Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Sebelum Liburan ke Thailand, Kenali Waktu Terbaik untuk Hindari Puncak Panas
Konservasi Burung di Banjarmangu Berhasil, Jumlah Spesies Naik Jadi 66

Konservasi Burung di Banjarmangu Berhasil, Jumlah Spesies Naik Jadi 66

Jumlah Spesies Burung Naik Dua Kali LipatJumlah Spesies Burung Naik Dua Kali Lipat
MENUNJUKKAN: Pegiat konservasi Ruang Literasi Konservasi Desa Banjarmangu, Muhammad Iqbal, saat menunjukkan data infografis beberapa spesies burung yang ada di Desa Banjarmangu

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Upaya konservasi burung di Desa Banjarmangu, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, mulai menunjukkan hasil positif.

Jumlah spesies burung yang berhasil teridentifikasi di wilayah tersebut terus bertambah sejak pendataan dilakukan pada 2018.

Hingga Desember 2025, tercatat sudah ada 66 spesies burung yang ditemukan. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan awal pendataan.

Pada periode 2018 hingga 2019, pegiat konservasi baru menemukan 33 spesies burung.

Kemudian, jumlah tersebut bertambah menjadi 55 spesies pada 2023 sebelum kembali meningkat menjadi 66 spesies hingga akhir 2025.

Pegiat konservasi Ruang Literasi Konservasi Desa Banjarmangu, Muhammad Iqbal, mengatakan peningkatan jumlah spesies tersebut diketahui melalui pemantauan yang dilakukan secara rutin.

Pendataan menjadi bagian dari upaya untuk melihat perkembangan kondisi habitat sekaligus mengetahui jenis burung yang masih bertahan di kawasan tersebut.

“Awal pendataan tahun 2018 sampai 2019 kami menemukan 33 spesies. Kemudian pada 2023 bertambah menjadi 55 spesies, dan terakhir pada Desember 2025 tercatat sudah ada 66 spesies,” ujar Iqbal.

Menurut Iqbal, bertambahnya jumlah spesies burung menjadi salah satu indikator bahwa kondisi habitat di Desa Banjarmangu semakin baik.

Lingkungan yang masih menyediakan sumber makanan, tempat berlindung, hingga lokasi berkembang biak membuat berbagai jenis burung dapat bertahan dan berkembang.

Pendataan burung juga kini dilakukan dengan metode yang lebih sistematis.

Pegiat konservasi menggunakan metode titik pantau atau point count untuk mengidentifikasi keberadaan burung di sejumlah kawasan.

Selain pencatatan secara manual, proses pemantauan juga dibantu aplikasi Avenza Maps dan Merlin Bird ID.

Pemantauan dilakukan di berbagai jenis habitat. Mulai dari kawasan persawahan, permukiman warga, hingga perkebunan menjadi lokasi yang dipantau secara berkala.

Dengan metode tersebut, pegiat konservasi dapat mengetahui perkembangan jumlah serta persebaran spesies burung di Desa Banjarmangu.

Tidak hanya mendata burung yang masih ditemukan, upaya konservasi juga diarahkan untuk menjaga keberadaan jenis burung yang mulai jarang terlihat.

Beberapa di antaranya adalah Anis Merah, Decu atau Kacer Mini, serta Teledekan atau Sikatan Cacing.

Pelestarian habitat menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menanam pohon yang dapat menjadi sumber pakan bagi burung.

Ketersediaan tanaman dan serangga sebagai sumber makanan diharapkan dapat membuat habitat semakin mendukung kehidupan berbagai jenis burung.

Pegiat konservasi juga menggandeng masyarakat, khususnya petani, untuk menjaga ekosistem di sekitar area persawahan.

Salah satu perhatian utama adalah penggunaan pestisida yang dapat berdampak terhadap serangga yang menjadi sumber makanan burung.

“Kami terus mengajak petani mengurangi penyemprotan pestisida agar serangga yang menjadi sumber pakan burung tetap tersedia. Alhamdulillah, sekarang penggunaan pestisida sudah berkurang sekitar 60 persen dibanding sebelumnya,” jelas Iqbal.

Pengurangan penggunaan pestisida dinilai menjadi perkembangan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Ketika jumlah serangga sebagai sumber pakan tetap tersedia, habitat persawahan dapat menjadi tempat yang lebih mendukung keberadaan berbagai jenis burung.

Konservasi burung di Banjarmangu juga tidak hanya menyasar lingkungan. Edukasi kepada generasi muda mulai dilakukan agar kepedulian terhadap alam dapat terus berlanjut.

Melalui Ruang Literasi Konservasi, anak-anak dikenalkan dengan nilai-nilai pelestarian lingkungan melalui berbagai kegiatan.

Materi konservasi disisipkan dalam kegiatan bahasa Inggris, musik, tari, hingga olahraga.

Cara tersebut dilakukan agar pengenalan terhadap lingkungan tidak hanya berlangsung dalam bentuk teori, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

Regenerasi pegiat konservasi menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan ke depan.

Keterlibatan anak-anak dan generasi muda diharapkan dapat menjadi bekal untuk melanjutkan kegiatan pelestarian lingkungan di Desa Banjarmangu.

Iqbal berharap upaya konservasi yang dilakukan di Desa Banjarmangu dapat terus berkembang.

Dengan bertambahnya jumlah spesies burung yang teridentifikasi, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga habitat dan keseimbangan ekosistem.

Peningkatan dari 33 spesies menjadi 66 spesies menjadi catatan positif dalam perjalanan konservasi burung di Banjarmangu.

Namun, keberhasilan tersebut tetap membutuhkan pemantauan dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan agar keberadaan berbagai jenis burung dapat terus dipertahankan.

Ke depan, Desa Banjarmangu diharapkan tidak hanya dikenal sebagai wilayah dengan keanekaragaman burung yang cukup tinggi, tetapi juga menjadi contoh bagi desa lain dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui kolaborasi antara pegiat konservasi, masyarakat, petani, dan generasi muda. (far/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Musim yang Pas Berlibur ke Thailand

Sebelum Liburan ke Thailand, Kenali Waktu Terbaik untuk Hindari Puncak Panas