BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kabupaten Banyumas menghadapi peningkatan kasus penyakit Leptospirosis atau lebih dikenal sebagai kencing tikus. Hingga Juli 2025, tercatat sebanyak 117 warga telah dinyatakan positif terinfeksi penyakit ini.
Meskipun demikian, tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) dari kasus Leptospirosis di Banyumas menunjukkan penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Herni Pusparini, selaku Pengelola Program Penyakit Menular Dinas Kesehatan Banyumas, mengungkapkan bahwa jumlah kasus tahun ini sudah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan data tahun lalu.
“Tahun lalu total kasus ada 77 orang positif dengan enam kematian serta CFR 8,11 persen. Tahun ini, sampai bulan Juli saja sudah ada 117 orang positif dengan enam kematian juga,” ungkap Herni kepada awak media.
Dengan kondisi tersebut, CFR tahun ini diperkirakan hanya sekitar lima persen. Meski angka ini masih tergolong tinggi, penurunan dari angka sebelumnya menunjukkan adanya kemajuan dalam penanganan.
Wilayah Kecamatan Cilongok, khususnya desa yang berada di bawah wilayah kerja Puskesmas Cilongok I, mencatatkan jumlah kasus tertinggi. Sejak tahun 2019, daerah ini telah menjadi lokus penelitian untuk Leptospirosis.
“Petugas kesehatan di sini sudah terbiasa menghadapi penyakit ini. Mereka bisa lebih cepat mengenali gejala yang mengarah ke Leptospirosis,” jelas Herni lebih lanjut.
Sementara itu, mengenai kehadiran tim survei dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Salatiga seperti yang terjadi tahun lalu belum ada konfirmasi lebih lanjut.
Herni menjelaskan bahwa pada tahun sebelumnya, Tim BRIN Salatiga turun langsung ke Desa Kalisalak, Kebasen untuk melakukan penelitian mendalam terkait penyebaran penyakit ini.
Namun hingga saat ini belum ada informasi apakah kegiatan serupa akan dilakukan kembali tahun ini.
Sebagai informasi umum bagi masyarakat, Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yang sering kali dibawa oleh tikus dan dapat menular ke manusia melalui kontak dengan air yang telah terkontaminasi urin hewan tersebut atau melalui luka terbuka pada kulit.
Mengingat musim hujan telah tiba yang mana kondisi lingkungan menjadi lebih lembab dan berpotensi meningkatkan penyebaran bakteri tersebut, masyarakat diminta untuk tetap waspada.
Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas terus mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan serta menggunakan pelindung seperti sepatu boot karet ketika beraktivitas di area persawahan atau sungai guna menghindari kontak langsung dengan sumber potensi infeksi tersebut.
Langkah-langkah preventif ini dirasa penting agar penyebaran penyakit tidak semakin meluas.
Selain itu, upaya lain seperti pemasangan perangkap tikus di pekarangan rumah juga dinilai efektif untuk menekan populasi tikus yang menjadi salah satu sumber utama penyebaran bakteri Leptospira di lingkungan sekitar.
Banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan kasus Leptospirosis di wilayah Banyumas. Kondisi geografis dan iklim setempat yang cenderung lembab selama musim hujan menciptakan lingkungan yang ideal bagi berkembangnya bakteri tersebut.
Oleh karena itu, selain langkah preventif dari pemerintah daerah dan tenaga kesehatan setempat, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sangatlah krusial dalam menekan angka penyebaran penyakit.
Dalam beberapa tahun terakhir, upaya edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya Leptospirosis dan cara pencegahannya terus digencarkan oleh berbagai pihak terkait termasuk tim kesehatan lokal dan pemerintah setempat.
Kampanye kesadaran publik seperti sosialisasi penggunaan alat pelindung diri saat bekerja di sektor pertanian atau kegiatan outdoor lainnya turut dilakukan guna meminimalisir risiko infeksi.
Pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat juga menjadi kunci dalam menangani situasi darurat kesehatan seperti wabah Leptospirosis ini.
Dengan adanya dukungan penuh dari semua lapisan masyarakat serta langkah-langkah strategis dari pihak berwenang diharapkan dapat menekan angka kejadian serta meningkatkan kualitas kesehatan publik di Kabupaten Banyumas.
Kedepannya diperlukan penelitian lanjutan guna memahami pola penyebaran bakteri Leptospira secara lebih mendalam sehingga dapat ditemukan metode pencegahan yang lebih efektif lagi dalam menangani masalah kesehatan serius seperti ini khususnya bagi penduduk daerah rawan endemik seperti Kecamatan Cilongok. (yda/stch)
















