Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Permukiman Padat di Wonosobo Terbakar, Petugas Berjibaku Cegah Api Merembet
Air SPPG Rejasari I Purwokerto Tak Lolos Uji, Coliform Tembus di Atas 200 MPN

Air SPPG Rejasari I Purwokerto Tak Lolos Uji, Coliform Tembus di Atas 200 MPN

Air SPPG Rejasari I Tak Lolos UjiAir SPPG Rejasari I Tak Lolos Uji
MASIH DIPROTES: SPPG Rejasari I masih diprotes warga karena IPALnya yang belum sempurna dan dinilai mencemari lingkungan RT 2 RW II

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Hasil uji laboratorium terhadap baku mutu air Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rejasari I, Kecamatan Purwokerto Barat, menjadi perhatian Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkompincam) Purwokerto Barat.

Pasalnya, hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat empat parameter air yang tidak memenuhi syarat (TMS).

Keempat parameter tersebut yakni Coliform, Escherichia Coli (E.coli), zat besi (Fe), dan kekeruhan air.

Temuan tersebut menjadi catatan dalam pengelolaan air di SPPG Rejasari I, terutama karena beberapa parameter menunjukkan hasil di atas standar baku mutu yang ditetapkan.

Camat Purwokerto Barat Arif Ependy mengatakan, hasil uji laboratorium kesehatan telah diterima dan dibagikan kepada pihak terkait.

Hasil pemeriksaan tersebut menjadi perhatian Forkompincam karena seluruh empat parameter yang menjadi catatan wajib dinyatakan tidak memenuhi standar.

“Catatan tebal hasil uji standar baku mutu air ternyata empat yang TMS,” katanya.

Arif menjelaskan, salah satu parameter yang diperiksa adalah Coliform. Untuk air bersih, standar normal atau ambang batas kandungan Coliform ditetapkan sebesar nol MPN per 100 mililiter.

Namun, berdasarkan hasil uji laboratorium, kandungan Coliform pada sampel air yang diperiksa tercatat lebih dari 200 MPN per 100 ml. Angka tersebut berada jauh di atas standar yang ditetapkan.

Parameter berikutnya adalah E.coli. Sama seperti Coliform, standar baku mutu E.coli berada pada angka nol MPN per 100 ml.

Sementara itu, hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan E.coli sebesar 1 MPN per 100 ml.

Dengan demikian, parameter tersebut juga dinyatakan tidak memenuhi syarat karena berada di atas ambang yang ditetapkan.

Selain parameter bakteri, pemeriksaan juga menemukan persoalan pada kandungan zat besi atau Fe.

Arif menyebut standar baku mutu kandungan Fe berada pada angka 0,2 mg/L.

Namun, hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan Fe dalam sampel air mencapai 0,53 mg/L.

Parameter lainnya adalah tingkat kekeruhan air. Standar baku mutu kekeruhan ditetapkan kurang dari 3 Nephelometric Turbidity Unit (NTU).

Hasil pemeriksaan justru menunjukkan tingkat kekeruhan mencapai 3,8 NTU.

“Kandungan Fe dengan standar baku 0,2 mg/L, hasil uji labnya 0,53 mg/L. Terakhir kekeruhan air dari standar baku kurang dari tiga Nephelometric Turbidity Unit (NTU), hasil uji lab 3,8 NTU. Keempatnya jadi catatan,” terang Arif.

Dengan demikian, empat parameter yang diperiksa tersebut menjadi perhatian dalam pengelolaan air SPPG Rejasari I.

Temuan tidak hanya berkaitan dengan kandungan bakteri, tetapi juga menyangkut kadar zat besi dan tingkat kejernihan air.

Temuan tersebut juga mendapat perhatian dari warga Rejasari. Ketua RW II Rejasari Henri Rusmanto menilai hasil uji laboratorium tersebut memperkuat dugaan bahwa persoalan pencemaran sumur salah satu rumah warga RT 2 RW II tidak semata-mata disebabkan oleh bangkai tikus.

Menurut Henri, sebelum bangkai tikus ditemukan, sumur di rumah warga tersebut disebut sudah mengeluarkan bau.

Ia mempertanyakan jika pencemaran hanya dikaitkan dengan keberadaan bangkai tikus, sementara hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan terdapat empat parameter baku mutu air SPPG Rejasari I yang juga dinyatakan TMS.

“Alasan yang tidak masuk akal. Karena dari hasil uji lab, empat parameter baku mutu air SPPG sudah TMS. Tidak ada bangkai tikus pun TMS,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kualitas air menjadi bagian penting dari polemik yang terjadi di sekitar SPPG Rejasari I.

Korwil SPPG Kecamatan Purwokerto Barat Andita Werdhining Utami memastikan, hasil pemeriksaan terhadap empat parameter baku mutu air tersebut juga menjadi perhatian pihak SPPG.

Menurutnya, pengelola perlu lebih memperhatikan perawatan serta metode treatment yang digunakan dalam pengelolaan air.

Andita menjelaskan, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) biotank yang digunakan SPPG Rejasari I merupakan IPAL baru.

Karena itu, menurut dia, pola perawatan dan penanganannya berbeda dengan sistem IPAL yang menggunakan chamber.

“IPAL biotank kami adalah IPAL baru. Perawatannya itu beda dengan IPAL-IPAL yang kita membuat chamber. Treatment ke depan jadi catatan,” pungkasnya.

Hasil uji laboratorium tersebut menjadi salah satu evaluasi penting bagi pengelolaan SPPG Rejasari I.

Empat parameter yang dinyatakan TMS menunjukkan masih terdapat aspek kualitas air yang perlu diperbaiki.

Kandungan Coliform dan E.coli berkaitan dengan aspek mikrobiologis air, sedangkan Fe dan kekeruhan berkaitan dengan parameter kualitas fisik maupun kimia air.

Perawatan instalasi serta treatment air menjadi perhatian agar kondisi tersebut dapat diperbaiki dan pengelolaan SPPG tidak menimbulkan persoalan lingkungan maupun kekhawatiran di tengah masyarakat.

Persoalan ini juga menjadi sorotan karena SPPG Rejasari I sebelumnya masih mendapat protes warga terkait kondisi IPAL yang dinilai belum sempurna dan diduga berkaitan dengan pencemaran lingkungan di wilayah RT 2 RW II. (yda/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kebakaran Hebat hanguskan 10 Rumah

Permukiman Padat di Wonosobo Terbakar, Petugas Berjibaku Cegah Api Merembet