Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

18.850 Pelajar Banjarnegara Sudah Punya Rekening, OJK Soroti Literasi Keuangan

18.850 Pelajar Punya Rekening18.850 Pelajar Punya Rekening
FOTO BERSAMA: OJK Wilayah Purwokerto bersama Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menggencarkan edukasi keuangan bagi kalangan pelajar

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Sebanyak 18.850 pelajar di Banjarnegara telah memiliki rekening tabungan melalui program KEJAR atau Satu Rekening Satu Pelajar.

Jumlah tersebut jauh melampaui target awal yang ditetapkan sebanyak 4.500 rekening.

Capaian tersebut menunjukkan semakin luasnya akses pelajar terhadap layanan keuangan formal.

Namun, peningkatan jumlah rekening belum sepenuhnya diikuti dengan pemahaman yang baik mengenai cara mengelola keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai literasi keuangan pelajar masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Pelajar tidak cukup hanya memiliki rekening, tetapi juga perlu memahami cara menggunakan layanan keuangan secara aman dan bijak.

Kepala OJK Wilayah Purwokerto, Dinavia Tri Riandari, mengatakan masih terdapat kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

Berdasarkan data yang disampaikan OJK, indeks literasi keuangan pelajar secara nasional berada di angka 62,72, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 92,76.

“Gap antara inklusi dan literasi ini menjadi PR bersama. Banyak masyarakat maupun pelajar yang sudah memiliki akses keuangan, namun pemahaman dan pengelolaannya harus terus ditingkatkan,” kata Dina saat kegiatan OJK Goes to School di SMAN 1 Bawang, Rabu (12/8/2026).

Program KEJAR atau Satu Rekening Satu Pelajar menjadi salah satu upaya memperluas akses keuangan formal bagi kalangan pelajar.

Di Banjarnegara, jumlah rekening yang telah dimiliki siswa mencapai 18.850.

Angka tersebut jauh di atas target awal sebanyak 4.500 rekening. Artinya, akses pelajar terhadap produk tabungan perbankan telah berkembang cukup pesat.

Meski demikian, peningkatan jumlah rekening tersebut menjadi tantangan baru.

Pelajar perlu dibekali pengetahuan agar rekening yang dimiliki tidak sekadar digunakan sebagai tempat menyimpan uang, tetapi juga menjadi sarana untuk belajar mengelola keuangan sejak dini.

Edukasi mengenai literasi keuangan dinilai penting karena pelajar mulai berhadapan dengan berbagai produk dan layanan keuangan digital.

Kemudahan akses tersebut harus diimbangi dengan kemampuan mengenali risiko.

Kegiatan OJK Goes to School di SMAN 1 Bawang menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan pemahaman tersebut.

Ratusan siswa dari 50 sekolah di Banjarnegara mengikuti kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Hari Indonesia Menabung 2026.

Para pelajar mendapatkan materi mengenai pengelolaan keuangan.

Selain itu, mereka juga mengikuti sesi interaktif Class of Financial Genius untuk memperkenalkan konsep pengelolaan keuangan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.

Selain mengajarkan cara mengelola uang, edukasi keuangan juga diarahkan untuk meningkatkan kewaspadaan pelajar terhadap berbagai risiko di sektor keuangan digital.

Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, mengingatkan para siswa agar tidak mudah tergiur tawaran pinjaman online (pinjol) ilegal maupun investasi bodong.

Menurutnya, tawaran mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat perlu disikapi secara hati-hati.

Pelajar harus terlebih dahulu memastikan legalitas lembaga jasa keuangan sebelum menggunakan produk yang ditawarkan.

“Jangan sampai niat hati ingin mendapatkan uang cepat, tetapi justru berujung pada kerugian dan terlilit utang. Pelajari ilmunya dan pastikan lembaga jasa keuangannya resmi serta diawasi OJK,” ujarnya.

Peringatan tersebut menjadi semakin penting seiring semakin luasnya penggunaan teknologi digital di kalangan generasi muda.

Berbagai tawaran investasi, pinjaman, maupun layanan keuangan kini dapat muncul melalui media sosial dan aplikasi.

Karena itu, kemampuan membedakan layanan keuangan legal dan ilegal menjadi bagian penting dari edukasi finansial bagi pelajar.

Amalia juga mendorong pelajar yang telah berusia 17 tahun untuk segera memiliki KTP elektronik.

Dokumen tersebut dibutuhkan untuk memudahkan akses terhadap berbagai layanan keuangan formal.

Selain itu, pelajar juga diminta menjaga kerahasiaan data pribadi. Informasi seperti nomor identitas, data rekening, PIN, kata sandi, dan kode keamanan tidak boleh diberikan sembarangan kepada orang lain.

Pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan edukasi keuangan juga diharapkan tidak berhenti pada peserta.

Para siswa didorong untuk membagikan informasi tersebut kepada teman maupun lingkungan sekitarnya.

Dengan jumlah 18.850 rekening pelajar di Banjarnegara, pekerjaan berikutnya bukan sekadar mengejar pertumbuhan jumlah rekening.

Tantangan yang lebih penting adalah memastikan para pelajar memahami manfaat, risiko, serta cara menggunakan layanan keuangan secara bertanggung jawab.

Kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan menunjukkan bahwa akses saja belum cukup.

Pelajar perlu memiliki pengetahuan yang memadai agar kemudahan layanan keuangan justru menjadi bekal untuk membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak usia sekolah.

Melalui edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan, program Satu Rekening Satu Pelajar diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah pelajar yang memiliki rekening, tetapi juga melahirkan generasi muda yang lebih melek finansial, bijak mengelola uang, dan waspada terhadap risiko keuangan digital. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Jodar Kejar Rekor Becker

Rafael Jodar Selangkah Lagi Tembus 10 Besar ATP, Bisa Pecahkan Rekor Boris Becker

Berita Selanjutnya
29 Km Jaringan Fiber Optik Akan Dibangun

Pemkab Cilacap Cek Kabel Internet Menjuntai, Jaringan Fiber Optik 29 Km Akan Dipasang