Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kemenkes Larang Biskuit dan Snack Instan di Program MBG Sekolah untuk Cegah Keracunan

Sppg dilarang sajikan snack dalam kemasanSppg dilarang sajikan snack dalam kemasan
Program makan bergizi anak sekolah

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Dalam upaya meningkatkan kualitas dan keamanan pangan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kini memperketat pengawasan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program ini menjadi sorotan setelah ditemukan adanya praktik penggantian menu utama dengan makanan kering instan seperti snack kemasan dan biskuit.

Wakil Menteri Kesehatan, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K), menyatakan bahwa makanan yang disajikan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) haruslah dimasak segar dan berproses.

Pernyataan tegas dari Wamenkes Benjamin muncul setelah beberapa laporan menunjukkan peningkatan kasus keracunan pangan di berbagai kabupaten.

“Saya setuju bahwa dari Kementerian Kesehatan, masyarakat harus diberikan makanan yang dimasak. Karena makanan yang berproses dan dimasak itu jauh lebih baik untuk kesehatan penerima manfaat dibanding kita pakai biskuit atau makanan kering lain,” ungkap Wamenkes Benjamin saat temu media di Gedung Kemenkes, Jakarta.

Kementerian Kesehatan menekankan bahwa filosofi Program MBG adalah memberikan asupan gizi optimal sambil memberdayakan ekonomi lokal.

Hal ini sangat kontras dengan penggunaan makanan instan yang sering kali tidak memenuhi standar gizi seimbang.

Makanan yang dimasak segar dinilai lebih aman dari risiko kontaminasi dan memungkinkan kontrol lebih baik terhadap kandungan nutrisinya sesuai pedoman gizi seimbang.

Keputusan untuk memperketat pengawasan ini bukan tanpa alasan. Kasus keracunan pangan dalam program MBG sempat mencapai angka fluktuatif, dengan catatan tertinggi 439 kasus di delapan kabupaten.

Target “zero case” atau nol kasus keracunan menjadi fokus utama Kemenkes ke depan.

Wamenkes Benjamin menjelaskan bahwa beberapa SPPG beralih ke makanan kering karena kendala operasional seperti keterbatasan waktu atau belum memadainya fasilitas dapur.

Namun, alasan-alasan tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran untuk mengesampingkan kualitas dan keamanan pangan.

“Target kita ya harus zero, tidak boleh ada orang keracunan. Makanan yang dimasak itu kualitasnya lebih aman dibanding kita pakai biskuit atau makanan kering lain,” tegasnya.

Untuk mendukung tercapainya tujuan ini, Kemenkes telah mengambil sejumlah langkah konkret.

Salah satunya adalah menerbitkan Surat Edaran (SE) yang mendorong percepatan penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi dapur-dapur SPPG.

Langkah ini bertujuan agar setiap dapur memiliki standar kebersihan dan sanitasi yang layak sehingga dapat mengurangi risiko kontaminasi pada makanan yang disajikan.

Selain itu, Wamenkes Benjamin juga mengusulkan agar dapur MBG berada di bawah pengawasan Ahli Kesehatan Lingkungan.

Pengawasan ini dianggap penting untuk memastikan kondisi dan praktik memasak sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku.

Dengan demikian, program ini diharapkan tidak hanya menyehatkan penerima manfaat tetapi juga mendukung Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal melalui penggunaan bahan baku segar.

Dukungan terhadap UMKM lokal menjadi salah satu poin penting dalam strategi ini.

Dengan membeli bahan baku segar dari petani dan produsen lokal, program MBG dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat sekaligus memastikan kualitas bahan baku tetap terjaga.

Kembali ke esensi awal dari program ini, yaitu menyajikan makanan utuh yang dimasak dengan benar serta aman bagi peningkatan kualitas gizi anak-anak Indonesia, langkah pengetatan oleh Kemenkes diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan publik terhadap efektivitas Program Makan Bergizi Gratis.

Program ini juga bertujuan untuk memberikan contoh kepada masyarakat tentang pentingnya penyediaan makanan sehat di lingkungan sekolah maupun di rumah tangga sehari-hari.

Melalui program ini, anak-anak diharapkan dapat lebih memahami nilai dari pola makan sehat sejak dini sehingga dapat diterapkan hingga dewasa nanti.

Di tengah upaya perbaikan kualitas program MBG ini, partisipasi aktif dari seluruh pihak terkait sangat dibutuhkan guna mencapai hasil maksimal sesuai harapan bersama: generasi muda Indonesia yang sehat serta cerdas secara fisik maupun intelektual. (*/dda)

Berita Sebelumnya
Program kip kuliah mandiri pts 2025 akan segera berakhir. pendaftaran beasiswa ini ditutup pada 31 oktober 2025

Segera Daftar! KIP Kuliah Mandiri PTS Tutup 31 Oktober 2025

Berita Selanjutnya
Kader ansor tidak hanya terpaku pada kerja administratif

GP Ansor Kebumen Ajak Generasi Muda Tegakkan Nilai Islam Sosial Lewat Festival Rebana