/dda)














