BANYUMASEKSPRES.ID, Menghabiskan akhir pekan di Kota Bandung selalu menarik, tetapi pilihan destinasi tidak harus berkutat pada tempat wisata yang sudah umum.
Jika mencari destinasi ramah anak sekaligus edukatif, Museum Institut Teknologi Bandung atau Museum ITB dapat menjadi pilihan menarik.
Museum ITB berada di kawasan Gedung Sasana Budaya Ganesa atau Sabuga, tepatnya Jalan Tamansari No. 73, Kota Bandung.
Museum ini mengajak anak mengenal sains dan teknologi melalui wahana interaktif yang mampu memancing rasa ingin tahu secara langsung.
Pengunjung juga dapat melihat perjalanan panjang ITB melalui arsip, artefak, teknologi, serta berbagai kisah inovasi dari masa ke masa.
Museum ITB berada di lantai empat Gedung Sabuga, dengan pintu masuk terletak di kiri pojok gedung tersebut.
Petunjuk arah tersedia untuk membantu pengunjung menemukan lokasi museum, terutama bagi mereka yang baru pertama kali berkunjung.
Pengunjung perlu membeli tiket di lobby utama, dengan harga umum Rp50 ribu untuk menikmati berbagai koleksi Museum ITB.
Tiket rombongan, mahasiswa, pelajar, hingga civitas akademika ITB tersedia dengan harga lebih murah dibandingkan tiket umum tersebut.
Setelah membeli tiket, pengunjung diarahkan menuju ruang utama museum dengan menaiki tangga satu lantai untuk memulai perjalanan.
Ruang utama menyimpan arsip ITB dari masa lalu hingga terbaru, termasuk foto rektor ITB dari berbagai periode kepemimpinan.
Koordinator Museum ITB Usep Mulyana turut menjelaskan berbagai koleksi dan mengajak pengunjung berkeliling melihat keseluruhan area museum tersebut.
“Kita punya empat zona. Zona 1 terkait dengan akar sejarah ITB, zona 2 terkait dengan jejak pencerahan riset dan pendidikan, zona 3 terkait kehidupan kampus dari masa ke masa, dan zona 4 terkait dengan inspirasi masa depan,” kata Usep.
Zona pertama menampilkan akar sejarah ITB melalui lini masa yang mencatat perkembangan institusi sejak 1910 hingga kondisi terkini.
Salah satu tonggak penting terjadi pada 3 Juli 1920 ketika Sekolah Tinggi Teknik berdiri di Hindia Belanda.
Tanggal tersebut kerap diperingati sebagai Hari Pendidikan Tinggi Teknik Indonesia karena menjadi bagian penting sejarah pendidikan teknik.
Wisuda pertama ITB kemudian diselenggarakan pada 1 Juli 1924, empat tahun setelah pendirian Sekolah Tinggi Teknik tersebut.
Museum juga menyimpan dokumen dari 1920 hingga sekarang yang diperoleh Direktorat Pendidikan dan diserahkan kepada bagian kearsipan ITB.
“Jadi dokumen ini bisa dilihat digitalnya, kalau fisik tentunya kami simpan. Nah ini kita juga punya piagam-piagam yang kita koleksi, tapi ini sudah direstorasi, ada beberapa yang rusak, tapi kita udah sesuaikan dengan aslinya,” ujarnya.
Koleksi lainnya berupa foto Presiden Soekarno berpidato, patung Ganesha, serta pembangunan aula barat dan timur ITB.
Zona kedua menghadirkan berbagai penelitian, termasuk sejarah stegodon Indonesia melalui layar besar dan gading tiruan gajah purba.
Gading stegodon tersebut ditemukan di Sungai Cisaat, perbatasan Sumedang dan Majalengka, oleh peneliti Teknik Geologi ITB pada 2018.
Tim tersebut terdiri dari Jahdi Zaim, Yandi Rizal, dan Aswan yang melakukan penelitian terkait stegodon di kawasan tersebut.
Area ini juga menampilkan peta sebaran seni purbakala cadas serta visualisasi lukisan Gua Sangkulirang dari Kalimantan Timur.
“Karena kebetulan di ITB ada Jurusan Geologi, ada kelompok keahlian yang ngumpul beberapa peneliti melakukan penelitian terkait dengan Stegodon, terus terkait dengan lukisan Gua Sangkulirang, itu teman-teman dari Geologi yang melakukan penelitian, termasuk memetakan sebaran seni purbakala cadasnya,” terangnya.
Museum ITB juga memiliki rak kaca besar berisi komputer, monitor, mesin uap, alat ukur, hingga fosil kerang laut.
Barang-barang lama tersebut sebelumnya sempat tercecer, kemudian kembali ke ITB dan disimpan sebagai bagian koleksi museum.
Pengunjung dapat mengetahui sejarah setiap barang melalui layar interaktif dengan mengarahkan layar tersebut pada koleksi yang dipilih.
“Perjalanan mengumpulkan barang ini lama. Perjalanan mengumpulkan, meminta, kita berkirim surat, menanyakan barangkali ada yang ini. Akhirnya kan tadi, sebelum ini dirilis sebenarnya kan ada soft launching dulu. Soft launching itu kan barang-barang, dokumen, artefak dan lain-lain yang dimiliki oleh program studi, fakultas/sekolah, koleksi pribadi, ada yang disimpan di sini. Tapi setelahnya kan ada yang ditarik kembali, ada yang disumbangkan, dan seterusnya,” jelasnya.
Layar interaktif lainnya menampilkan kehidupan tumbuhan dan hewan dengan suasana berbeda berdasarkan waktu kunjungan pengunjung.
Anak-anak dapat memilih karakter hewan, memberikan nama, kemudian melihat karakter tersebut muncul pada layar dalam beberapa detik.
“layar interaktif ini paling disukai oleh anak-anak,” kata Usep.
Museum juga memamerkan replika instalasi penjernih air buatan ITB serta kaki palsu yang dapat digunakan saat bersila dan salat.
Zona ketiga memperlihatkan perjalanan ITB melalui foto-foto kegiatan wisuda, reformasi, serta berbagai aktivitas kampus dari masa ke masa.
“Jadi ini terkait dengan kegiatan wisuda, kegiatan pada saat reformasi. Ini saat reformasi dulu,” ujarnya.
ITB juga pernah memiliki siaran televisi terbatas yang digunakan untuk mendukung kegiatan perkuliahan sejak 1977 sebagai bagian sistem pendidikan.
“TV-TV ini milik TPST dulu kan banyak TV,” ucapnya.
Koleksi lainnya adalah meja gambar kaca dengan rangka besi yang digunakan untuk menggambar, melukis, hingga membuat sketsa bangunan.
“Ini sebenarnya meja gambar 1930, kalau ininya (kaca) masih baru, tapi kalau rangkanya rangka yang asli,” terang Usep.
Di rooftop Gedung Sabuga, pengunjung dapat melihat Pesawat Gelatik yang dahulu digunakan dosen dan mahasiswa untuk penelitian.
Mesin pesawat masih tersedia, tetapi belum dipasang, sementara bagian tubuh pesawat kini menjadi koleksi sekaligus spot foto pengunjung.
“Dulu disimpannya di Husein Sastranegara, sekarang disimpan di sini. Mahasiswa Jurusan Penerbangan bisa menggunakan pesawat ini sebagai alat praktik,” ujarnya.
“Ini mesinnya ada, tapi kita belum rakit ya. Jadi beberapa yang harus memang dijaga, ini (baling-baling) kan kalau teman-teman datang ke sini kalau ada mesin, jadi kan suka ada yang iseng nih, diputer. Kita kan khawatir juga, ini kan tajam. Mesinnya ada, sebenarnya mau dirakit. Tapi kebayang kalau dirakit harus dipanasin, gimana kalau ada anak-anak. Tapi suatu saat akan dipasang ulang,” tambahnya.
Zona keempat menghadirkan Teater Imersif dan Kubah 360 dengan proyeksi visual melingkar penuh untuk pengalaman audio-visual berbeda.
Fasilitas ini memadukan ilmu pengetahuan, sejarah, dan teknologi modern tanpa mengharuskan penonton memakai kacamata virtual reality.
Pemutaran film memiliki jadwal tertentu dan tidak berlangsung setiap waktu, sehingga pengunjung perlu memperhatikan waktu kunjungan.
Saat film diputar, tayangan bergerak mengelilingi pandangan sehingga sebagian pengunjung pertama kali dapat merasa mual atau pusing.
“Ini dome yang kita punya. Jadi sebenarnya pengunjung tuh lebih suka ini, jadi ini tujuan utamanya,” kata Usep.
Bangunan kubah tersebut telah ada sekitar 30 tahun dan menjadi salah satu tujuan utama pengunjung Museum ITB.
“Film, sementara kami punya koleksi baru dua. Sementara baru dua koleksi, satu dari Empat Pilar dan satu lagi sumbangan dari Paragon. Nah kami sebenarnya sudah dapat sumbangan lagi dari Bosscha. Bosscha itu yang terkait cerita di sana, sedang dicoba disesuaikan di sini. Mungkin karena harus ada penyesuaian suara, gambar. Jadi kami sedang memperbaiki, mudah-mudahan katanya sih Oktober sudah ada,” pungkasnya. (vip)














