BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Sebanyak 15 anak tidak sekolah (ATS) di Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, kembali mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Surya Muhammadiyah Tambak.
Belasan peserta didik tersebut mulai mengikuti kegiatan pembelajaran perdana pada Sabtu (12/9).
Sebelumnya, mereka sempat cukup lama tidak mengikuti pendidikan sehingga membutuhkan pendekatan khusus agar dapat kembali beradaptasi dengan lingkungan belajar.
PKBM Surya Muhammadiyah Tambak membuka layanan pendidikan tersebut sebagai salah satu upaya memberikan kesempatan kepada anak putus sekolah untuk melanjutkan pendidikan.
Sistem pembelajaran dirancang lebih fleksibel dengan mempertimbangkan kondisi, usia, latar belakang, serta kebutuhan masing-masing peserta didik.
Sekretaris PKBM Surya Muhammadiyah Tambak, Ragil Suhartono, mengatakan para peserta didik sebelumnya bahkan sudah beberapa kali menanyakan kapan kegiatan belajar dapat dimulai.
“Sebelumnya, anak-anak sudah sering bertanya, kapan mulai sekolah,” ujar Ragil.
Ragil menjelaskan, kegiatan pembelajaran baru dapat dimulai pada September setelah berbagai persiapan dilakukan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah ketersediaan tutor yang dinilai mampu menangani karakteristik peserta didik ATS.
Menurut dia, anak tidak sekolah memiliki kondisi dan latar belakang yang beragam.
Karena itu, metode pembelajaran tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan sistem pendidikan formal yang biasa diterapkan kepada peserta didik seusia sekolah.
Tutor perlu menyesuaikan cara mengajar agar materi dapat diterima dengan baik.
Pendekatan tersebut juga penting untuk membuat peserta didik merasa nyaman ketika kembali mengikuti kegiatan pendidikan setelah cukup lama meninggalkan sekolah.
Kondisi usia peserta didik menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Sebagian ATS yang mengikuti program di PKBM Surya Muhammadiyah Tambak sudah berada pada usia yang lebih dewasa dibandingkan siswa pada jenjang pendidikan formal.
Hal tersebut membuat proses adaptasi menjadi bagian penting dalam kegiatan belajar.
Selain mengejar materi pendidikan, peserta didik juga perlu membangun kembali rasa percaya diri untuk berinteraksi dengan tutor maupun teman-teman dalam lingkungan belajar.
Pada hari pertama pembelajaran, sebagian besar peserta didik menunjukkan respons positif.
Mereka dinilai cukup antusias dan interaktif selama mengikuti kegiatan.
“Dari pengamatan di hari pertama kegiatan pembelajaran ATS, setelah cukup lama tidak sekolah mereka mayoritas antusias dan interaktif,” kata Ragil.
Meski demikian, tutor masih menemukan beberapa peserta didik yang mengaku merasa malu saat mengikuti pembelajaran.
Perasaan tersebut antara lain berkaitan dengan faktor usia dan pengalaman mereka yang sudah cukup lama tidak berada di lingkungan pendidikan.
Rasa malu tersebut menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi selama proses pembelajaran.
Tutor kemudian memberikan motivasi kepada peserta didik agar tidak minder dan tetap percaya diri.
Para siswa juga diberikan pemahaman bahwa usia maupun latar belakang bukan alasan untuk berhenti mendapatkan pendidikan.
Mereka didorong untuk mengikuti kegiatan belajar secara bertahap sampai dapat menyelesaikan program yang ditempuh.
Pendekatan yang lebih fleksibel diharapkan mampu membuat peserta didik merasa lebih nyaman.
Dengan suasana belajar yang mendukung, mereka diharapkan dapat kembali membangun kebiasaan belajar dan beradaptasi dengan lingkungan pendidikan.
Dari 15 ATS yang saat ini mengikuti pembelajaran di PKBM Surya Muhammadiyah Tambak, jenjang pendidikan mereka cukup beragam.
PKBM mencatat satu peserta didik mengikuti Paket A yang setara dengan jenjang sekolah dasar (SD).
Kemudian, terdapat delapan peserta didik yang mengikuti Paket B, setara dengan sekolah menengah pertama (SMP).
Sementara itu, enam peserta didik lainnya mengikuti Paket C yang setara dengan sekolah menengah atas (SMA).
Pembagian tersebut memungkinkan peserta didik memperoleh layanan pendidikan berdasarkan jenjang yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Program pendidikan kesetaraan seperti Paket A, Paket B, dan Paket C menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal secara reguler.
Dalam konteks ATS, layanan tersebut memberikan ruang untuk kembali belajar dengan pola yang dapat disesuaikan dengan kondisi peserta didik.
PKBM Surya Muhammadiyah Tambak masih membuka kesempatan bagi anak tidak sekolah yang ingin kembali melanjutkan pendidikan.
Peserta didik yang terlambat mengikuti pembelajaran tetap diberikan kesempatan untuk mendaftar.
Ragil menegaskan bahwa keterlambatan bukan alasan bagi ATS untuk mengurungkan niat kembali bersekolah.
“ATS yang ingin melanjutkan sekolah di PKBM masih bisa mendaftar, terlambat tidak apa-apa,” ujarnya.
Kesempatan tersebut menjadi penting bagi anak yang sebelumnya terpaksa meninggalkan pendidikan karena berbagai kondisi.
Dengan adanya layanan pendidikan kesetaraan, mereka tetap mempunyai kesempatan untuk melanjutkan proses belajar sesuai jenjang yang dibutuhkan.
PKBM juga tidak hanya berperan sebagai tempat memperoleh materi pembelajaran.
Lingkungan belajar yang lebih fleksibel diharapkan dapat membantu peserta didik membangun kembali kepercayaan diri dan motivasi untuk menyelesaikan pendidikan.
Bagi peserta didik yang telah cukup lama tidak sekolah, proses kembali ke dunia pendidikan memang membutuhkan penyesuaian.
Karena itu, dukungan tutor, lingkungan belajar yang nyaman, serta motivasi dari orang-orang di sekitar menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.
Melalui pembelajaran yang menyesuaikan kebutuhan peserta didik, PKBM Surya Muhammadiyah Tambak berupaya memastikan anak tidak sekolah tetap memiliki akses terhadap pendidikan.
Sebanyak 15 peserta didik yang telah memulai pembelajaran menjadi langkah awal dari upaya tersebut.
Ke depan, layanan pendidikan fleksibel diharapkan dapat menjadi pilihan bagi lebih banyak ATS di Kecamatan Tambak yang ingin kembali belajar dan menyelesaikan pendidikan mereka. (*/stch/dda)














