BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Desa Bunton di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang berada di pesisir selatan dan langsung menghadap ke Laut Selatan, dulunya menjadi langganan banjir rob.
Air laut yang pasang dengan mudah menyusup ke area pertanian, membuat lahan terendam dan hasil panen petani gagal. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, wajah desa ini mulai berubah secara signifikan.
Hamparan hijau hutan mangrove kini membentang di sepanjang pinggir Kali WPK (Wilayah Wisata Pinggir Kali) hingga ke area muara.
Vegetasi mangrove ini berfungsi ganda, bukan hanya sebagai penyangga ekosistem pesisir dan pelindung alami dari abrasi serta rob, tetapi juga menciptakan potensi baru dalam sektor ekowisata.
“Kalau dulu air laut pasang bisa masuk sampai sawah. Tapi sekarang sejak ada mangrove, air nggak sampai ke lahan, petani jadi bisa panen padi,” ujar Jaban Sukarto, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Lestari, sekaligus tokoh lokal yang menjadi pionir konservasi mangrove di Bunton.
Jaban dan kelompoknya yang terdiri dari sekitar 20 petani aktif telah merehabilitasi lebih dari enam hektar lahan pesisir.
Usaha ini bukan hanya berdampak pada pertanian yang kembali produktif, tetapi juga menghidupkan kembali ekosistem laut dan pantai. Kini, burung-burung mulai berdatangan, bersarang, dan berkembang biak di antara rimbunnya mangrove.
Perjalanan menuju status desa konservasi tentu bukan perkara mudah. Tantangan terbesar justru datang dari dalam desa itu sendiri.
“Awalnya pemerintah desa juga kurang yakin, katanya penghijauan nggak penting,” kenang Jaban.
Namun, perlahan keyakinan itu tumbuh seiring terlihatnya dampak nyata dari penanaman mangrove, baik secara ekologis maupun ekonomis. Manfaatnya mulai dirasakan tidak hanya oleh petani, tetapi juga oleh masyarakat umum yang melihat potensi wisata alam tumbuh di desanya sendiri.
Selain mangrove, warga juga menanam pohon penahan abrasi lainnya seperti ketapang laut dan cemara pantai. Vegetasi ini memperkuat perlindungan alami dari hantaman gelombang.
Dengan infrastruktur sederhana yang ada, seperti dermaga kecil dan fasilitas seadanya, pengunjung dari berbagai kalangan mulai berdatangan. Pelajar, komunitas pecinta alam, dan pemerhati lingkungan kini menjadikan Bunton sebagai lokasi edukasi konservasi.
Semangat menjaga lingkungan kini menular ke generasi muda. Anak-anak muda yang dulu hanya terlibat dalam peternakan, kini mulai aktif menanam mangrove, mengolah hasil laut seperti rumput laut, dan memahami konsep pertanian berkelanjutan.
Bahkan limbah rumput laut yang dahulu dianggap tak berguna, kini mulai dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bernilai.
“Dulu rumput laut dibuang, sekarang dimanfaatkan. Mereka juga mulai paham pentingnya pupuk dan pelatihan menanam mangrove,” jelas Jaban.
Proyek konservasi di Desa Bunton ini tidak berjalan sendirian. Kelompok Tani Hutan Wana Lestari bekerja sama dengan berbagai lembaga dan pihak eksternal.
Salah satunya adalah Balai Pengelola Sumber Daya Air (BPSDA) Serayu Opak, serta keterlibatan PLN Energi Primer Indonesia yang menyalurkan dukungan lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Melalui kolaborasi tersebut, ketahanan wilayah pesisir semakin diperkuat. Tak hanya dari sisi lingkungan, tapi juga ekonomi dan sosial warga. Semangat gotong royong menjadi pilar utama keberhasilan program ini.
Kini, Desa Bunton bukan lagi desa yang dikenal karena bencana rob-nya. Ia telah berubah menjadi kampung hijau yang menggantungkan harapan pada keberlanjutan lingkungan.
Hutan mangrove di desa ini tumbuh menjadi benteng pelindung, ladang ekonomi baru, dan pusat edukasi konservasi pesisir.
Dengan tumbuhnya kesadaran dan partisipasi warga serta dukungan berkelanjutan dari banyak pihak, Desa Bunton mengajarkan bahwa upaya konservasi bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga menanam masa depan. (ray/stch)
















