BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak hanya terlihat dari berbagai perlombaan dan dekorasi lingkungan.
Momentum 17 Agustus juga ikut menggerakkan aktivitas ekonomi warga di Banyumas Raya.
Kreativitas masyarakat terlihat di sejumlah tempat. Para pedagang Pasar Cilongok, Banyumas, secara swadaya menghias sekitar 50 lorong dengan berbagai ornamen bernuansa kemerdekaan.
Sementara itu, pelaku usaha ecoprint di Desa Bajong, Kecamatan Bukateja, Purbalingga, justru mendapat berkah dari meningkatnya permintaan produk bertema merah putih.
Di Pasar Cilongok, suasana menyambut HUT ke-81 RI mulai terasa sejak awal Agustus.
Para pedagang berinisiatif mempercantik lingkungan pasar dengan dekorasi kemerdekaan yang dibuat secara mandiri.
Setiap lorong di pasar tersebut mengumpulkan iuran untuk membuat hiasan masing-masing.
Sekitar 50 lorong ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Nantinya, lorong dengan dekorasi paling menarik akan mendapatkan hadiah dari panitia pasar.
Mawar, salah seorang pedagang Pasar Cilongok, mengatakan kegiatan menghias lorong tersebut merupakan inisiatif para pedagang dan baru dilaksanakan tahun ini.
“Ini ide dari para pedagang dan baru tahun ini. Iurannya per lorong, ada sekitar 50-an lorong. Nanti yang menang mendapat hadiah dari panitia pasar,” ujar Mawar, Jumat (14/8/2026).
Antusiasme pedagang dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI bahkan berlangsung hingga malam hari.
Sejak awal Agustus, sejumlah pedagang masih sibuk mempercantik lingkungan pasar hingga sekitar pukul 01.00 WIB.
Dekorasi tersebut tidak hanya membuat lingkungan pasar terlihat lebih meriah.
Aktivitas bersama para pedagang juga menciptakan suasana kebersamaan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Selain lomba menghias lorong, Pasar Cilongok tetap menggelar sejumlah perlombaan yang sudah menjadi agenda rutin setiap tahun.
Beberapa di antaranya adalah lomba joget dan makan kerupuk yang diikuti untuk menambah kemeriahan suasana 17 Agustus.
“Kalau untuk lomba lainnya seperti joget, makan kerupuk sudah menjadi agenda rutin sejak tahun-tahun sebelumnya,” kata Mawar.
Pedagang lainnya, Bambang, warga Cilongok, mengapresiasi kekompakan para pedagang dalam mempercantik pasar.
Menurutnya, hasil kreativitas tersebut membuat suasana pasar terasa lebih hidup.
“Ini semua hasil swadaya, begitu meriah dan antusias untuk hiasannya enggak bakal dilepas sampai lusuh sendiri mbak. Rasanya jadi makin semangat. Para pembeli juga terlihat lebih merasa senang,” ujar Bambang.
Semarak kemerdekaan juga memberikan dampak berbeda bagi pelaku UMKM di Purbalingga.
Kiyegodong Ecoprint di Desa Bajong, Kecamatan Bukateja, mengalami peningkatan pesanan produk bernuansa merah putih hingga 100 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemilik Kiyegodong Ecoprint, Astutiati atau Asty, mengatakan permintaan produk bertema kemerdekaan mulai meningkat sejak awal Agustus.
Berbagai produk dipesan masyarakat untuk kebutuhan karnaval, perlombaan, hingga kegiatan gerak jalan.
Produk yang banyak diminati antara lain kain merah putih, vest, outer, bando, dan topi.
Beragam produk tersebut dibuat dengan teknik ecoprint dan dapat disesuaikan dengan permintaan konsumen.
“Iya, kita Agustusan mulai ramai dari awal Agustus sudah mulai ramai. Peningkatannya dari tahun kemarin ini mencapai 100 persen,” kata Asty, Jumat (14/8).
Menurut Asty, tren permintaan produk bernuansa kemerdekaan sebenarnya sudah mulai terlihat sejak 2025. Namun, peningkatan pada tahun ini jauh lebih signifikan.
Pernak-pernik bertema 17 Agustus seperti bando dan kain merah putih menjadi sejumlah produk yang paling banyak dicari.
Momentum kemerdekaan pun menjadi peluang bagi usaha lokal untuk meningkatkan produksi dan penjualan.
“Sudah mulai tahun kemarin, 2025. Itu sudah mulai, kain merah putih. Terutama pernak-pernik 17-an, terutama bando,” ujarnya.
Meningkatnya permintaan membuat Kiyegodong Ecoprint harus menambah tenaga kerja.
Asty melibatkan warga di sekitar tempat usahanya untuk membantu memenuhi kebutuhan produksi selama periode ramai.
“Kita cari tenaga kerja di tetangga-tetangga itu buat tambahan, tenaga kerja tambahan,” katanya.
Dari sisi pemasaran, produk Kiyegodong Ecoprint tidak hanya menyasar konsumen di Desa Bajong.
Produk tersebut telah menjangkau sejumlah wilayah di Banyumas Raya, dengan Purbalingga menjadi salah satu pasar terbesar.
“Kalau pemasarannya ini sampai Purwokerto, terutama Purbalingga yang paling banyak,” jelas Asty.
Harga produk yang ditawarkan cukup beragam, tergantung jenis dan kebutuhan konsumen.
Bando dijual mulai Rp15 ribu hingga Rp25 ribu. Sementara kain ecoprint berada di kisaran Rp300 ribu sampai Rp350 ribu.
Untuk produk vest, harganya berada di kisaran Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Konsumen juga dapat memesan produk dengan desain tertentu karena Kiyegodong Ecoprint melayani pembuatan secara custom.
“Iya, kita custom. Karena ecoprint memang biasanya custom,” tuturnya.
Konsep custom tersebut membuat konsumen dapat menyesuaikan produk dengan kebutuhan masing-masing.
Pemesanan juga tidak terbatas pada momentum HUT Kemerdekaan RI. Produk dengan desain tertentu tetap dapat dipesan sepanjang tahun.
Usaha Kiyegodong Ecoprint sendiri mulai dirintis Asty sejak 2019. Setahun kemudian, ia mulai mengikuti berbagai kegiatan UKM untuk mengembangkan usaha sekaligus memperluas pemasaran.
Meningkatnya pesanan menjelang 17 Agustus menunjukkan bahwa momentum perayaan kemerdekaan dapat memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Tidak hanya pelaku usaha yang menjual produk bertema merah putih, aktivitas warga di ruang publik juga ikut menciptakan perputaran ekonomi.
Pedagang Pasar Cilongok mendapat ruang untuk memperkuat kebersamaan sekaligus mempercantik lingkungan pasar.
Di sisi lain, perajin ecoprint memperoleh tambahan permintaan yang berdampak langsung terhadap produksi dan kebutuhan tenaga kerja.
Bambang berharap semangat kebersamaan para pedagang Pasar Cilongok tidak berhenti setelah perayaan HUT ke-81 RI.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari upaya memperbaiki dan menata pasar agar semakin nyaman bagi pedagang maupun pembeli.
“Harapannya ke depan semoga bisa ditata lebih baik,” ujarnya.
Semarak kemerdekaan akhirnya bukan hanya menjadi perayaan tahunan. Bagi sebagian warga Banyumas Raya, momentum 17 Agustus juga menjadi kesempatan untuk berkarya, memperluas usaha, menambah pesanan, serta ikut menggerakkan ekonomi lokal. (zet/dms/stch/dda)














