BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kabupaten Banyumas semakin mengukuhkan posisinya sebagai produsen utama gula kelapa ekspor di Indonesia. Sepanjang tahun 2024, daerah ini berhasil mengekspor 5.342 ton gula kelapa dengan pasar utama Eropa dan Amerika.
Pencapaian ini semakin diperkuat dengan keberhasilan BUMDes Ciptaku mengekspor 18,5 ton gula kelapa organik ke Hungaria yang dilepas langsung oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto pada Kamis (1/5/2025).
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono dengan bangga menyatakan bahwa 90% kebutuhan gula kelapa dunia dipasok dari Indonesia, dimana 80%-nya berasal dari Banyumas.
“Hari ini BUMDes Ciptaku berhasil ekspor 18,5 ton gula kelapa ke Hungaria. Ini membuktikan desa bisa menjadi pusat kekuatan ekonomi yang mandiri,” ujar Sadewo dalam acara pelepasan ekspor di Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok.
Meski menjadi tulang punggung ekspor gula kelapa nasional, Banyumas masih menghadapi beberapa tantangan utama. Pertama, permintaan pasar internasional yang semakin ketat terhadap standar gula kristal organik.
“Sekarang di Cilongok sudah menjaga mutu dan betul-betul menjadi gula organik yang tidak ditolak di Eropa dan Amerika,” papar Bupati.
Tantangan kedua adalah regenerasi penderes yang semakin minim karena pekerjaan ini dianggap berisiko tinggi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyumas telah melakukan beberapa terobosan. Salah satunya dengan mulai menanam kelapa genjah yang hanya setinggi 2-3 meter untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja.
“Kami juga membutuhkan laboratorium untuk meneliti kualitas gula sebelum diekspor, memastikan benar-benar bebas rafinasi,” tambah Sadewo.
Menteri Desa Yandri Susanto mengungkapkan bahwa ekspor gula kelapa ini merupakan implementasi dari MoU dengan Kementerian Perdagangan untuk mewujudkan program Desa Ekspor.
“Ada 12 aksi bangun desa, salah satunya desa ekspor. Kita ingin di desa tidak ada lagi kemiskinan dan stunting,” tegas Yandri.
Ia mengapresiasi Bupati Sadewo yang konsisten mengembangkan industri gula kelapa, sekaligus menekankan pentingnya menjaga mutu produk.
Kolaborasi antar kementerian mulai menunjukkan hasil nyata. Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa dari 2.230 desa yang diidentifikasi, sebanyak 734 desa sudah siap ekspor.
“Kita fasilitasi business matching untuk desa siap ekspor, sementara yang belum kita bina,” ujar Budi.
Target Kementerian Perdagangan adalah mencapai pertumbuhan ekspor 7,1% untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional 8%.
Keberhasilan ekspor gula kelapa Banyumas ini tidak lepas dari peran BUMDes sebagai penggerak ekonomi desa. Nilai ekspor 18,5 ton gula semut ke Hungaria mencapai 35 ribu US Dollar, membuktikan bahwa produk desa mampu bersaing di pasar global.
“Dengan kolaborasi kuat antara desa, daerah, dan pusat, cita-cita desa maju dan UMKM naik kelas bisa menjadi kenyataan,” pungkas Bupati Sadewo.
Pemerintah Kabupaten Banyumas berkomitmen terus mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas produksi gula kelapa, sekaligus menyiapkan regenerasi penderes melalui berbagai pelatihan dan penyediaan bibit kelapa genjah.
Langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat posisi Banyumas sebagai penghasil gula kelapa terbaik dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. (ads/*stch)
















